Memahami Konten Viral Media Sosial bagi Sebuah Brand

Lebih dari 70 juta penduduk di Indonesia pada semester pertama 2015 tercatat sebagai pengguna media sosial dari berbagai platform yang ada di Indonesia. Pertumbuhan pengguna media sosial dari waktu ke waktu di Indonesia tidak hanya berdampak pada perubahan gaya komunikasi antar individu maupun kelompok, melainkan juga mendatangkan perubahan sosial di masyarakat.

Ridhi Mahendra Ridhi Mahendra

Tidak dapat dipungkiri bahwa kebebasan berpendapat di Indonesia saat ini semakin terbuka berkat adanya teknologi, salah satunya adalah media sosial. Dengan adanya media sosial, publik menjadi lebih mudah menyampaikan pendapat yang bisa diakses oleh siapa saja. Dengan keterbukaan tersebut pula lah, banyak dampak yang sudah ditimbulkan, baik yang positif maupun negatif.

Publik tentu belum lupa, pada 2014 lalu, banyak pihak juga menilai bahwa terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden juga tidak terlepas dari peran media sosial. Pada pemilu 2014 lalu, media sosial menjadi salah satu pilar dominan dalam mempengaruhi pilihan publik, terutama pemilih pemula yang jumlahnya tidak sedikit.

Selain itu, yang baru saja menjadi buah bibir publik, bahkan menjadi pemberitaan media mainstream adalah mengenai kisah seorang pengemudi taksi yang selalu menyertakan foto anaknya saat dia bekerja. Sang pengemudi menjadikan anaknya yang sebentar lagi akan berulang tahun dan ingin merayakannya di sebuah restoran cepat saji sebagai motivasinya dalam bekerja. Spontan, konten mengenai pengemudi tersebut yang awalnya hanya diunggah melalui akun path sang penyiar justru menjadi viral di berbagai media sosial, bahkan menjadi pemberitaan media mainstream.

Di isu global, hal kecil yang menjadi viral berkat media sosial adalah aksi beberapa punggawa Barcelona saat melakukan parade piala setelah memenangkan Champions Cup. Di tengah-tengah aksi parade Leonel Messi dan kawan-kawan, sebuah brand burger menjadi buah bibir setelah ter-capture oleh kamera dimakan Neymar, Suarez, dan Messi saat parade berlangsung. Brand tersebut berhasil mendapatkan dampak viral yang menguntungkan.

Kasus-kasus yang disampaikan di atas hanyalah sebagian kecil dari berbagai konten yang berhasil menjadi buah bibir di media sosial, bahkan akhirnya menjadi pemberitaan di media mainstream. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar konten terkait brand yang bersifat viral bukan menjadi bagian dari rencana perusahaan. Namun demikian, brand maupun pelaku komunikasi perlu mengantisipasi viralitas sebuah konten yang menjadi buah bibir jutaan pengguna media sosial di Indonesia.

Belajar dari viralitas sebuah brand di dunia maya, baik yang direncanakan maupun tidak, salah satu dampak yang dihasilkan adalah munculnya public awareness mengenai brand itu sendiri. Berbagai isu pembicaraan mengenai konten yang viral, secara langsung maupun tidak langsung tentu akan bersentuhan dengan publik. Dari jutaan pembicaraan yang berlangsung, tentu saja akan muncul dua kemungkinan, citra yang positif atau citra yang justru menjurus ke negatif.

Apa untungnya sebuah brand menjadi buah bibir di media sosial?

Sebuah konten viral yang menjadi buah bibir di media sosial, bahkan menjadi bagian dari pemberitaan redaksi berbagai media mainstream tentu dapat membentuk organic public awareness. Dalam hal ini, pemahaman publik yang didapat tidak dilakukan melalui iklan yang cenderung hardsell, melainkan memancing publik terlebih dahulu untuk berkenalan dengan brand, mencari tahu brand lebih dalam, kemudian memancing mereka untuk mencoba menggunakan produk brand. Untuk tingkat yang lebih lanjut, tentu yang diharapkan adalah munculnya loyalitas publik terhadap brand.

Semakin tinggi viralitas sebuah brand, pada dasarnya juga akan bermanfaat bagi perusahaan, salah satunya adalah dapat menekan biaya komunikasi yang dilakukan. Sebuah konten yang viral, baik disengaja maupun tidak, tentu dapat menekan biaya iklan. Dengan menjadi buah bibir masyarakat, tanpa disadari sebenarnya sebuah brand sedang diiklankan oleh masyarakat yang sedang melakukan pembicaraan. Hal inilah yang menjadi peluang bagi sebuah brand, apakah mereka mampu mengelola pembicaraan yang ada di masyarakat sehingga dapat menimbulkan citra yang positif bagi perusahaan atau justru akan menjadi bumerang bagi perusahaan.

Bagaimana membentuk konten menjadi viral?

Pada akhirnya, ini adalah pertanyaan yang menarik bagi pelaku komunikasi, baik yang sudah mengadaptasi media baru seperti media sosial maupun media konvensional. Dari berbagai konten viral yang secara organik menjadi buah bibir di masyarakat Indonesia, sebagian besar merupakan konten viral yang berkaitan dengan isu kemanusiaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat kepekaan publik di Indonesia terhadap isu-isu humanis relatif lebih tinggi dibanding isu-isu lainnya.

Viralitas atau buah bibir masyarakat tentang sebuah brand tentu dapat diawali dengan kepekaan brand itu sendiri terhadap isu-isu yang ada di masyarakat, termasuk di media sosial. Hal inilah yang juga menjadi jawaban, mengapa memonitor media, baik media pemberitaan maupun media sosial menjadi bagian penting dalam komunikasi perusahaan. Dengan memonitor apa yang terjadi di masyarakat dari waktu ke waktu, perusahaan mampu mengantisipasi berbagai isu yang sedang dan akan terjadi di masyarakat.

Menariknya, perusahaan juga sebenarnya bisa membentuk viralitas sebuah brand yang diawali dari media sosial. Yang menjadi permasalahan adalah, apakah pembentukan viralitas itu mampu menyentuh publik untuk menjadikannya buah bibir, atau justru tidak menarik di mata publik. Lagi-lagi, kepekaan terhadap sebuah isu sosial menjadi hal yang perlu dipelajari oleh perusahaan.

Ridhi Mahendra, CEO Growmint Digital Agency

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)