Kapan Saatnya Rebranding?

Oleh:  Caroline Peni, praktisi desain dan merek asal Indonesia bertempat di New York, Amerika Serikat.

Gojek baru saja me-rebrand mereknya dengan memperkenalkan logo baru mereka yang bernama Solv. Apa itu rebrand? Apa tujuannya dan kapan semestinya suatu merek melakukan itu?

Logo baru Gojek (Foto/gambar milik pihak Gojek).

Gojek baru saja memperkenalkan Solv, logo identitasnya yang terbaru. Logo berwarna hijau ini menjadi simbol transisi Gojek, dari bisnis ride-sharing menjadi super app, satu app untuk segala solusi. Logo lamanya yang bergambar siluet pengemudi motor itu, tidak lagi mewakili Gojek secara keseluruhan.

Seperti halnya Gojek,pada tahun 2018, aplikasi ride-sharing dari Amerika Serikat, Uber, yang kini tidak beroperasi lagi di Indonesia, juga mengalami proses rebranding, atau perombakan citra. Rebranding memang lazim dilakukan jika brand terse-but mengalami suatu transisi besar. Tetapi rebranding sebaiknya tidak dilakukan terlalu sering dan jika tanpa makna. Logo baru Gojek. Gambar milik pihak Gojek.

Kapan sebaiknya suatu merek melakukan perombakan citra?

Suatu merek atau bisnis umumnya perlu melakukan rebranding jika mereka mengalami perubahan internal yang besar dan perlu diumumkan ke konsumen-nya. Maksudnya dan tujuannya adalah untuk mengubah persepsi merek tersebut di mata umum.

Gojek yang sekarang mempunyai lebih dari 20 macam servis ini tidak bisa lagi dipandang sebagai aplikasi ride-sharing, tetapi sebagai one-stop-shop untuk segala solusi masalah sehari-hari. Posisi mereka yang lebih menekankan inovasi ketimbang transportasi juga ditekankan dengan iklan kampanye mereka ber-hashtag #ThereIsAlwaysAWay. Dalam kesempatan ini, Gojek juga melakukan perombakan citra dan identitas untuk merayakan keberhasilan perusahaannya dengan pertumbuhan 1,100% dari sejak terbentuknya tahun 2010.

Lain dengan Gojek, Uber merombak desain identitas mereka pada tahun 2018 agar bisa terlepas dari citra buruk yang terjadi pada tahun sebelumnya seperti skandal pelece-han seksual dan diskriminasi dalam lingkungan kerja. Walaupun Uber masih memegang 60% pasar Amerika Serikat, tapi kompetitor utamanya, Lyft, berhasil melipatgandakan porsi pangsa pasarnya sejak kemunculannya tahun 2016. Uber juga gagal beroperasi di pasar Asia Tenggara, kalah dengan merek lokal seperti Grab dan Gojek, produksi anak bangsa.

(Gambar milik pihak Uber dan Wolff Olins)

Di pasar ride-sharing, Uber memang tidak dapat menyelamatkan bisnis mereka secara langsung dengan branding baru mereka. Di kuartal pertama tahun ini saja, Uber masih kehilangan profit sebesar 1 miliar dollar Amerika. Tetapi rebranding ini setidaknya mampu mengkomunikasikan sisi humanistik mereka yang sebelumnya tidak ditunjukan. Sekarang, citra mereka terlihat lebih ramah dan keren di mata konsumennya yang kebanyakan millennials.

Rebranding juga berguna juga merek atau perusahaan tersebut ingin tampil berbedauntuk jenis pasar yang baru. Selain menargetkan pasar internasional, rebranding yang dilakukan Gojek dan Uber juga semata-mata agar bisa dipandang inspirasional dan menarik untuk anak-anak muda berbakat di bidang teknologi dan inovasi.

Baik Gojek maupun Uber yang terlahir sebagai startup mengerti pentingnya sumber daya manusia bagi kelangsungan perusahaan mereka. Bagi merek-merek dan perusahaan yang lebih berlegasi, rebranding perlu agar merek tersebut bisa terlihat menarik untuk generasi muda khususnya gen-Z yang gaya hidup dan cara pikirnya sangat berbeda dengan konsumen terdahulu. Perombakan citra sangat penting untuk kelangsungan hidup suatu brand asal dilakukan pada momentum yang tepat, seperti yang dilakukan Gojek dan Uber ini.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)