Mengampuni dan Diampuni

Tuhan tidak akan mengampuni orang yang tak mampu mengampuni sesamanya.

Sore itu mendadak sontak cuaca hati menjadi mendung. Bukan sekadar awan gelap, tetapi sudah menjadi badai hanya dalam bilangan menit. Keinginan untuk menutup hari puasa dengan senyuman berubah menjadi kepedihan yang tak mudah dimengerti.

Pasalnya, sangat sederhana. Saya ingin memindahkan adik saya ke rumah sakit lain dengan pertimbangan ada dokter yang kami anggap lebih ahli ketimbang dokter yang ada di rumah sakit tersebut. Karena adik saya masih dirawat di ICCU, pemindahan ke rumah sakit lain tentunya tidak semudah pasien rawat jalan. Itu sepenuhnya saya mengerti.

Yang menjadi sumber goresan di hati adalah dokter lama yang merawat tidak mau memberikan rujukan ke dokter baru, dan tidak mengizinkan perpindahan dengan berbagai macam alasan medis yang saya anggap wajar juga. Ketika kami tetap menginginkan perpindahan tersebut, muncul problem yang tidak masuk dalam akal saya yang bisa dilakukan oleh rumah sakit yang konon memiliki nilai-nilai care. Kami diminta menelepon ambulans 118 karena ambulans rumah sakit tersebut tidak diperbolehkan, secara prosedur, mengantar ke rumah sakit yang tidak dirujuk oleh dokter yang merawat adik saya.

Kami berusaha meluluhkan hati para perawat dan manajemen mengingat waktu yang sudah malam dan kondisinya mendesak. Hasilnya tetap nihil. Prosedur tidak memperbolehkan mereka menyewakan ambulans kepada mantan pasien yang keluar paksa. Mereka tidak mau mengambil risiko kalau tejadi apa apa pada pasien, tetapi sekaligus tidak mau mengupayakan agar pasien selamat sampai ke rumah sakit baru. Meminta keluarga untuk menghubungi 118 dengan segala risiko yang ditanggung sendiri. Intinya, do whatever you like with whatever resources you can get.

Fakta itu adalah budaya perusahaan yang dilakukan walaupun sangat berbeda dari budaya perusahaan yang tertulis rapi dan terbingkai sangat anggun. Kenyataan praktik di lapangan adalah care, artinya bagi pelanggan yang mampu menyetor pendapatan. Pasien adalah manusia yang dapat meningkatkan nilai perusahaan. Ketika ada pasien yang tidak menghasilkan uang masuk, budaya yang diterapkan adalah budaya bisnis biasa. We don’t care. Dalam bahasa Jakarta, “Emangnya gue pikirin.”

Malam itu kami seperti dihadapkan pada pilihan sulit. Mencoba meyakinkan mereka sudah menemui jalan buntu. Tetap mengalah dan membiarkan adik saya tinggal satu hari atau apa pun risikonya harus diangkut malam itu juga. Kami memutuskan alternatif kedua. Kami mengupayakan ambulans dari rumah sakit yang baru. Dua jam kemudian evakuasi medis ini berjalan mulus. Jakarta diguyur hujan, suasana di luar cukup dingin, tetapi suasana hati masih membara.

Malam itu saya punya dua pilihan, tetap marah atau ramah kepada perawat dan dokter yang sudah membantu selama beberapa hari. Pilihan ini menentukan sikap saya selanjutnya kepada rumah sakit tersebut.

Dalam perjalanan ke rumah sakit baru, mengiringi ambulans yang ada di depan mobil yang saya kendarai, saya memutuskan sebuah pilihan yang amat sulit. Memaafkan dan tidak dendam. Mereka hanya menjalankan perintah dan prosedur. Saya tentu tidak bisa marah kepada prosedur. Saya tentu tidak bisa protes mengapa perilaku mereka tidak sama dengan visi, misi, dan nilai-nilai yang terpampang rapi di dinding.

Sebagai praktisi bidang budaya perusahaan, tidak mungkin saya berceramah bahwa budaya adalah brand yang akan diinvestasikan di masa depan. Saya tidak mampu berargumentasi bahwa tindakan ini tidak sepatutnya, dan akan menyebabkan banyak pelanggan akan lari ke tempat lain. Faktanya, mereka akan tetap berkata, rumah sakit kami tetap penuh dan bahkan menolak pasien.

Pada pertengahan jalan, di atas jalan tol, sambil memandang adik saya yang tergeletak di ambulans depan mobil saya, saya bergumam dalam hati, “Bapa, ampunilah kiranya mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ketika saya berhasil mengampuni, senyum mulai terpancar dari hati. Bara menjadi sirna. Suhu hati sudah selaras dengan suhu luar yang semakin dingin.

Kejadian besar dan ratusan kejadian kecil yang senada terjadi setiap bulan. Bahkan ada kecenderungan, ketika kita berpuasa dan beribadah, kejadian seperti itu seakan-akan semakin banyak baik secara kuantitas maupun kualitas. Ketika kita mau sabar, Tuhan mengirim rekan yang menjengkelkan. Ketika kita ingin kuat, Tuhan mengirim persoalan yang berat. Ketika kita ingin mencintai, Tuhan mengirim orang yang paling kita benci. Ketika kita mau naik tingkat, Tuhan mengirim ujiannya. Ketika kita ingin diampuni, Tuhan mengirim orang yang harus kita ampuni terlebih dulu.

Mengampuni bukan berarti membebaskan orang yang bersalah dari hukuman. Pengampunan tidak berarti pembebasan tanggung jawab. Pengampunan bukan berarti pelanggan yang nakal boleh tidak membayar tagihan hanya karena tahu bahwa utangnya sudah dicadangkan. Pengampunan bukan juga berarti pemasok nakal boleh dipakai lagi. Pengampunan tidak juga berarti mitra yang tidak loyal akan mendapat penghargaan yang sama dengan yang loyal. Pengampunan adalah masalah hati. Namun, konsekuensi dari kejahatan, kesalahan dan kealpaan harus dijalankan. Akan tetapi, itu bukan porsi saya untuk memberi kartu merah atau kuning. Ada bagian lain yang punya wewenang.

Izinkan saya minta pengampunan bila artikel saya menyinggung Anda, pembaca budiman. Selamat Lebaran dan mohon maaf lahir-batin.

*) Penulis dua buku best seller: Built to Bless dan Lead to Bless Leader.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)