Menjadi Pemimpin SFC

Oleh: N. Rengka Johanes, Direktur Bank Mitra Karya  

Sumber foto: Joemull.com

Sekarang ini orang sering berbicara tentang gaya atau style kepemimpinan, baik di lingkungan perusahaan atau pemerintahan. Banyak pakar manajemen menjelaskan berbagai model atau tipe kepemimpinan, karena rupanya orang menyadari bahwa memimpin itu bukan sesuatu yang mudah.  Karena itu, ahli manajemen ternama seperti Philip Kotter,   mengatakan bahwa, dewasa ini style kepemimpinan yang cocok adalah SFC ( See, Feel, Change ), melihat, merasakan, dan lakukan perubahan. 

Berkaitan dengan hal di atas, penelitian yang dibuat oleh Prof Kouzes, dalam karyanya yang terkenal The Leadership Challenge, yang mana ia melakukan survei kepada sejumlah besar responden dari berbagai kalangan, pebisnis, akademisi, dan birokrat. Salah satu pertanyaan dalam survei adalah sebagai berikut : “Bila Anda diberi kesempatan untuk memilih dan menentukan seorang Pemimpin, karakter atau sifat-sifat pribadi seperti apakah yang Anda inginkan?”  Hasilnya cukup mengejutkan. Dari ribuan responden, 87 persen  menyatakan bahwa mereka menginginkan pemimpin yang mempunyai integritas atau kejujuran. Sedangkan pemimpin yang visoner dan berkomitmen tinggi menempati urutan kedua, yaitu sebesar 71 persen. Dan ternyata pemimpin yang punya keberanian atau ketegasan (courage) menempati urutan ke 9, yaitu hanya sebesar 34 persen.  Rupanya pemimpin yang mempunyai ketegasan (courage) bukanlah suatu yang istimewa bagi responden. Karakter pemimpin yang tegas atau berani justru dan bahkan masih kalah jika dibandingkan dengan pemimpin yang tidak memihak ( impartial ).

Namun, dari sana kita bisa melihat bahwa kecendrung manusia untuk memilih pemimpin yang berintegritas dan jujur jauh lebih besar daripada pemimpin yang tegas dan berani. Sebab, pemimpin yang berintergitas dan jujur akan lebih dipercaya. Hal ini sesuai pula dengan hasil penelitian lainnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Paul Zak, Profesor ekonomi dari Universitas Claremont. Dalam konteks negara, menurut Zak, kepercayaan baik antara sesama rakyat ataupun antara rakyat dan pemimpinnya, akan menjadi modal utama untuk menyejahterakan rakyat. Bahkan menurut Zak, jika rasa saling percaya antara masyarakat lebih kecil dari 30 persen maka tingkat kemiskinan akan cenderung naik.     

Kembali ke Philip Kotter. Menurut Kotter ada 3 hal yang paling menonjol dari pemimpin yang berkarakter SFC ini, pertama, fokus pada tindakan dan kerja. Dengan fokus pada tindakan dan kerja, maka akan mampu merubah nilai, kualitas dan perilaku manusia yang mana pada akhirnya akan meningkatkan produktifitas atau kinerja. Entah itu di perusahaan atau negara hal ini sangat penting karena akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Kedua, Mempunyai konektivitas dengan realitas. Jadi, pemimpin SFL adalah mereka yang selalu melihat realitas ( pasar ) atau kenyataan yang ada.  Tidak boleh mengawang-awang,  atau membuat program kerja yang sulit dicapai. Melihat realitas, berarti mendorong seorang pemimpin bertindak untuk mencari jalan keluar. Ketiga, distribusi kepemimpinan ke seluruh jararan dibawahnya. Artinya, style kepemimpinan SFC itu harus mampu ditularkan kepada segenap jajaran pemimpin yang berada di bawahnya. Dengan demikian, pada setiap level pemimpin mempunyai visi yang sama terhadap suatu tujuan. Jika ini terjadi maka produktifitas kerja akan semakin meningkat.       

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa karakter seorang pemimpin yang memiliki  integritas dan jujur akan menjadi modal utama untuk memenangi persaingan entah perusahaan atau negara. Namun apakah ini sudah cukup dalam era digitalisasi seperti sekarang ini ? Rasanya belum cukup. Rupanya integritas dan jujur perlu disuntik lagi dengan dengan perilaku baru yaitu pemimpin harus menjadi seorang disruptor, yaitu mereka yang akrab dengan pengunaan Big Data,  agar mampu memahami kecenderungan atau trend apa yang sedang terjadi di pasar. Pemimpin yang memiliki karakter disruptor biasanya agak alergi dengan birokrasi yang berlebihan dan cenderung memikirkan model bisnis yang baru dan tidak memikirkan latar belakang suku atau agama. Selamat menjadi Agile Leaders !  

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)