Menanti Kemandirian Indonesia di Industri Farmasi

Ahmad Muntaha, Salah Satu Ketua Badan di DPP Ikatan Apoteker Indonesia 2014-2018

Penemuan bidang farmasi lahir berbarengan dengan perkembangan penyakit masyarakat. Sebut saja pengobatan tradisional jaman kuno dengan bahan bahan tumbuhan dan perminyakan telah mendorong temuan temuan baru dalam proses pencegahan dan penyembuhan penyakit. Tuhan memang menciptakan alam sebaik mungkin untuk manusia. Risetlah yang akhirnya mengungkapnya. Dan, para farmasis telah hadir dalam dunia riset untuk berbuat terbaik demi tujuan kemanusiaan.

Bahwa para apoteker di Indonesia masih bercita cita menjadi periset, mengingat raw material di Nusantara sangat banyak, baik di laut terdalam dan di hutan lebat nun jauh di sana sangatlah terbuka lebar peluangnya. Bahwa kehadiran bahan baku farmasi yang sekarang masih tergantung pada impor, makin menegaskan urgensinya untuk mengeksplorasi kekayaan yang sudah tersedia dan ketersediaan para farmasis yang sudah memiliki jam terbang banyak, untuk menghasilkan riset-riset di bidang farmasi yang layak industri.

Sudah banyak pula penelitian terkait bahan baku sudah banyak pula yang tersendat, entah di mana seonggok penelitian farmasi Indonesia. Hasil penelitian seolah tidak layak untuk di-publih menjadi hak milik rakyat banyak. Karya ilmiah para profesor, doktor, magister dan skripsi farmasis bisa menjadi mimpi dan obsesi. Entah kapan kegelapan masa depan atas kemandirian farmasi ada dan tumbuh pesat di Indonesia.

Kegelapan juga bisa melanda ketersediaan obat dan ekonomi Indonesia karena sedotan impor terhadap valuta asing. Kemandirian sebagai bangsa merdeka dalam bidang penyediaan obat yang tersedia di Indonesia tetap saja akan menjadi pekerjaan rumah sampai beberapa waktu mendatang. Meskipun Pemerintah telah berupaya keras mengurangi impor dan memberi peluang kemadirian bahan baku tanpa ada keterlibatan para stakeholder yang berkaitan dengan bahan baku ini, maka solusi dan berbagai aktivitas, serta berbagai kelemahan atas masalah ini juga tidak akan bisa diselesaikan.

Beberapa stakeholder yang berkaitan dengan masa depan farmasi ini yang amat menentukan adalah sosok persoanality farmasis. Kenapa demikian? Karena dari berbagai stakeholder ini amat tergantung dari bagaimanakah tekad dan kemauan farmasis untuk keluar dari benang kusut di kalangan farmasis ini.  Semua sisi dalam Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) yang berkaitan peredaran dan poduksi produk farmasi harus diteken dan harus lolos mendapat approval dari farmasis/apoteker. Dengan demikian, peranan apoteker amatlah strategis untuk melakukan berbagai hal dalam proses pengelolahan produk farmasi mulai dari bahan baku sampai dengan produk jadi yang siap di konsumsi oleh masyarakat luas.

Harapan untuk membangkitkan kesatuan pandang akan pentingnya kemandirian terhadap sektor hulu farmasi ini dapat diraih manakala kalangan farmasis berkumpul dalam perhelatan kongres dan pertemuan ilmiah tahunan  para Apoteker di Pekan Baru mulai tgl 18 sampai dengan 22 April 2018 ini. Dengan kegiatan ini, bisa jadi gambaran akan mungkinkah harapan itu terwujud pada waktu akan datang.  Setidaknya, ada beberapa hal yang meyakinkan membawa angin segar. Pertama, perhelatan ini dihadiri hampir seluruh elemen elit apoteker. Kedua, perasaan akan himpitan problem farmasis yang bisa jadi momentum bangkit di era Jaminan Kesehatan Nasional. Ketiga, akan lahirnya kebangkitan generasi baru kalangan farmasis yang didukung oleh visi misi pengurus baru dan di dukung oleh komunitas farmasi lainnya, seperti Indonesian Young Pharmacist Group (IYPG), komunitas distribusi dan komunitas produksi dsb.

Bila semangat dan harapan  itu menular bak seperti virus menyebar  dalam waktu yang cepat , maka momentum ini akan sangat penting. Dengan menempatkan  beberapa komunitas sebagai vector yang dapat menyebar virus kebaikan dan kemajuan maka momentumnya akan terbuka lebar. Beberapa vector dalam elemen farmasis tidak lain adalah berharap pada penelitian dan implementasinya dalam sektor industri. Seperti dipahami, sejak dahulu penelitian atau riset di negara kita masih rendah. Kita masih suka jadi konsumen besar di era global,  masih suka mengimpor berbagai bahan yang sebenar nya masih bisa kita buat dan rencanakan sejak awal.

Kita masih doyan duduk diam, meskipun di depan kita beribu-ibu ribu ton  potensi bahan baku alam tersedia untuk diolah. Sehingga tidak salah bila hampir semua bahan baku tergantung dari luar negeri. Produk antibiotik untuk infeksi  yang pasarnya amat besar, kemudian produk obat penurun panas dan nyeri badan yang juga tak kalah besar pasarnya di Indonesia, merupakan contoh dari sekian banyak bahan baku yang amat diperlukan dalam negara tropis seperti negara kita.

Dengan mengedepankan sektor hulu pada pengembangan ke depan, maka tantangan dan harapan bangsa ini akan bertumpu pada semangat partnership dari apoteker bersama stake holder pharmasis untuk ikut menyebar virus kemandirian ini di sektor hulu farmasi. Sudah saatnya melakukan tindakan nyata dari mimpi besar bangsa ini. Kapan lagi kalau momentum ini tidak kita mulai dari kesadaran kolektif kalangan apoteker. Para stakeholder farmasis perlu bersinergi membangun kesamaan arah, apakah melalui kebijakan oleh regulator kesehatan, riset dan teknologi, ataupun visi misi industriawan, serta periset dari kalangan  ilmuwan  kampus besar dan kepedulian praktisi yang  ahli dalam bidang farmasis. Semoga, Indonesia bisa bangkit dalam kompetisi global di industri farmasi.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!