Membangun Cultural Innovation dan Innovation Culture

Oleh: Jusuf Irianto, Guru Besar Manajemen SDM Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas Airlangga, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri & Kerjasama Internasional MUI Jawa Timur

Jusuf Irianto, Guru Besar Dep. Adm. Publik FISIP Universitas Airlangga, Pengurus MUI Jawa Timur

Dunia bisnis saat ini berada dalam era persaingan yang sangat ketat. Semua perusahaan berupaya menemukan solusi berupa sejumlah faktor pendorong guna meraih kesuksesan. Salah satu solusi tersebut adalah inovasi yang diyakini sebagai faktor penentu mencapai keberhasilan bisnis secara signifikan.

Berbagai langkah inovatif ditempuh dengan menghasilkan produk yang memiliki nilai khas, bermanfaat, dan sesuai kebutuhan konsumen. Inovasi juga menyentuh proses produksi mencapai efisiensi tertinggi hingga mampu menghasilkan produk berdaya-saing yang tinggi pula.

Definisi inovasi merujuk proses merancang metode dan produk yang akan dihasilkan berdasar “ide” terbaru. Dalam konteks penggunaan ide baru, Phil Budden & Fiona Murray dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Sloan School of Management dalam working paper  bertajuk “An MIT Approach to Innovation: Eco/Systems, Capacities & Stakeholders” (2019) merumuskan definisi inovasi sebagai “process of taking ideas from inception to impact”.

Meski tampak sederhana, namun  rumusan definitif inovasi tersebut diperoleh melalui studi sistematis para pakar dari MIT tentang inovasi di seluruh dunia. Kajian dilakukan mulai dari inovasi di bidang national security hingga public safety. Berdasarkan studi tersebut, dihasilkan tiga konsep kunci dan saling terhubung yaitu ekosistem, kapasitas dan pemangku kepentingan.

Amat menarik  untuk diperhatikan, bahwa studi inovasi dari MIT tersebut tak menyebut secara eksplisit terminologi “teknologi” yang masyarakat umum acap mengasosiasikannya dengan gerakan inovasi. Peniadaan teknologi berdasar asumsi bahwa inovasi merupakan a distinctive things atau sesuatu yang beda sekalipun dalam prosesnya memanfaatkan teknologi.

Dengan pemanfaatan teknologi, kini merupakan momentum tepat berinovasi. Perubahan akibat teknologi yang berkembang pesat justeru memicu disrupsi atau gangguan terhadap semua proses binis. Divisi Research and Development (R&D) dipacu menguasai disrupsi dengan didukung digitalisasi hingga mampu berkontribusi nyata.

Sekalipun demikian, perusahaan tak cukup sekadar mengandalkan peran dan fungsi divisi R&D yang butuh biaya besar. Melecut inovasi bukan perkara mudah karena harus libatkan hampir semua elemen organisasi. Pelibatan aktif semua unsur tersebut merupakan pengembangan entitas organisasi secara fundamental yang disebut sebagai cultural innovation (inovasi budaya).

Inovasi Budaya

Pentingnya peran semua pihak baik dari dalam maupun luar organisasi sejalan dengan rumusan definitif inovasi dari MIT. Bahwa inovasi harus berada dalam ekosistem sebagai ruang yang kondusif bagi munculnya ide brilian sekaligus nyleneh. Selain ekosistem, entitas organisasi, baik individu maupun tim, harus memiliki kapasitas memadai dalam berinovasi didukung positif oleh semua stakholders.

Inovasi tak akan tumbuh subur dalam suatu organisasi dengan budaya tertutup terhadap munculnya gagasan baru. Karena itu, inovasi membutuhkan kultur akomodatif bagi semua jenis inisiatif dan segenap resiko yang terkandung di dalamnya. Hal ini sejalan dengan makna inovasi budaya yang dirumuskan Douglas Holt (2020). Dalam tulisan yang diterbitkan Harvard Business Review (HBR) berjudul Cultural Innovation bahwa “Cultural innovation operates according to qualitative ambitions: Change the understanding of what is considered valuable.

Holt menegaskan bahwa inovasi budaya tak sekadar diwujudkan dalam bentuk sejumlah produk berupa barang atau jasa layanan yang unik, namun juga menonjolkan pandangan filosofis dari para pendiri organisasi, tentang packaging, material yang digunakan, desain produk, liputan oleh media untuk branding dan image building, dan bahkan aktivitas bersifat filantropis.

Dengan mengitegrasikan produk inovatif dan pandangan filosofis tersebut,  inovasi budaya menghasilkan keunggulan daya saing perusahaan. Berbagai produk branded tak hanya bersaing memacu proposisi nilai (value proposition), namun juga berupaya menjadi leader dengan melakukan permainan berbeda sekaligus bernilai.

Memenangkan pacuan persaingan sesugguhnya dapat ditempuh secara elegan melalui value propotition sebagai pernyataan menjanjikan tentang jaminan mutu dan kepuasan yang bakal diperoleh pelanggan secara nyata dan berkelanjutan. Tradisi mutu melalui penciptaan nilai inilah yang pada gilirannya akan membangun budaya inovasi (innovation culture) dalam perusahaan.

Budaya Inovasi

Pada tahun 2019 McKinsey memberikan penghargaan berupa “McKinsey Award” kepada Gary P. Pisano atas karya tulisannya yang dinilai sebagai the best article of the year tentang budaya inovasi yang diterbitkan oleh HBR. (lihat: https://www.mckinsey.com/about-us/new-at-mckinsey-blog/why-are-innovative-cultures-so-hard-to-get-right).

Menurut Pisano, isu budaya inovatif sangat menarik perhatian karena membutuhkan berbagai macam disiplin dalam bersikap dan berperilaku. Budaya inovasi menurutnya merupakan wujud sikap toleran terhadap suatu kegagalan di satu sisi, namun di sisi lain sangat intoleran terhadap ketidakmampuan.

Kegagalan merupakan resiko dalam berinovasi sehingga memerlukan pemahaman dan kebijaksanaan dari pimpinan. Tetap mendukung setiap inisiatif merupakan budaya inovasi yang harus dibangun, sementara ketidakmampuan harus diatasi dengan berbagai intervensi berupa pelatihan atau program-program lainnya.

Pisano juga menekankan terbukanya peluang bagi semua untuk bereksperimen. Setiap uji coba pasti mengandung resiko gagal atau berhasil. Sebagai mitigasi atas munculnya resiko kegagalan, perusahaan harus mampu mewujudkan sikap dan perilaku disiplin seketat mungkin. Tanpa disiplin, mustahil keberhasilan dapat dicapai bahkan melalui inovasi atau inisiatif lainnya.

Budaya inovatif juga membentuk tradisi baru berupa sikap prudent alias hati-hati sebagai antithesis inovasi yang mengandalkan keberanian dan terobosan. Karena itu, Pisano menyatakan bahwa budaya inovatif bersifat paradoks yang menghasilkan ketegangan (strain). Namun, jika ketegangan tersebut dikelola dengan hati-hati, budaya inovatif akan dapat diwujudkan secara lebih efektif.

Selain memaklumi atau toleran terhadap adanya kegagalan, budaya inovatif juga membentuk mental kewirausahaan (entrepreneurship) yang tumbuh di antara manajer dan staf. Mereka akan memiliki keberanian untuk mengambil setiap resiko atas semua bentuk inisiatif dan keputusan yang dibuatnya. 

Budaya inovatif dalam perusahaan menumbuhkan semangat kolaboratif dengan memandang pihak lain secara positif. Keberhasilan bisnis tak sekadar mengandalkan kekuatan dan kemampuan internal namun juga pelibatan pihak lain yang kemungkinan memiliki kelebihan signifikan melalui skema kolaborasi yang saling menguntungkan.

Menurut Pisano, belum banyak perusahaan yang memiliki budaya inovasi dengan berbagai kemungkinan untuk berkreasi, berinisiatif, memberi kebebasan menyampaikan ide atau gagasan atau berani menanggung resiko atas kegagalan. Padahal hampir semua karyawan merindukan suasana bekerja yang toleran terhadap kegagalan serta apresiatif terhadap gagasan atau inisiatif baru sekalipun mengandung resiko.

Karena itu, Pisano menekankan arti penting peran dan fungsi kepemimpinan yang secara khusus diidealkan mampu membangun budaya inovatif. Tak sekadar masuk kategori sebagai visionary atau transformational leadership, setiap figur pimpinan organisasi harus mampu mewujudkan budaya inovasi secara nyata dan keberhasilannya dapat diukur secara jelas.

Budaya dengan dukungan pimpinan yang memiliki visi yang jelas akan dapat menciptakan pemahaman bersama bahwa suatu bentuk inovasi sangat berharga justeru karena memang inovasi sangat sulit dilakukan. 

Namun, semua kesulitan itu akan dapat berubah segera menjadi kemudahan jika pimpinan berkomitmen membangun kapasitas individu dan tim kerja, membentuk ekosistem kondusif bagi inovasi, serta aktif menjalin networking untuk berkolaborasi,

Karena itu, bisa dimaklumi pandangan para ahli dari MIT yang menyatakan bahwa inovasi budaya dan budaya inovasi membutuhkan suatu pendekatan yang mampu mengintegrasikan ekosistem, kapasitas, dan stakeholders secara keseluruhan.

Referensi

Douglas Holt (2020). “Cultural Innovation: The secret to building breakthrough businesses”. Harvard Business Review. Retrieved from:  https://hbr.org/2020/09/cultural-innovation

Gary P. Pisano (2019). “The Hard Truth About Innovative Cultures: Creativity can be messy. It needs discipline and management. Harvard Business Review.

Retrieved from: https://hbr.org/2019/01/the-hard-truth-about-innovative-cultures

Phil Budden & Fiona Murray (2019). An MIT Approach to Innovation: eco/systems, capacities & stakeholders. Working Paper MIT Innovation Initiative. MIT’s Laboratory for Innovation Science & Policy. Retrieved from: https://innovation.mit.edu/assets/BuddenMurray_An-MIT-Approach-to-Innovation2.pdf

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)