HUT 495 Tahun Jakarta: Kekuatan Modal Sosial dalam Pembangunan

Oleh: Dewa Gde Satrya, Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya

Dewa Gde Satrya

Tumbuhnya toleransi menandai perayaan Jakarta ke-495 tahun pada Rabu (22/6). Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta bermakna strategis bagi Indonesia, tidak hanya Jakarta. Terowongan bawah tanah yang menghubungkan dua tempat peribadatan ini dibangun sepanjang 33,8 meter dan memiliki luas sebesar 339,97 meter persegi.

Pembangunan Terowongan Silaturahmi, yang juga diiringi dengan renovasi Masjid Istiqlal, menumbuhkan harapan akan toleransi yang semakin tersemai dan kokoh di Tanah Air. Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral memperkuat citra sebagai ibu kota negara dan sebagai destinasi wisata. Sebagai ‘wajah negara’, Jakarta tak hanya harus maju dalam hal peradaban di berbagai sektor, utamanya sektor transportasi dan pariwisata, namun juga maju dalam peradaban dengan fondasi pentingnya silaturahmi dan komunikasi antar warga bangsa. Karena itu, Terowongan Silaturahmi ini tak hanya dimaknai sebagai pembangunan aspek fisik, namun juga aspek non-fisik, yang menumbuhkan kecintaan antar warga bangsa. Tumbuhnya rasa cinta sebagai saudara sebangsa, akan memaknai dan menguatkan pembangunan fisik yang massif dan terus dilakukan di Jakarta, ditandai melalui fasilitas transportasi publik modern, seperti MRT, yang tiga tahun lalu.

Bila MRT yang menjadi penanda kemajuan sektor transportasi mempercepat akses antar wilayah di Jakarta dan meningkatkan aktivitas city tour, maka Terowongan Silaturahmi akan membuka kebuntuan komunikasi relung hati yang tersekat-sekat karena prasangka, iri hati dan perbedaan agama serta keyakinan. Hal itu akan memperkuat modal sosial, yang menjadi pondasi pembangunan perekonomian bangsa. Terowongan Silaturahmi jelas akan mengingatkan kita sebagai saudara sebangsa yang saling mendukung satu dengan yang lain.

Robert Putnam menjabarkan modal sosial sebagai seperangkat asosiasi antar manusia yang bersifat horisontal yang mencakup jaringan dan norma bersama yang berpengaruh terhadap produktivitas suatu masyarakat. Modal sosial meliputi hubungan sosial, norma sosial, dan kepercayaan (Putnam 1995). Modal sosial juga diartikan sebagai serangkaian nilai atau norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama.

Sebagai ibukota negara, Jakarta menjadi etalase dan cerminan negara. Tak hanya soal infrastruktur serta pembangunan fisik yang masif, yang umum menjadi wajah ibukota negara, tetapi jati diri yang mewujud dalam sikap hidup keseharianlah yang teramat penting merepresentasikan harkat martabat sebagai bangsa.

Pada peresmian Moda Raya Terpadu (MRT) pertengahan Maret tiga tahun lalu, Presiden Jokowi menyatakan perlunya seluruh masyarakat membangun peradaban baru, mulai dari mengantri, bagaimana masuk ke MRT dan tidak terlambat, tidak terjepit pintu. Pun halnya dengan adanya Terowongan Silaturahmi ini membuka tali silaturahmi melalui perjumpaan dan komunikasi di terowongan bawah tanah yang menghubungkan dua ikon tempat ibadah bernilai sejarah tinggi di Indonesia ini. Pernyataan kepala negara tersebut seakan mengingatkan betapa membangun peradaban baru tersebut tidaklah mudah, khususnya menyangkut pembiasaan perilaku-perilaku baru di masyarakat. 

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)