Mengapa Sulit Meraih Kemenangan?

Ilustrasi Optimis (Foto: iStockphoto)
Ilustrasi meraih kemenangan (Foto: iStockphoto)

“Meraih kemenangan” adalah kata-kata yang paling banyak kita dengar saat kita merayakan Idul Fitri. Saking seringnya mendengar kata-kata itu, kita menganggapnya biasa dan lupa memikirkannya lebih jauh. Padahal, kata-kata tersebut sesungguhnya sangat penting dan bermakna. Bukankah yang kita cari dalam hidup ini sejatinya adalah kemenangan? Dan, bukankah setiap orang ingin menang, tak ada satu pun orang yang mau kalah?

Namun, kenyataan yang kita temukan dalam hidup boleh jadi adalah sebaliknya. Faktanya, lebih banyak orang yang kalah daripada orang yang menang. Lantas, mengapa hal ini terjadi? Paling tidak ada lima alasan mengapa meraih kemenangan itu begitu sulit.

Pertama, karena kita tidak sadar bahwa fitrah manusia adalah menang. Kita ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pemenang. Bahkan, fakta bahwa kitalah yang berada di dunia ini sesungguhnya adalah sebuah bukti yang paling terang benderang bahwa kita adalah sang pemenang. Bukankah kita hanya bisa hadir ke dunia ini setelah mengalahkan jutaan “pesaing” kita? Jadi, hakikat dari eksistensi diri kita itu sesungguhnya sangat jelas: karena kita adalah sang pemenang.

Banyak orang yang tidak menyadari kenyataan yang sangat sederhana ini. Mereka hanya hidup ala kadarnya, tidak punya cita-cita yang tinggi, tidak punya mimpi indah yang ingin dicapai. Orang-orang ini hanya menjalani hidup dan tidak akan mencapai potensi terbaik yang dihadiahkan Tuhan kepadanya. Mereka sesungguhnya adalah orang yang gagal paham. Mereka tidak tahu bahwa Tuhan menciptakan setiap orang itu untuk menjadi juara, untuk menjadi pemenang, untuk menjadi yang terbaik di bidang kita masing-masing. Setiap orang mempunyai “tugas” yang spesifik yang harus dijalankannya di dunia ini. Dan untuk menjadi juara, Tuhan sudah menugerahkan bekal yang sangat cukup: kita diberi bakat (talent) dan hasrat (passion) untuk menjadi sang juara.

Kedua, karena kita menganggap kemenangan itu bersifat permanen. Ini juga sebuah kesalahan yang mendasar. Kemenangan sering membuat kita berpuas diri dan kemudian lengah. Padahal, dalam kehidupan ini menang dan kalah bisa terjadi secara bergantian dan dalam waktu yang sangat cepat. Saat ini saya memperoleh kemenangan karena mampu mengendalikan diri saya, tetapi beberapa waktu kemudian bukan mustahil saya akan jatuh kepada kekalahan, yaitu ketika saya kehilangan kendali pada seseorang yang benar-benar membuat saya marah. Saya bisa saja menang dalam hal-hal yang kecil, tetapi kalah dalam hal-hal yang besar. Banyak orang yang terlalu bergembira ketika menghadapi kemenangan dan lupa bahwa kekalahan sesungguhnya sedang mengintip dan menunggu waktu yang tepat untuk mengambil alih.

Ketiga, karena kita punya persepsi yang salah mengenai musuh. Musuh dalam pandangan banyak orang adalah sesuatu yang berada di luar diri kita, dan karena itulah kita membangun benteng pertahanan yang setinggi-tingginya dan sekuat-kuatnya. Padahal, cara kerja musuh mencuri kemenangan kita bukan seperti itu. Musuh-musuh yang canggih tidak menyerang dari luar, tetapi diam-diam menyelinap masuk ke dalam benteng pertahanan kita. Setan tidak mau mengganggu kita dari luar karena gangguan tersebut hanya akan membuat kita takut dan waspada. Justru “Setan-Setan di Abad ke-21” ini mengganggu kita dari dalam. Ia masuk ke dalam sistem pertahanan kita: pikiran kita --dan langsung memberikan instruksi dari dalam pikiran kita. Celakanya lagi, kita sering melihat apa pun yang ada di dalam sebagai teman, padahal inilah musuh yang sedang menyamar yang sangat berbahaya.

Keempat, karena pemahaman kita yang salah mengenai kemenangan. Kita menyangka untuk bisa menang harus ada yang kalah, dan karena itu, kita sibuk membuat orang lain kalah. Hal ini tentu saja menciptakan perlawanan yang sengit. Bukankah tidak ada orang yang mau kalah? Dan, bukankah setiap orang pada dasarnya akan berusaha mati-matian untuk mencapai kemenangan? Karena itu, orang yang ingin menang sendiri akan sulit untuk merealisasikan keinginannya.

Kemenangan yang hakiki adalah ketika kita bisa mencapai kemenangan bersama (public victory). Di sini setiap orang merasa menang. Tidak ada orang yang kalah dan dikalahkan. Inilah konsep kemenangan yang sejati.

Kelima, kita sulit menang karena kita tidak paham mengenai dua tipuan di dunia ini. Tipuan pertama adalah tipuan kesegeraan. Manusia adalah makhluk yang sangat berorientasi jangka pendek. Kita ingin mendapatkan sesuatu dengan segera, kita sangat tidak sabaran. Manusia adalah makhluk yang tergesa-gesa dan ingin mendapatkan sesuatu sekarang juga. Menunggu bisa berarti kehilangan kesempatan emas yang belum tentu akan datang untuk kedua kalinya.

Tipuan kedua adalah tipuan kenikmatan. Manusia menyukai sesuatu yang enak dan nikmat. Padahal, sesuatu yang enak dan nikmat tersebut belum tentu bermanfaat. Sayangnya, manusia lebih mudah tergoda oleh kenikmatan –dan demi mencapai kenikmatan itu berani menggadaikan manfaatnya. Ini yang semakin menjauhkan kita dari kemenangan. Kita harus senantiasa waspada terhadap kenikmatan (dalam bentuk apa pun) karena boleh jadi ia hanyalah tipu daya yang menyesatkan. Orang yang menang dalam kehidupan adalah orang yang senantiasa memilih manfaat di atas kenikmatan yang menggairahkan. 

Arvan Pradiansyah *)  Motivator Nasional – Leadership & Happiness

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)