Industri Manufaktur Harus Agile

Oleh: Ricky Virona MartonoCore Faculty PPM School of Management

Ricky Virona Martono

Peningkatkan produktivitas berbagai negara tentunya menarik perhatian berbagai perusahaan multinasional untuk mendistribusikan lokasi produksinya. Di sisi lain, lokasi produksi yang menyebar turut menurunkan dampak dari risiko produksi dan supply chain. Alhasil negara lokasi produksi harus terus meningkatkan produktivitas tenaga kerjanya agar dapat bersaing dengan tenaga kerja dari negara lokasi produksi lain.

Kondisi di atas tidak berjalan sendirian karena dampak dari produksi dan konsumsi lintas negara turut meningkatkan perekonomian. Dengan meningkatnya kemakmuran masyarakat maka daya beli masyarakat ikut naik, begitu juga tuntutan masyarakat dari produk yang mereka beli.

Konsumen semakin menuntut produk yang customized (bervariasi), unik, sesuai kebutuhan individu, kualitas baik, waktu pengiriman cepat, dan harga bersaing. Kondisi ini pada akhirnya menuntut produksi dan manufaktur untuk tidak hanya efektif dan efisien, namun juga fleksibel dalam menghasilkan produk yang diinginkan konsumen.

Dengan kata lain, perusahaan dituntut menjadi Agile, yaitu fleksibel dalam mengantisipasi dinamika permintaan (demand) konsumen dan fleksibel dalam menyediakan produk yang diinginkan konsumen. Untuk mencapai Agile, tentunya perlu didukung oleh tenaga kerja yang produktif.

Berikut ini adalah enam (6) kondisi yang mendorong tuntutan menjadi Agile, beserta strategi yang dapat dilakukan untuk menyiasati kondisi tersebut:

  1. Masyarakat semakin beragam, tingkat kesejahteraan meningkat, tuntutan produk semakin bervariasi dan dalam jumlah sesuai yang diminta oleh konsumen saja.

a. Menyebabkan volatilitas demand yang tinggi

Kondisi ini menuntut tenaga kerja dan mesin yang fleksibel dan multiskill, integrasi dan kolaborasi supply chain. Tenaga kerja perlu dikembangkan melalui program pelatihan. Mesin perlu pengawasan perawatan (maintenance) yang lebih disiplin.

b. Di sisi lain, dengan tingkat produksi yang bervariasi dan jumlah sedikit, maka waktu produksi lebih pendek (meningkatkan change over time), berpotensi meningkatkan buffer inventory, pengiriman dari supplier pun lebih sedikit. Dengan demikian, cost per unit menjadi lebih mahal. Maka perlu fokus pada kondisi industri dan produk untuk mempersiapkan sistem small-lot manufacturing.

c. Demand Forecast mutlak harus lebih akurat, mampu mendeteksi real-time demand, supply, dan eksekusi yang tepat dalam antisipasi setiap isu yang muncul.

d. Peluang untuk membuka pasar yang baru karena potensi menjual produk unik di beberapa lokasi (bahkan, negara) yang berbeda.

  1. Strategi product design, produksi, inventori, dan distribusi harus berubah berdasarkan order driven environment.

2. Perlu data dan kolaborasi yang menyeluruh dalam menyediakan produk sesuai jumlah dan jenis permintaan konsumen (saja). Sejak tahap desain produk sampai dengan distribusi, semua pihak harus berkolaborasi dalam memantau permintaan konsumen dan dinamika dari permintaan itu di masa depan. Jumlah yang diproduksi pun tidak lagi selalu massal.

3. Perkembangan dan akses Teknologi.

Teknologi yang semakin canggih dan akses teknologi yang semakin luas bagi masyarakat mendorong perdagangan berbasis elektronik (e-commerce). Kondisi ini menuntut demand yang unik untuk setiap konsumen dengan jumlah dan harga sesuai yang diharapkan setiap konsumen. Disini perlu adanya strategi meningkatkan customer experience, seperti pelayanan konsumen, program royalti seperti bonus, feedback dan komunikasi yang baik bagi konsumen dan penjual, dan keamanan data konsumen. Di belakang semua ini, perlu dukungan penyedia jasa logistik yang kompetitif.

4. Lokasi produksi dan penjualan semakin mengglobal.

Kondisi ini disebabkan oleh competitive advantage sebuah negara yang menyediakan biaya tenaga kerja murah dan mengurangi risiko supply chain (ketika terjadi gangguan pasokan di sebuah lokasi atau negara, maka lokasi atau negara lain dapat mengisi kekurangan pasokan yang terhambat). Untuk bisa menangkap peluang ini, setiap negara dituntut untuk meningkatkan produktivitas dan keterampilan tenaga kerjanya agar setara dengan yang disyaratkan produsen dan penyedia jasa logistik dari negara lain. Dengan kata lain, ada International Standard yang harus dipenuhi. Namun, ketika sebuah negara atau perusahaan mampu memenuhi persyaratan ini, maka membuka peluang kolaborasi dengan produsen, perusahaan, atau penyedia jasa logistik yang lain.

5. Quality Performance, Speed, dan Price.

Perusahaan dituntut untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang disyaratkan konsumen, mengirim produk dalam waktu cepat, dan harga yang bersaing di pasar. Salah satu hambatan pada kondisi pertama adalah risiko biaya produksi per unit yang tinggi, namun harus disiasati agar produk akhir yang dijual tetap dalam harga yang bersaing. Strategi yang dapat digunakan adalah mendesain bahan mentah untuk digunakan ke beberapa produk akhir, peningkatan produktivitas dengan teknologi, memperluas potensi pasar, horizontal dan/atau vertical integration di dalam rantai pasoknya (supply chain). Tujuannya untuk menyediakan alternatif produk pelengkap bagi konsumen dan perencanaan penjadwalan produksi yang efektif.

6. Green Manufacturing and Sustainability.

Tuntutan global mengarah kepada value added yang mendukung ketahanan daya dukung lingkungan. Maka, sejak pada tahap product design, kita dituntut untuk mempertimbangkan material yang digunakan agar dapat diolah agar ramah lingkungan, bahkan sedapat mungkin untuk dimanfaatkan kembali untuk produksi berikutnya.

Sehingga kita dapat melihat bahwa tuntutan Agile adalah bentuk perubahan dari cara pandang focus on efficiency menjadi value creation bagi pasar, lalu sustainable bagi lingkungan, dan sekarang menyediakan personal customer experience bagi konsumen.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)