Menebak Arah Konsolidasi Industri Seluler

Oleh: Zaid Muttaqien, Bekerja di Industri Seluler Indonesia

Zaid Muttaqin

Rencana injeksi modal dari Hutchison Asia Telecom dan PT Tiga Telekomunikasi kepada Hutchison 3 Indonesia sebesar 47 Triliun rupiah kembali memunculkan rumors akan adanya konsolidasi-akuisisi antar operator di Indonesia. Wacana Konsolidasi operator telekomunikasi sebenarnya sudah lama didorong oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara untuk meningkatkan skala ekonomi  sehingga diharapkan operator lebih efesien  dan industri lebih sehat. Dari sisi sumberdaya frekuensi kapasitas yang dimiliki operator akan menjadi lebih besar sehingga kecepatan dan kualitas layanan lebih baik. Walaupun ketersediaan pilihan operator yang sesuai bagi masyarakat akan terbatas dan harga yang murah kemungkinan tidak dapat dinikmati lagi.

Dalam riset Evaluating Market Consolidation In Mobile Communications yang meneliti pada 33 negara dalam rentang 2002 hingga 2014, hubungan antara struktur pasar dengan harga dan investasi di operator telekomunikasi menyimpulkan kondsolidasi operator memunculkan trade off yaitu harga ke end user yang cenderung meningkat namun di sisi investasi operator juga meningkat.

Konsolidasi Operator Telekomunikasi

Pada tahun 2013 XL melakukan aksi korporasi mengakuisisi Axis dengan nilai pembelian US$ 865 juta. Pasca akuisisi, XL mendapatkan frekuensi 1800 Mhz kapasitas 15 Mhz sehingga XL yang tadinya hanya memiliki kapasitas 7.5 Mhz di frekeunsi 1800 Mhz menjadi 22.5 Mhz, namun untuk frekuensi 2100 Mhz 5 Mhz harus dikembalikan ke pemerintah.

Kemudian, awal tahun 2019 muncul rumor rencana merger indosat dengan smartfren yang ketika itu melonjakan harga saham emiten yang berkode FREN hampir empat kali lipat dari Rp 75 menjadi Rp 348 rupiah, kemudian terkoreksi karena tidak kunjung terwujud.

Masih di tahun 2019, wacana non cash merger antara MTI (Axiata) dan Telenor juga dikabarkan batal dikarenakan kompleksitas kedua perusahaan tersebut, di mana akan melibatkan 14 entitas perusahaan yang tersebar di 9 negara. Salah satu yang menjadi kendala adalah regulasi di Indonesia, namun jika XL Axiata tidak diikutsertakan dalam transaksi maka kontrol Axiata pada entitas baru akan berkurang signifikan  karena XL merupakan kontributor terbesar bagi holding Axiata, yaitu sekitar 30 persen.

Kendala Regulasi

Salah satu keengganan operator untuk melakukan konsolidasi, yaitu adanya ketidakpastian kepemilikan frekuensi paska merger-akuisisi apakah harus dikembalikan ke Pemerintah atau menjadi milik entitas baru. Jika merujuk UU 36 Telekomunikasi 1999 bahwa frekuensi adalah milik negara dan merupakan sumber daya yang terbatas, maka pemanfaatannya harus benar- benar untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Akibatnya, apabila satu operator diakuisisi oleh operator lain, maka operator yang diakuisi tersebut harus menyerahkan kembali frekuensi tersebut kepada negara. Sehingga operator yang membeli atau mengakuisisi opertator lain tersebut, hanya membeli perusahaan kosong tanpa frekuensi.

Dalam draft aturan mengenai kepemilikan pasca konsolidasi industri telekomunikasi yang sedang dirancang mengerucut pada tiga skema, pertama, frekuensi seluruhnya dikembalikan ke operator. Kedua, sebagian dari frekuensi ditarik kemudian dilelang dan ketiga yakni sebagian ditarik kemudian ditahan dulu sembari menunggu evaluasi Kominfo. Dalam aksi akuisisi Axis oleh XL, skema kedua yang terjadi, yaitu Frekuensi 1800 Mhz kapasitas 15 Mhz dikembalikan ke XL, sedangkan frekuensi 2100 kapasitas 5 Mhz dilelang dan kemudian dimenangkan oleh Indosat.

Operator Mana yang Akan Diakuisisi Hutch?

Melalui proses merger-akuisisi idealnya kedua operator bisa saling melengkapi baik dari sisi network coverage, market segment dan yang tidak kalah penting adalah sumberdaya frekuensi yang dimiliki. Jika kita melihat pilihan untuk akuisisi maka paling tidak ada tiga operator yaitu XL Axiata, Indosat Oredoo dan Fren.

Jumlah BTS dan Subscribers

Sumber: Laporan Tahunan 2018

SDari jumlah BTS, XL lebih unggul dibanding kandidat yang lain, namun secara jumlah pelanggan XL masih terpaut tipis dibawah Indosat. Keunggulan jumlah BTS ini sejalan dengan coverage XL yang lebih luas dengan coverage 400 kota dan 92% dari populasi, sementara Indosat coverage 80% populasi dan Fren hanya 200 kota.

Sumberdaya Frekuensi

Sumber: Laporan Tahunan 2018

STelkomsel memiliki total kapasitas frekuensi 82.5 Mhz, Indosat 47.5 Mhz XL 45 Mhz Fren 40 Mhz dan Fren 25 Mhz. Telkomsel memiliki kapasitas paling besar bahkan dua kali lipatnya rata-rata operator lainnya. Sementara Hutch memiliki kapasitas frekuensi terkecil. Apabila kabar yang santer terdengar terjadi, yaitu Hutch melakukan akuisi pada XL Axiata maka Hutch akan memiliki 70 Mhz sehingga akan ada dua operator yang memiliki sumber daya frekeunsi berimbang yaitu Hutch dan Telkomsel.

Enterprise Value

Tidak bisa dipungkiri, operator dominan saat ini adalah Telkomsel, dalam hal ini jika menggunakan ukuran enterprise value (EV) induk perusahaannya, yaitu Telkom, maka seluruh operator jika digabungkan hanya merepresantasikan 30%an EV Telkom. Berikut EV dari tiga operator selain Telkomsel (Telkom).

Sumber: Laporan Tahunan 2018 & kontan.co.id

SDengan market cap XL saat ini yaitu 35 Triliun dimana dalam proses akuisisi biasanya memerlukan 20-30% premium to market price maka Hutch harus merogoh kocek sekitar 42 hingga 45 Triliun untuk dapat membeli XL. Ini artinya dana injeksi dari parent company Hutch cukup untuk melakukan aksi korporasi ini, namun option yang lebih baik TM Axiata tetap menyisakan control terhadap entitas Hutch yang baru, sehingga masih ada head room untuk menggenjot ekspansi di luar jawa mengejar ketertinggalan dengan market leader.

So, akankah Hutch mengakuisisi XL kita saja lihat nanti?

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)