Gen Z: Generasi Terbaru dengan DNA Digital

Oleh: Hellen Katherina, Executive Director, Head of Media Business Nielsen Indonesia

Siapakah Generasi Z? Sebagian di antara mereka masih berada di kelompok pendidikan anak usia dini yang tumbuh di era Upin & Ipin atau Elsa “Frozen”. Mereka yang lebih dewasa pernah menikmati tren High School Musical atau Hannah Montana di pertengahan tahun 2000an.

Terlahir pada pertengahan tahun 1990an hingga 2010, Gen Z, yang berusia sekitar 5-19 tahun, belakangan sering disebut-sebut oleh para pemasar sebagai hal besar berikutnya setelah Generasi Milenial. Dengan anggota tertua dari kelompok ini berada di tahun-tahun awal perkuliahan, mereka potensial menjadi insan muda yang berpengaruh dominan di masa depan, baik dalam hal opini maupun daya beli. Sementara anggota termuda dari generasi ini telah cakap teknologi, meski belum memasuki usia sekolah dasar. Mereka adalah generasi yang sudah mengenal layar sentuh bahkan sebelum mereka bisa berjalan.

Dengan menyumbang 27% atau sekitar 69 juta orang (berdasarkan Susenas 2015) terhadap populasi penduduk Indonesia, jumlah mereka melampaui para Milenial yang berusia 20-34 tahun (24%) dan Gen X yang berusia 35-49 tahun (21%). Pada umumnya, Gen Z adalah anak-anak dari Gen X, walaupun ada juga yang orangtuanya berasal dari Generasi Milenial. Dengan jumlah yang besar, Gen Z merupakan konsumen masa depan yang sangat potensial.

Hellen Katherina Hellen Katherina, Executive Director, Head of Media Business Nielsen Indonesia

Hal pertama yang terlintas di kepala saat berbicara mengenai Gen Z adalah teknologi. Berdasarkan survei Nielsen di 11 kota besar di Indonesia, 68% dari remaja usia 15-19 menilai bahwa merangkul teknologi merupakan kunci untuk kesuksesan mereka di masa depan. Generasi Milenial selalu dikaitkan dengan teknologi, namun keterkaitan ini semakin erat pada Gen Z. Sebagai generasi digital, Milenial besar di era tablet, sedangkan Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh di era ponsel cerdas. 58% dari remaja yang disurvei telah memiliki ponsel cerdas, lebih tinggi dari kepemilikan ponsel cerdas pada populasi umum yang sebesar 35%. Bahkan 24% dari anak-anak (usia 10-14 tahun) juga sudah memiliki ponsel cerdas. Tidak dapat dipungkiri, keseharian mereka sangat dekat dengan gadget, internet dan media sosial. Mereka adalah generasi muda yang tumbuh besar di era media sosial, seperti Facebook, Twitter, YouTube, Snapchat dan Instagram. Mereka tidak pernah tahu dunia tanpa internet dan tidak dapat membayangkan masa-masa sebelum kehadiran media sosial.

Revolusi digital terjadi di tahun-tahun awal kehidupan Gen Z. Saat di mana Generasi Milenial sudah memasuki jenjang pendidikan menengah dan tinggi. Gen Z inilah yang kemudian menjadi generasi asli digital yang pertama. Sejak kecil, mereka sudah hidup berdampingan dengan teknologi dan akrab dengan perangkat komunikasi bergerak. Mereka lahir dengan DNA digital dan dibesarkan dengan menggunakan lima jenis layar, yaitu ponsel cerdas, desktop, laptop, tablet dan TV untuk berkomunikasi dan mencerna informasi secara instan, namun perhatian mereka juga mudah terpecah pada saat yang sama.

Internet telah dikenal oleh Gen Z sejak usia yang masih sangat muda. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, 45% dari anak-anak usia 10-14 tahun telah memiliki akses ke internet atau naik dari 40%. Sementara di kalangan remaja, 81% di antara mereka telah terkoneksi dengan dunia maya atau naik dari 60%. Interaksi remaja dengan internet juga lebih tinggi daripada Generasi Milenial yang hanya 56% atau naik dari 27% dalam tiga tahun. Akses internet di rumah pun semakin meningkat seiring dengan kemudahan akses berlangganan internet.  Saat ini, 62% remaja dan 49% anak-anak mengakses internet di rumah. Dengan kepemilikan ponsel cerdas yang tinggi, akses internet melalui ponsel cerdas pun dilakukan oleh empat dari lima remaja dan tujuh dari 10 anak-anak. Selain untuk mengakses internet dan berkirim pesan, Gen Z juga memanfaatkan teknologi ponsel cerdas untuk memotret, mendengarkan musik dan bermain games.

Anggota Gen Z sangat nyaman dengan teknologi dan berinteraksi dengan media sosial untuk bersosialisasi. Setiap harinya, remaja menggunakan Internet rata-rata 2,5 jam per hari atau lebih lama satu jam dibandingkan anak-anak. Sebanyak 75% remaja mengakses internet setiap hari, dibanding 47% rekan mereka yang masih anak-anak. Bersosialisasi melalui jejaring sosial masih menjadi aktivitas utama generasi muda ini saat terkoneksi dengan internet. Selain itu, mereka juga senang menjelajah internet, bermain games, mendengarkan musik, bahkan menggunakan internet sebagai sumber edukasi.

Sebagai generasi yang melek digital, mereka mungkin terlihat mirip dengan Generasi Milenial, namun sebenarnya mereka berbeda. Sementara para Milenial masih memasang swafoto mereka di Facebook seperti halnya Gen X, Gen Z memilih platform yang lebih instan, seperti Snapchat atau Instagram Stories, di mana imaji akan hilang hanya dalam periode waktu yang singkat. Jika Milenial mengedit foto dan video mereka sebelum dipajang di media sosial supaya mendapat sebanyak-banyaknya “suka” dan komentar, Gen Z sangat menikmati berbagi cerita melalui sudut pandang mereka di Snapchat di mana video mereka hanya bertahan selama 24 jam sebelum hilang untuk selamanya dan berganti dengan cerita lain di hari-hari berikutnya.

Dibandingkan generasi yang lebih tua, Gen Z juga mampu melakukan berbagai kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Mereka bisa saja merekam video, mengedit dan memajangnya di Snapchat, sambil berkirim pesan dengan teman-temannya di Instagram, lalu secepat kilat sudah asyik menonton video di YouTube melalui perangkat komunikasi yang memiliki antarmuka yang mudah digunakan. Tentu saja, semuanya berhubungan dengan dunia maya. Mereka mengolah dan mengambil informasi secara instan, dan mudah kehilangan ketertarikan. Gaya berkomunikasi Gen Z cenderung ringkas dan cepat, sehingga kunci untuk memenangkan hati mereka adalah mendengarkan dan merespon mereka dengan cepat juga.

Gen Z juga memiliki pengaruh yang cukup kuat di dalam keluarga. Opini mereka penting saat memutuskan pembelian sesuatu. Hampir tujuh dari 10 remaja memiliki pengaruh di dalam keluarga saat memutuskan untuk berlibur, sedangkan hanya satu dari dua anak-anak yang berpengaruh di dalam memutuskan liburan keluarga. Remaja juga berpengaruh besar dalam pembelian barang-barang elektronik keluarga, dengan tiga dari lima orang memiliki pengaruh tersebut. Kedekatan dengan media sosial juga menjadikan mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi merek melalui media sosial. Iklan menjadi cara untuk mempelajari tentang produk baru bagi 66% remaja dibandingkan dengan 57% dari populasi umum.  Sebanyak satu dari dua remaja bahkan melihat iklan yang mereka anggap bagus dapat mendorong mereka untuk membeli produk tersebut, padahal hanya dua dari lima orang pada populasi umum yang berpikir demikian.

Dalam beberapa tahun ke depan, anggota tertua dari Gen Z akan memasuki dunia kerja. Bagi mereka, yang saat ini masih berada di jenjang pendidikan menengah dan tinggi, penampilan sangat penting. 67% di antara mereka menganggap, penampilan yang atraktif penting untuk menarik perhatian lawan jenis dan 63% di antara mereka mengatakan, menggunakan pakaian yang menarik meningkatkan rasa percaya diri mereka. Jika perilaku mereka dapat dipahami dengan baik, Gen Z dapat menjadi titik masuk merek dari produk-produk fesyen atau perawatan diri, seperti krim cukur, perawatan kulit, kosmetik, dan sebagainya sebelum pada akhirnya mereka menjadi konsumen dari produk-produk tersebut.

Mereka tidak hanya akan memiliki opini yang berpengaruh, tetapi juga daya beli, sehingga menjadi penting bagi para pemasar, pemilik merek bahkan pemilik media untuk mengenali ketertarikan dan perilaku mereka sejak dini. Pemasar, pemilik merek dan media perlu bersiap-siap untuk menangkap peluang yang menarik ini karena Gen Z akan menjadi kelompok konsumen yang dominan di masa mendatang.*

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)