Live Without Applause

"Not everyone can live without applause but everyone can live to give applause"

Tanpa tepuk tangan bagi sebagian orang, apalagi petinggi, adalah penderitaan. Sebab, tepuk tangan sering dikonotasikan sebagai penghargaan. Tepuk tangan adalah pengakuan atas prestasi kinerja yang luar biasa. Tepuk tangan adalah simbol kesuksesan. Kegempitaan dalam tepuk tangan adalah simbol penghargaan dari sekitar atas pencapaian yang dirasakan para pemberi tepuk tangan. Karenanya, hidup dalam kesunyian -- tanpa tepuk tangan dari orang sekitar -- adalah sebuah kengerian yang tak ingin dialami oleh banyak orang.

Begitu kuatnya pengaruh tepuk tangan ini sehingga banyak orang yang mencari tepuk tangan sebagai prioritas utama dalam setiap tindakan dan aktivitasnya. Tepuk tangan adalah key performance indicator yang secara kasat mata dianggap sebagai ukuran yang sebenarnya. Ketika orientasi tepuk tangan ini sudah menjadi fokus, maka orang, apalagi petinggi, akan menghalalkan segala cara untuk mendapat tepuk tangan berapa pun harganya dan apa pun caranya.

Orientasi yang sedemikian kuat akan terpancar dalam perilaku yang sangat kentara, sehingga hasil akan mengalahkan proses. Kebenaran dan kebaikan bagi masyarakat luas dikalahkan oleh kepopuleran pribadi dan organisasinya. Ketenaran mengalahkan misi. Kalau sudah begini, hidup menjadi bias. Lampu sorot dan panggung menjadi idaman. Tanpa sinar terang dan tepuk tangan hidup menjadi hambar.

Kita menikmati pertunjukan orang yang haus tepuk tangan di mana mana. Di media elektronik, kita melihat tayangan reality show yang tak kalah dari kontes Indonesian Idol atau Indonesia Mencari Bakat justru terjadi di kalangan elite yang seharusnya membela kalangan bawah.

Para wakil rakyat di Senayan sangat gemar menjadi populer untuk hal yang sepele, tetapi tak berani bertindak kontroversial untuk hal yang sangat penting. Banyak kasus yang diungkap dengan hebat, dengan debat yang sudah melebihi kepantasan, tetapi akhirnya berujung pada kompromi yang tak jelas. “Silent is golden” katanya untuk hal esensial seperti soal pelecehan hak beragama dengan penutupan tempat beribadah, tetapi “noisy is diamond” untuk hal sepele yang bisa mendatangkan ketenaran.

Para pemimpin bangsa mulai dari tingkat pusat sampai tingkat lokal sibuk mencari proyek guna kepentingan pilkada selanjutnya tanpa memikirkan pengorbanan yang seharusnya dilakukan hari ini untuk menyongsong masa depan. Tidak berani menerobos kebuntuan pembebasan lahan dengan kebijakan yang tegas agar lima tahun mendatang infrastruktur sudah terbangun. Tidak berani berperan sebagai penabur benih dan koki di dapur. Semua ingin jadi pemetik hasil dan pembawa nampan. Terjadi perebutan siapa yang akan menggunting pita dan membubuhkan tanda tangan prasasti. Akibatnya, roda pembangunan sangat berorientasi pada hasil jangka pendek. Jangankan rencana pembangunan 25 tahun, sepuluh tahun saja sudah dianggap hanya wacana omong kosong.

Para petinggi perusahaan dengan bangga memasang iklan seremonia dan advertorial di media elektronik yang biayanya kadang sepadan dengan program yang dikemas sebagai corporate social responsibility. Berupaya mendapat applause di tingkat dunia sebagai green corporation padahal praktik pertambangan dan pertaniannya membuat alam merana. Memberi bantuan sosial kepada para korban bencara alam dengan jumlah yang spektakuler sehingga layak mendapat rekor MURI padahal karyawan yang sehari-hari bekerja keras mengumpulkan sen demi sen pendapatan tidak mendapat upah dan tunjangan yang layak. Tenar di luar, tetapi tega di dalam. Tepuk tangan di luar, tetapi tepuk dada di dalam. Sungguh ironis.

Pertanyaannya, apakah dunia yang sangat materialistis dan mengagungkan ketenaran dengan segala macam kontes idol ini masih mampu menyisakan spesies langka manusia yang hidup dengan orientasi tanpa tepuk tangan ?

Ternyata, masih banyak orang yang mampu hidup tanpa tepuk tangan atau tidak mencari tepuk tangan sebagai fokus utamanya. Gandhi, misalnya, tokoh yang berkarya tanpa memikirkan applause buat dirinya asal India bisa menjadi negara maju. Ketika India sekarang mampu menjadi penopang BRIC, maka tepuk tangan masyarakat internasional khususnya akan tertuju pada Gandhi yang membawa fondasi kemandirian India.

Gus Dur diakui sebagai bapak bangsa bukan karena keinginannya menjadi bapak bangsa, melainkan karena karya besarnya yang dihormati kawan dan lawan. Bahwa ia sering disebut kontroversial karena ia tak mau sejalan dengan mainstream yang tak memberi maslahat bagi semangat persatuan, pluralisme dan kebangsaan. Ia melawan siapa saja yang mau membelenggu pluralisme. Ia membela orang kecil, ini yang berbeda dari banyak pemimpin yang hanya suka membeli orang besar. Ia berani melawan arus untuk sekadar mengingatkan bahwa bangsa ini perlu pemikiran baru.

William Soeryadjaya membuat kejutan dengan merelakan Astra lepas hanya untuk menyelamatkan nasabah Bank Summa. Langkah ini membuat tepuk dada orang di sekelilingnya yang tidak ingin ia melego perusahaan yang didirikannya dari nol. Tepuk tangan bergempita dari seluruh nasabah Bank Summa ketika yakin bahwa uang mereka akan kembali. Om William telah menorehkan sejarah baru bahwa tanggung jawab adalah hal esensi yang tidak boleh dikalahkan oleh kepemilikan materi.

Menjadi manusia yang tidak haus tepuk tangan membuat hidup lebih mudah. Lebih nyaman dan mengalir. Beraktivitas berdasarkan misi dan prinsip. Keheningan membuat manusia bisa tersenyum bahagia ketika melihat karyanya membahagiakan orang lain. Aktivitasnya mencerahkan pikiran orang lain. Sapaannya membuat yang lain lebih berarti bukan sekadar dirinya. Kalau sudah begini, hanya soal waktu tepuk tangan akan diterima. Kalau tidak di dunia, di akhirat sudahlah pasti. Mau cari yang mana?

*) Penulis best seller Built to Bless dan Lead to Bless Leader.

Diambil dari Rubri “Pernik” di Majalah SWA

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)