Integrasi Rantai Pasok Obat yang Unggul

Oleh: Puput Suwastika, M.M. – Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen

Supply Chain Puput Suwastika, M.M. Trainer, Jasa Pengembangan

Ketahanan ketersediaan obat-obatan berkualitas di Indonesia sempat tergoncang pada 2016 silam. Sejumlah kasus muncul, diawali dengan penyebaran vaksin palsu di sejumlah rumah sakit dan obat-obatan palsu di beberapa pusat distribusi. Pemberitaan muncul dan tidak terbendung. Kejadian serupa tidak saja menerpa Industri Obat di Indonesia. Beberapa negara di dunia-pun tak luput terserang wabah yang sama.

Dari hasil kompilasi beberapa peliputan media, diketahui beberapa kasus serupa. Pada tahun 2009, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan terdapat 34 juta tablet obat-obatan palsu telah dibawa keluar dari peredaran di Eropa hanya dalam jangka waktu dua bulan. Pada tahun 2010 lebih dari 44,000 pasien meninggal setiap tahunnya di Amerika Serikat disebabkan oleh kesalahan penanganan klinis, dan 7,000 pasien di antaranya karena kesalahan pengobatan. Ada lebih dari 120.000 orang per tahun meninggal di Afrika sebagai akibat dari obat anti-malaria palsu, menurut pengakuan dan data WHO, obat-obatan tersebut tidak mengandung bahan aktif sama sekali yang diperlukan untuk penangkal malaria.

Wabah obat-obatan palsu ini menjadi masalah besar dan sistemik di beberapa negara berkembang di dunia. Di Afrika, dan sebagian Asia, serta Amerika Latin, proporsi obat-obatan palsu diperkirakan telah mencapai porsi 30 persen dari keseluruhan sebaran obat-obatan yang beredar di masyarakat.

Wabah obat palsu menjadi mimpi buruk industri farmasi, tidak hanya di Indonesia, bahkan terjadi di seluruh dunia. Bagaimana tidak, keuntungan besar yang instan menjadi pemikat bisnis obat palsu yang sangat tidak beretika ini. Dalam sebuah studi dikatakan, setiap 1 dollar (AS) investasi obat palsu dapat menghasilkan keuntungan 70 persen. Sedangkan 1 dollar (AS) investasi di bisnis narkotika hanya sekitar 30-40 persen. Sungguh profit margin yang sangat besar jika dibandingkan dengan industri besar lainnya. Namun keuntungan bersumber dari tindakan tidak etis ini tentunya tidak berlangsung lama, dampak negatifnya justru dirasakan lebih besar dari itu.

Kekuatan dan Kebersamaan dalam Rantai Pasok Membangun Obat Berkualitas Unggul

Keberhasilan kerja suatu rantai pasok sebuah perusahaan ditentukan oleh kemampuan perusahaan tersebut mengintegrasikan proses dalam rangkaiannya. Dampak dari integrasi yang sukses dalam rantai pasok dapat terlihat nyata dari ketersediaan, ketercukupan, dan ketepatan akan pemenuhan kebutuhan obat-obatan di masyarakat (jenis, kuantitas, kualitas dan frekuensi).

Lantas usaha integrasi seperti apa yang dapat dilakukan untuk menanggulangi wabah obat palsu tersebut?

Integrasi dalam rangkaian proses rantai pasok obat yang dapat membangun pasokan obat berkualitas antara lain dengan:

  1. Tindakan Responsible atas Perencanaan Permintaan Pelanggan yang didasari atas integrasi distributor dan produsen. Dapat dilakukan dengan investasi sistem informasi untuk meningkatkan akurasi peramalan permintaan obat yang bersumber langsung dari kebutuhan pelanggan. Dengan perencanaan yang responsible akan mengurangi kemungkinan pasokan berlebih yang dapat berujung mencegah risiko penyalahgunaan.

  2. Kolaborasi dan Kerjasama dengan Pelanggan obat. Bentuknya bisa dengan penyediaan media informasi oleh produsen untuk menampung keinginan konsumen, yang bertujuan untuk perencanaan produksi terintegrasi. Disamping itu, penyediaan wadah komunikasi langsung dengan pelanggan dapat mempercepat sebaran informasi terkait keluhan atau laporan seputar obat yang tidak layak edar, sehingga penanggulangannya dapat lebih lugas.

  3. Pengawasan atas Penyampaian Layanan. Integrasi berlangsung antar badan atau lembaga pengawas dengan produsen, distributor, serta pemasok dalam rantai pasok obat. Di Indonesia sendiri, BPOM sebagai lembaga pengawasan telah melakukan pengetatan pengawasan penyebaran wabah obat palsu dengan penerbitan pedoman CPOB dan CDOB yang diyakini dapat memperketat bentuk pengawasan kualitas output setiap entitas dalam rantai produksi, alhasil distribusi terjaga dengan baik.

  4. Kolaborasi dan Kerjasama dengan Supplier penyedia bahan baku guna menjamin ketersediaan bahan baku yang tepat dan berkualitas dan mendukung produksi tepat guna dan sasaran. Dapat dijalin dengan menciptakan kerjasama jangka panjang dengan supplier guna menjamin ketersediaan bahan baku tepat mutu dan sasaran produksi obat tersebut.

  5. Dukungan Daur Hidup Obat dengan menyediakan garansi penggunaan, integrasi dilakukan oleh produsen dan distributor dalam rantai pasok obat-obatan. Ketersediaan pusat layanan yang disediakan oleh produsen dan distributor yang dapat diakses dengan mudah. Hal tersebut berguna untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan.

  6. Reverse Logistic yang tanggap dalam hal penarikan obat kadaluarsa dan yang tidak layak edar, ini bertujuan mencegah perluasan dampak buruk atas konsumsinya. Tindakan ini memerlukan kolaborasi yang apik antara produsen, distributor, dan lembaga pengawasan yang terlibat.

Dengan menguatkan integrasi antar entitas pada rantai pasok obat di Indonesia, diharapkan dapat membangun obat berkualitas dan aman di masyarakat. Semoga.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)