Kiat Membangun e-Learning

Oleh: Rahadi Catur Yuwono M.M. Marketing Manager Online Learning PPM Manajemen  

Rahadi Catur Yuwono M.M. – Internet Marketing Passionate | Executive Development Program | PPM Manajemen Rahadi Catur Yuwono M.M. – Marketing Manager Online Learning PPM Manajemen

e-learning dapat memberikan manfaat yang luar biasa, dapat diakses kapanpun dan di manapun”, “e-learning biayanya murah, tidak perlu lagi biaya akomodasi dan transportasi”, “e-learning ini solusi bagi karyawan di perusahaan kami yang waktunya sangat sibuk”.

Begitulah kiranya pendapat dari beberapa praktisi SDM, khususnya di departemen Training and Development manakala membicarakan pembelajaran online atau lebih dikenal dengan sebutan e-learning yang saat ini model pembelajaran yang digadang-gadang sebagai metode masa depan ini sedang naik daun.

Hal tersebut diyakini benar adanya. Namun demikian, banyak yang masih menganggap bahwa jika ingin mengubah materi pembelajaran tatap muka (pembelajaran tradisional) ke dalam pembelajaran e-learning mudah saja, tinggal memindahkan semua konten yang berupa berkas powerpoint, bahan bacaan, video, studi kasus dan materi lainnya ke dalam Learning Management System (LMS), dan pekerjaan tersebut pun selesai.

Sejatinya, untuk mengubah sistem pembelajaran di kelas menjadi e-learning tidaklah semudah itu. Ada banyak hal yang perlu dilakukan secara komprehensif untuk mengembangkan sistem e-learning yang efektif.

Menurut Christopher Pappas, pendiri dari The eLearning Industry Network, mengemukakan setidaknya ada lima langkah praktis untuk mengembangkan sistem e-learning yang efektif:

  1. Identifikasi Metode e-learning

Anda perlu mengidentifikasi metode apa yang tepat untuk melakukan sistem pembelajaran online kepada para pembelajar. Dalam e-learning terdapat setidaknya tiga metode:

  1. Synchronous

Metode ini mempunyai pemahaman metode pembelajaran dilakukan dalam waktu yang bersamaan antara instruktur dengan pembelajar. Media yang dapat digunakan antara lain Webinar, Webcast, Live Chat. Dalam metode ini para instruktur dan peserta didik menyepakati waktu yang akan dilaksanakan.

  1. Asynchronous

Metode ini adalah kebalikan dari metode sebelumnya, yaitu metode pembelajaran dilakukan dalam waktu yang tidak bersamaan antara instruktur dengan pembelajar. Contoh media yang digunakan antara lain forum diskusi, video rekaman instruktur, rekaman suara bahan bacaan.

Pada metode ini, karena terjadi penundaan (delay) waktu akses pembelajaran, hal ini dapat memberikan manfaat bagi para peserta didik karena dapat memberikan waktu lebih banyak untuk mempelajari materi lebih dalam dan mengkaji materi-materi dari sumber lain untuk memperkaya bahan belajar.

Namun demikian, salah satu kelemahan yang ditemukan pada metode ini adalah jika ada pertanyaan atau topik diskusi yang membutuhkan klarifikasi atau jawaban dari instruktur maka membutuhkan waktu yang sangat bergantung dari kesediaan instrukturnya.

  1. Hybrid / Blended Learning

Metode ini merupakan kombinasi antara dua metode di atas, fase ini cukup efektif dilakukan ketika sebuah perusahaan masih beradaptasi dengan penerapan sistem e-learning. Metode ini juga memungkinkan adanya kombinasi dengan metode kelas tradisional, adapun komposisinya tergantung dari hasil analisa. Sebagai contoh, untuk pelatihan yang semula durasinya 3-4 hari, karena dikombinasikan dengan e-learning, dapat diefisienkan menjadi hanya 1-2 hari.

  1. Identifikasi Model Desain Instruksional

Berdasarkan pengalaman penulis, setidaknya ada dua model yang sering digunakan dalam mengembangkan e-learning,yakni:

  1. ADDIE

Adalah akronim dari Analyze (analisis), Design (desain), Develop (membangun), Implement (terapkan), dan Evaluate (evaluasi). Model ini cukup umum dikenal sebagai model yang fleksibel yang sering dipakai untuk pengembangan sistem. Disiapkan untuk membantu langkah demi langkah yang membantu desainer instruksional untuk membuat program yang sesuai dengan kerangka kerja.

  1. SAM

Merupakan akronim dari (Successive Approximation Model) atau sering disebut juga dengan istilah Rapid Prototyping. Berbeda dengan model pengembangan ADDIE, tahap Design dan Development harus diselesaikan langkah demi langkah secara berurutan sedangkan dalam SAM tahap Design dan Develop seringkali sengaja dilewatkan dan langsung masuk ke Implement. Pada tahap Evaluation maka akan diketahui hal-hal yang perlu diperbaiki, setelah diperbaiki langsung kembali ke Implement. Proses Evaluasi dan Implementasi ini terus berulang sampai diperoleh proses pembelajaran yang paling ideal.

  1. Berpusat ke Peserta Didik (Learner Centered)

Jika Anda beranggapan bahwa e-learning dipahami sebagai metode belajar yang satu arah dan pasif, maka hal tersebut tidak tepat. Dikutip dari editorial Michael G. Moore, The American Journal Of Distance Education (1989) meyakini bahwa interaksi adalah komponen terpenting dalam metode e-learning dan setidaknya terdapat tiga jenis interaksi, yaitu :

  1. Interaksi antara peserta didik dengan konten

Interaksi ini mengacu pada interaksi antara peserta didik dengan materi pelajaran. Moore meyakini bahwa jika seorang pelajar dapat berinteraksi dengan konten maka pemahaman peserta didik terhadap konten akan terjadi.

  1. Interaksi antara peserta didik dengan instruktur

Jenis interaksi ini terjadi melalui forum diskusi online, live conference, live chat, email.

  1. Interaksi antara peserta didik dengan peserta didik lainnya

Ini dapat terjadi di luar atau di dalam kelas online dengan atau tanpa instruktur. Kelompok peserta didik online dapat diberi tanggung jawab untuk bertindak secara mandiri dalam melakukan tugas proyek, atau bentuk kegiatan kelompok lainnya yang menjadi bagian dari sistem pembelajaran tersebut.

  1. Optimalisasi Teknologi Pembelajaran

Setelah Anda mendesain masing-masing dari aktivitas interaksi di atas, selanjutnya tinggal memastikan bahwa teknologi pembelajaran yang Anda gunakan tepat dengan sasaran pembelajaran yang ingin dicapai. Sebagai contoh:

  1. Teknologi interaksi antara peserta didik dengan konten: Animasi, Video, Simulation Games, Online Quiz, Examination, Case Study.

  2. Teknologi Interaksi antara peserta didik dengan instruktur: Online forum discussion, Live Webinar, Live Webcast, Podcast, Live Chat, email.

  3. Teknologi Interaksi antara peserta didik dengan peserta didik: Forum diskusi, Live Webinar, Live Webcast, Podcast, Live Chat, email, Face to face discussion.

  1. Membangun Prosedur Evaluasi dan Revisi

Sebelum materi e-learning benar-benar diluncurkan, terlebih dahulu perlu membangun suatu prosedur di mana hal ini memungkinkan para calon peserta didik untuk menggunakan materi tersebut sebagai bahan belajar dan memberikan masukan terhadap pengalaman apa yang mereka rasakan.

Evaluasi atau masukan dari peserta didik harus dapat menjawab dari empat area dalam efektivitas e-learning, yaitu: Desain materi; desain situs; navigasi; dan estetika. Jangan lupa untuk mengelola setiap masukan dari peserta didik.

Selamat mencoba!

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)