Melanggengkan Kesuksesan

Oleh: Achmad Fahrozi, M.M.HR Consultant, Organization Development Services PPM Manajemen

Achmad Fahrozi

Demam sepakbola di Indonesia belum turun. Piala Dunia 2018 telah lewat. Lalu Piala AFF U-16 tempo hari menaikkan suhu antusiasme masyarakat terhadap sepakbola Indonesia lagi. Garuda muda melawan Thailand dengan penuh percaya diri. Lewat adu penalti, memastikan juara piala AFF U-16. Setelahnya ada Asian Games yang gegap gempita menyatukan nusantara.

Menyoal sepakbola, rasanya kita tidak asing dengan sosok hebat Cristiano Ronaldo. Pemain terbaik dunia 2017 itu merupakan atlet sepakbola asal Portugal dengan prestasi mentereng. Bintang lapangan hijau yang saat ini berseragam Juventus itu memiliki gaya dan teknik permainan yang khas. Dengan talenta hebat dan wajah tampan, CR7 begitu dia dikenal, selalu membuat decak kagum para penikmat sepakbola di seluruh dunia, tak terkecuali kaum hawa.

Berbagai rekor dunia pun dipecahkan oleh pemilik 5 Balon d'Or --ajang penghargaan individu paling prestisius di dunia sepakbola. Sampai-sampai ia dijuluki Si Manusia Rekor. Tidak berlebihan, jika CR7 disebut sebagai salah satu pesepakbola terbaik dalam sejarah.

Dengan kesuksesannya, CR7 bisa menjadi role model bagi siapa pun yang ingin meraih kesuksesan. Tidak hanya dalam olahraga, dia bisa jadi contoh sempurna untuk meraih keberhasilan dalam karir di bidang apa pun. Bukan karena prestasi yang dia dapatkan saja, tapi bagaimana dia membangun dan meraih kesuksesan secara konsisten selama lebih dari satu dekade. Bahkan di usianya yang ke-33 tahun, permainannya belum menunjukkan penurunan. Padahal di usia tersebut, jamak ditemui para pemain sepakbola mulai meredup karirrnya.

Apakah rahasia dari konsistensi kesuksesan Cristiano Ronaldo?

Ronaldo terkenal sebagai pemain yang memiliki kedisiplinan dan dedikasi yang tinggi. Kerja keras dan disiplin ditunjukkan olehnya dalam berlatih ataupun dalam pertandingan. Dia selalu berlatih di pusat latihan dengan tim atau di rumah.

Ia juga memiliki gaya hidup yang sehat. Ronaldo disiplin meninggalkan kebiasaan buruk yang bisa menurunkan apalagi merusak kariernya. Ronaldo menjauhi “minum-minum” dan pergi ke klub malam. Seorang Jurnalis sepakbola asal Spanyol mengatakan bahwa Ronaldo memiliki kebiasaan mandi pukul lima pagi dengan es atau pukul tiga pagi untuk pemulihan setelah pertandingan. Ronaldo benar-benar fokus mengoptimalkan tubuhnya untuk mencapai puncak kinerja.

Dengan gaya hidup seperti itu wajar kalau Ronaldo memiliki fisik yang sangat prima. Bahkan sebuah riset mengungkapkan bahwa usia biologis atau usia fisik Ronaldo 10 tahun lebih muda dari usia kronologisnya. Artinya, kekuatan fisik Ronaldo yang saat ini berusia 33 tahun setara dengan pemain sepakbola berusia 23 tahun. Wajar jika sampai usia 33 tahun belum ada tanda-tanda kemunduran dari produktivitas Ronaldo di lapangan.

Selain kerja keras dan disiplin yang tinggi, ada satu hal lagi yang menurut penulis menjadi rahasia konsistensi kesuksesan Ronaldo, kemampuan melompat ke kurva ke dua.

Kita tahu bahwa sebuah kesuksesan yang terjadi apakah pada sebuah produk, perusahaan maupun manusia memiliki perjalanannya sendiri atau disebut juga siklus kehidupan (life cycle). Dimulai dari fase kelahiran atau pengenalan, pertumbuhan, kematangan atau puncak kejayaan dan penurunan. Kurva tersebut dikenal dengan kurva “S” atau Sigmoid Curve.

Sumber : https://coachingfortranslators.com/

Dalam perjalanan kariernya, Ronaldo pun mengalami Kurva “S” di atas. Direkrut oleh Manchester United dari Sporting Lisboa pada 2003, Ronaldo yang saat itu baru berumur 18 tahun menjelma menjadi pemain terbaik dunia hanya dalam waktu enam tahun. Gelar tersebut didapat karena kontribusinya terhadap kesuksesan Manchester United mengawinkan gelar Premier League dengan Liga Champions dan dilengkapi dengan merebut piala FIFA Club World Cup pada 2008-2009.

Tahun tersebut adalah puncak kejayaan seorang CR7. Bahkan Ronaldo menyebut tahun 2008 adalah tahun miliknya di mana kesuksesan telah diraihnya baik secara kolektif bersama rekan-rekannya maupun perhargaan individu sebagai pemain terbaik dunia versi FIFA.

Namun, Ronaldo bukanlah tipikal pemain yang cepat berpuas diri. Dia masih memiliki ambisi yang sangat besar untuk menjadi pemain yang lebih baik lagi. Ronaldo membutuhkan tantangan baru untuk memenuhi ambisinya. Di puncak kesuksesan inilah waktu yang tepat baginya untuk memulai perjalanan baru. Di mana ketika dia sudah mendapatkan apa saja yang semua pemain sepakbola impikan, di sinilah waktu yang tepat baginya berpindah kurva. Dan Real Madrid adalah tantangan berikutnya, klub asal spanyol dengan tradisi banyak melahirkan para pemain terbaik dunia.

Sumber : https://coachingfortranslators.com/

Keputusannya sangat tepat. Di Real Madrid, dia bukan saja meraih sukses, melainkan sangat-sangat sukses. Berbagai gelar kolektif dan pribadi diperolehnya. Yang fenomenal adalah membawa Real Madrid memenangi empat kompetisi antar klub eropa atau juara Liga Champions dalam lima tahun terakhir. Yang lebih mengesankan, tiga di antaranya dibuat secara beruntun. Berbagai penghargaan pribadi bergegsi pun di dapatkan seperti: lima kali meraih gelar pemain terbaik FIFA dan lima kali meraih Ballon d’Or, termasuk edisi terakhir tahun 2017. Sungguh prestasi fenomenal yang dimiliki oleh seorang pesepakbola.

Di usianya yang ke-33 tahun, banyak pengamat meramalkan tanda-tanda penurunan seorang Ronaldo. Meskipun secara statistik Ronaldo belum habis. Produktivitasnya dalam mendulang gol masih diacungi jempol. Ronaldo bisa saja bertahan di Real Madrid untuk kemudian menjadi seorang legenda. Dan pemilik klub pun dengan senang hati akan mempertahankannya.

Namun, bukanlah tipikal Ronaldo untuk tetap tinggal diam di fase zona nyaman. Ia masih memiliki ambisi untuk bisa terus bermain di level tertinggi hingga umur 40 tahun. Untuk mewujudkan ambisinya, Ronaldo membutuhkan tantangan baru sebagaimana yang pernah dilakukan sebelumnya ketika dirinya harus pindah klub dari MU ke Real Madrid.

Dengan proses perenungan panjang, akhirnya ia pindah ke Juventus, klub raksasa Itali. Sesuatu yang diprediksi mustahil terjadi oleh para pengamat sepakbola. Di puncak kejayaan sebagai pemain sepakbola dalam balutan jersey klub terbaik dunia, Ronaldo kembali memilih untuk berpindah kurva. Ronaldo membutuhkan petualangan baru untuk mencapai ambisinya.

Dari perjalanan karir Cristiano Ronaldo, dapat dipelajari bahwa kesuksesan adalah sesuatu yang bisa diulangi atau dipertahankan. Asalkan kita dapat mengelola perubahan dengan baik. Untuk bisa melanggengkan keberhasilan, kita harus siap mengambil momentum untuk berpindah kurva dari satu kurva ke kurva lainnya. Dan waktu terbaik untuk pindah yaitu di mana kita sedang berada di titik tertinggi puncak kejayaan.

Sebagaimana yang disampaikan Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Change, bahwa hasil penelitian menunjukkan saat terbaik untuk melakukan perubahan bukanlah pada saat krisis atau penurunan. Perubahan yang terbaik seharusnya dilakukan pada saat apakah produk, perusahaan, atau karir seseorang sedang mengalami kejayaan.

Pada saat perpindahan kurva, seseorang akan berpindah dari zona zaman (comfort zone) ke zona tidak nyaman (discomfort zone). Di sinilah mulai terjadi resistensi terhadap perubahan. Ini wajar, karena kurva yang baru ini adalah medan baru dengan tantangan baru yang penuh ketidakpastian. Benar bahwa perpindahan kurva (perubahan) tidak menjanjikan kesuksesan berikutnya. Namun, tidak ada kesuksesan yang langgeng di dunia ini tanpa perpindahan kurva (perubahan). Anda harus meyakini bahwa melompat ke kurva kedua adalah satu-satunya jalan melanggengkan kesuksesan

Siapakah Anda melompat kurva kedua?

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)