Misleading Strategi Caleg dalam Penggunaan Digital Media Campaign

Oleh: Dianta Hasri ST.,MM, CEO dari Dh Consulting dan Dosen di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, yang aktif meneliti dan mengajar mengenai Digital Political Branding, Marketing, Digital Media dan Marketing Communication

Dianta Hasri

Beberapa bulan belakangan di setiap daerah di Indonesia sekarang sedang ramai-ramainya atribut partai, calon Presiden hingga calon legislatif yang bertebaran hampir di setiap sudut jalan. Sekarang memang sedang masa kampanye dan akan menjadi sejarah bagi bangsa kita bahwa Pemilu legislatif dan Presiden digabung menjadi satu.

Fenomena yang terjadi sekarang yang saya lihat bahwa banyak tokoh yang tiba-tiba bermunculan, belum pernah dikenal masyarakat, namun ada pula yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia legislatif ataupun para artis yang sekarang mencoba untuk terlibat dalam proses politik. Semuanya itu baik bagi demokrasi kita karena memberikan opsi yang lebih banyak kepada masyarakat. Bervariasinya para kadidat, terbatasnya waktu kampanye dan biaya membuat para caleg mempunyai strategi komunikasi yang berbeda-beda, baik dari segi penetrasi dan timing.

Berdasarkan penelitian dan pengalaman saya menjadi konsultan digital politik, maka dapat saya jabarkan beberapa tipe strategi komunikasi yang dilakukan sebagian besar calon legislatif pada saat ini, yaitu:

Early Mover

Ini adalah strategi yang banyak dilakukan oleh para tokoh baru yang belum dikenal masyarakat, mereka menggunakan momentum di akhir tahun kemarin untuk segera mempromosikan diri mereka, sebelum tokoh lain membuat alat peraga/memperkenalkan diri

Grass Root Mover

Ada beberapa kandidat yang lebih fokus untuk bergerak langsung mengunjungi masyarakat sejak awal, dan intensitasnya bervariasi. Terkadang strategi ini diikuti dengan pemasangan alat peraga yang cukup masif, seperlunya, atau bahkan yang belum sama sekali

Late Mover

Adalah sebuah strategi yang kebanyakan dilakukan oleh incumbent, mereka sudah memiliki jaringan kuat ke masyarakat, sehingga mereka berfokus untuk memperkuat jaringan grass root sejak awal kampanye, dan baru melakukan komunikasi melalui alat peraga di tiga bulan terakhir

Penetrative Mover

Adalah sebuah strategi yang mengkombinasikan blusukan yang intens dan pembuatan alat peraga yang cukup banyak sejak awal kampanye. Bisa dibilang strategi ini cukup menguras sumber daya

Setiap pendekatan yang diambil, menurut saya sah-sah saja. Banyak jalan menuju Roma, namun yang ingin saya sampaikan di sini bahwa cukup banyak calon legislatif yang sadar bahwa mereka harus menggunakan media digital untuk berkomunikasi dengan calon voter, namun ternyata mereka menggunakan media tersebut dengan salah. Berikut adalah beberapa misleading yang sering dilakukan:

  1. Media digital sama dengan media lain

Mereka masih melihat media digital adalah sebuah media yang sama dengan media konvensional lain, karena mereka hanya melihat media digital dari segi output (reach), namun tidak dari metodologi segmentasi dan branding yang disesuaikan dengan karakter voter mereka di setiap media yang disasar. Media digital, khususnya media sosial adalah sebuah media yang sangat tersegmentasi penggunanya, misalkan baby boomers tidak akan banyak yang bermain Instagram atau bahkan di Pinterest, begitu juga sebaliknya generasi millenials sudah cukup banyak yang meninggalkan Facebook sebagai media sosial mereka, namun tidak bagi baby boomers

2. Yang Penting Posting

Mungkin banyak juga yang berfikir demikian, yang penting kita sudah posting di akun sosial kita maka kita sudah melakukan strategi digital branding, well it is just a part of if!. Tidak, Anda belum selesai hanya sampai sekadar melakukan posting, tapi juga ada yang dinamakan retention, reach, engagement, repetition, evaluation dan lain-lain

3. Branding yang asal-asalan

Kebanyakan calon legislatif yang saya perhatikan mereka tidak sadar bahwa penampilan (what peoples see) akan cukup membantu mereka untuk memberikan atensi awal kepada orang yang melihat/membacanya. Bagaimana Anda mau dilirik lebih jauh oleh orang bila mereka tidak mempunyai atensi/ketertarikan terhadap desain branding yang Anda terapkan dalam setiap postingan Anda

4. To Much Millenials-Wanna Be

Saya cukup banyak melihat para calon legislatif yang mendesain konten mereka (gambar atau caption) terlalu ingin kelihatan seperti generasi milenial, namun (maaf) jatuhnya jadinya kelihatan alay (kata generasi jaman now), tidak sesuai dengan umur mereka

Lalu bagaimana seharusnya mereka bersikap atas fakta-fakta di atas? Dalam pendekatan yang telah saya kembangkan melalui riset dan pengamatan di industri marketing communication, saya bisa mengatakan ada beberapa langkah simple yang dapat dilakukan, saya namakan itu C-D-C (Content Design Channels). Apa saja penjelasan lebih detil mengenai CDC? Akan saya jabarkan pada artikel bagian berikutnya, keep in touch!

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)