Gegar Komunikasi Lintas Generasi

Oleh: Noveri Maulana M.M. – Faculty Member of PPM School of Management

Noveri Maulana M.M., Faculty Member PPM School of Management

Acapkali pemicu sebuah masalah di tempat kerja disebabkan oleh gaya komunikasi yang berbeda antar generasi. Ya, tidak bisa dipungkiri, dunia kerja saat ini didominasi oleh angkatan yang terpaut jarak generasi.

Sebut saja Generasi X berhadapan dengan Generasi Millennial, atau bahkan di beberapa perusahaan, Generasi Baby Boomers masih mendominasi pekerjaan. Tak ayal, perbedaan gaya komunikasi di tempat kerja menjadi isu yang tak berkesudahan.

Gegar budaya dalam komunikasi sudah menjadi satu hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan adalah keniscayaan yang tak dapat dihindari. Namun, perbedaan bukanlah persoalan melulu dipertentangkan, tapi musti dipersatukan. Begitu pun dalam berkomunikasi, perbedaan budaya dan jarak antar generasi bukanlah alasan untuk tidak bisa berinteraksi.

Pakar komunikasi Indonesia, Prof. Deddy Mulyana mengungkapkan bahwa faktor lingkungan dan budaya sangat erat pengaruhnya dalam gaya berkomunikasi. Menurut Deddy, dalam ilmu komunikasi dibutuhkan kesamaan persepsi atas pesan yang disampaikan. komunikasi bukan sekadar mengirimkan simbol yang bermakna, tapi komunikasi adalah interaksi yang memiliki kesamaan interpretasi atas pesan yang disampaikan. Oleh karena itu, kesamaan persepsi sangat dibutuhkan.

Di sinilah masalah bermula, ketika jarak generasi memunculkan jurang pemisah kesamaan persepsi. Interaksi yang dibangun bukan lagi untuk saling memahami interpretasi, tapi kadang menggiring opini dengan multiasumsi.

Pekerja senior sering memandang karyawan baru sebagai anak ingusan yang belum tahu apa-apa. Pun sebaliknya, karyawan muda sering memandang senior sebagai orang lama yang membosankan. Persepsi sudah dibangun bahkan jauh sebelum berinteraksi. Akhirnya, gap komunikasi semakin jauh terbentang di antara mereka. Lingkungan kerja mulai tak nyaman, kinerja semakin tak karuan, hingga kompetisi tercipta untuk saling menjatuhkan.

Tak jarang kita temui saat ini orang berinteraksi hanya untuk mempertajam perbedaan opini, mempertegas egoisme pribadi, dan memperjuangkan interpretasi sendiri tanpa membuka ruang diskusi. Gegar komunikasi seakan menjadi hal lumrah yang harus dilakoni. Kadang kita jenuh dengan kondisi media sosial yang mempertontonkan gegar komunikasi yang tak berkesudahan.

Interaksi yang tak baik sering terjadi dalam lingkungan terkecil kita. Entah itu dalam dunia kerja, rekan dan pertemanan, atau bahkan dalam keluarga. Dan malangnya, komunikasi menjadi tersangka yang seringkali hadir dalam setiap masalah itu.

Menyamakan persepsi dalam memaknai pesan komunikasi bukanlah perkara mudah, tapi bukan pula persoalan yang susah. Persepsi dibentuk oleh faktor internal dari dalam diri pelaku komunikasi. Pun begitu, persepsi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang erat kaitannya dengan lingkungan yang dijalani.

Faktor pengetahuan (cognitive), sifat (affective), dan perilaku (Behavior) dari dalam diri seseorang juga memengaruhi persepsi yang ia lahirkan. Tapi tak hanya itu, stimuli yang berasal dari lingkungan eksternal juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam menentukan persepsi berkomunikasi. Perpaduan kedua faktor ini lah yang akan melahirkan persepsi yang akan diinterpretasi oleh masing-masing individu yang terlibat dalam proses komunikasi.

Agar tak terkena dampak gegar komunikasi

Stimuli atau kesan dalam komunikasi bisa berasal dari penyusunan pesan atau pemilihan channel penyampaian. Kesalahan dalam penyusunan pesan maupun pemilihannya akan bisa menyesatkan persepsi lawan komunikasi. Oleh karena itu, keseriusan pengelolaan pesan dan channel sangat perlu diperhatikan.

Pesan yang baik harus dirangkai dalam konten yang baik pula. Isi pesan bisa berupa verbal maupun non-verbal, tertulis atau tersampaikan dengan seluruh indra. Pesan yang baik jika disusun dengan konten yang kurang baik, justru akan menghasilkan persepsi yang tidak baik, pun berlaku sebaliknya. Di sinilah sisi gelap komunikasi yang bisa menjadi alat propaganda, atau bahkan jadi alat tipu muslihat.

Stimuli positif yang diberikan harus tergambar dengan jelas dalam rangkaian pesan sebagai konten dan pemilihan saran komunikasi sebagai channel. Jika pemilihan keduanya sudah dilakukan dengan baik dan tepat, maka gegar komunikasi bisa diminimalkan.

Menghindari gegar komunikasi, kita juga harus mampu bersikap aktif dalam memahami lingkungan sekitar. Komunikasi bukan hanya membaca apa yang tersurat, tapi juga mampu memaknai yang tersirat. Dan dalam proses memaknai inilah, faktor internal dan eksternal sangat berpengaruh.

Faktor internal terkait sikap, perilaku, dan pemahaman atas nilai tertentu. Sedangkan faktor eksternal terkait kebiasaan, tradisi, atau gaya hidup lingkungan sekitar tempat kita berinteraksi.

Semakin peka dengan lingkungan komunikasi, akan semakin baik pemahaman atas stimuli. Jadi, jika kita masih sering menghadapi persoalan ‘mis-komunikasi’, maka pemahaman atas stimuli masih perlu dipertajam dan ditingkatkan.

Hal lain yang perlu diperhatikan agar terhindar dari dampak gegar komunikasi ialah terkait empati. Sikap dan pemahaman atas orang lain merupakan inti dari empati. Maka, upaya saling mengerti dan memahami antar lintas generasi menjadi hal penting yang senantiasa perlu ditingkatkan. Tak jarang kita mengalami gegar komunikasi hanya karena tidak mau berempati dengan lawan bicara. Seringkali kita melihat siapa yang bicara bukan apa yang dibicarakan. Maka berhati-hatilah, pemahaman ini yang akan menjebak kita dalam gegar komunikasi yang berkepanjangan.

Setidaknya tiga hal di atas bisa meminimalisir dampak gegar komunikasi yang kita hadapi sehari-hari, terutama di tempat kerja. Perkara komunikasi memang tak akan pernah selalu bisa diatasi. Dampaknya dinamis, akan berubah seiring pergantian tradisi. Namun, gegar komunikasi bisa diantisipasi dengan upaya dan niat baik untuk saling memahami.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)