Green Business to Green Accounting

Isu mengenai pencemaran lingkungan oleh dunia industri menjadi perhatian khusus Kementerian Lingkungan Hidup. Dalam laporannya Kementerian Lingkungan Hidup mengumumkan bahwa setidaknya ada 21 perusahaan yang masuk dalam “Daftar Hitam” pencemaraan lingkungan selama tahun 2014-2015 (CNN Indonesia, 21 Desember 2015). Pelanggaran yang dilakukan oleh ke-21 perusahaan tersebut mencakup tidak lolosnya dokumen lingkungan, pencemaran air, pencemaran udara, dan perusakan lahan sekitar.

Salah satu kasus pencemaran lingkungan terbesar pada tahun 2014 adalah pencemaran air di sepanjang kawasan tanah laut hingga kota baru di Kalimantan Selatan, akibat pembukaan kolam limbah tambang batu bara milik perusahaan-perusahaan swasta. Dampak pencemaran yang ditimbulkan berupa pepohonan mati mengering, kolam berwarna-warni, serta lubang-lubang tambang yang menimbulkan kebocoran dan akhirnya mengalir mencemari sungai.

Martdian Ratna Sari S.E, M.Sc – Faculty Member PPM School of Management Martdian Ratna Sari S.E, M.Sc – Faculty Member PPM School of Management

Pencemaran lingkungan ini tidak terkungkung pada aspek lingkungan hidup saja tetapi dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti aspek pelaporan akuntansi lingkungan, karena pada dasarnya pemerintah telah mengesahkan UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas khususnya pada pasal 66 dan pasal 74 mengenai tanggungjawab sosial dan lingkungan.

Pada UU No.40 tahun 2007 dijelaskan bahwa perseroan terbatas yang bergerak dalam bidang usaha atau kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan (pasal 77) dan semua perseroan terbatas wajib menyajikan informasi kinerja tanggung jawab sosial dan lingkungan dalam Laporan Tahunan Direksi pada saat RUPS (pasal 66). UU No.40 Tahun 2007 tersebut didukung dengan PerPem No.47 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan (TJSLP) yang mulai tahun 2012 hal tersebut sudah menjadi kewajiban perseroan.

Pertanyaan besarnya adalah, ketika sudah ada beberapa kasus pencemaran lingkungan oleh perusahaan atau industri dan terlebih lagi sudah ada undang-undang yang mengaturnya, maka seberapa besar perusahaan-perusahaan tersebut bertindak?

Kepedulian perusahaan akan lingkungan dan masyarakat sekitar yang biasa kita sebut sebagai corporate social responsibility (CSR) dapat diartikan sangat luas. Namun, secara singkat, kepedulian tersebut dapat dipahami sebagai tindakan perusahaan dalam membuat keseimbangan antar pemangku kepentingan.

World Business Council for Sustainable Development mendefinisikan CSR sebagai suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya.

Sebagai contoh, perusahaan besar PT Samsung Electronics Indonesia mengusung program CSR Asah Diri di Rumah Belajar, yang memfokuskan pada bidang pendidikan dengan mendirikan rumah belajar bagi remaja yang kurang beruntung meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal serupa juga dilakukan oleh PT Lippo Cikarang Tbk yang membangun kebun bibit mandiri untuk mengakomodasi kebutuhan pohon diseluruh kawasan Lippo Cikarang dengan harapan dapat mengurangi emisi karbon.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)