Too Much Love Will Kill you

Oleh: Dwinanda Septiadhi, Strategic Management Manager PT Gajah Tunggal, Tbk

 

Belakangan ini banyak sekali banyak informasi, berita atau artikel dari berbagai media bercerita soal kejatuhan bisnis dengan berbagai macam latar belakang berbeda. Dari cerita tentang kemunduran bisnis seperti ditutupnya beberapa gerai department store ternama seperti Matahari sampai bangkrutnya perusahaan retail seperti Disctara, atau bahkan perusahaan besar yang menyediakan jasa transportasi laut di level international seperti Hanjin. Mulai dari Seven Eleven Indonesia yang baru berumur beberapa tahun sampai dengan Nyonya Meneer yang sudah berumur puluhan tahun.

Dwinanda Septiadhi, Strategic Management Manager PT Gajah Tunggal, Tbk

Pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwasannya tidak ada bisnis yang aman dari kemunduran atau kebangkrutan. Semua bisnis, baik yang yang ukurannya kecil maupun besar atau bisnis yang baru berusia beberapa tahun maupun bisnis yang umurnya sudah puluhan bahkan ratusan tahun, semua memiliki resiko kemunduran atau kebangkrutan.

Mengapa hal ini terjadi? Beberapa literatur menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut terlambat atau bahkan tidak mau berubah atau berinovasi, sementara keadaan berubah, pesaing bertambah banyak, teknologi berubah, regulasi berubah, dan tentu saja preferensi pelanggan berubah.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa mereka enggan berubah? Jawabannya adalah karena mereka terlalu terikat, terlalu nyaman, terlalu mencintai produk atau sistem yang sudah membuat mereka sukses, membuat mereka jadi penguasa pasar di masa kejayaan masing-masing. Mereka lupa bahwa, "our past success guarantees nothing". Sukses kita di masa lampau bukan jaminan kesuksesan kita di masa depan. Kesuksesan di masa lampau memang berpotensi menjadikan siapapun jumawa, besar kepala, dan enggan berubah. Ini yang sangat berbahaya, apalagi di era disrupsi seperti saat ini di mana kompetisi sudah semakin sengit. Too much love will kill you, begitu istilahnya.

I Would Do Anything For Love

Ketika dihadapkan pada perubahan, sebuah perusahaan dapat saja mengabaikannya karena merasa perubahan tersebut tidak cukup kuat untuk mempengaruhi lanskap pasar atau kepemimpinan pasar perusahaan tersebut. Hal ini dapat dipahami karena sering kali perubahan tersebut masuk atau diadopsi pasar niche, pasar yang kecil dan dengan kualitas produk dan jasa yang tidak cukup baik pada awalnya. Dalam bisnis, hal seperti ini harus diperhatikan karena seringkali kualitas new entrants tersebut naik dengan cepat dan merebut hati pelanggan di pasar mainstream. Salah satu hal yang menyebabkan hal ini terjadi adalah consensual neglect, yaitu asumsi yang menyebabkan sebuah perusahaan atau organisasi bertendensi untuk mengabaikan perubahan atau kejadian yang berlawanan menggerogoti key success factor mereka saat ini dan di masa lampau. Hal ini berbahaya karena keputusan yang diambil bisa salah.

Salah satu contohnya adalah Blackberry pada saat kemunculan Iphone. Pada dasarnya Iphone merupakan produk dengan architectural innovation. Produk tersebut muncul dengan kualitas yang belum begitu bagus pada saat diperkenalkan oleh Steve Jobs pada 9 Januari 2007 di The Annual MacWorld Conference. Mike Lazaridis, pendiri RIM menyatakan bahwa touch screen yang digunakan di iPhone masih sulit digunakan untuk mengetik. Ketidaksempurnaan iPhone tersebut seakan mengkonfirmasi bahwa kualitas Blackberry lebih bagus. Ini yang kemudian menjadi pendorong bagi Mike Lazardis untuk tetap menggunakan operating system yang dimiliki RIM. Keputusan ini membuat Blackberry turun drastis, terlebih dengan adanya Android. Berdasarkan statista.com, pada 2013, revenue RIM hanya USD 11 juta, turun sekitar USD 7 juta dari tahun sebelumnya. Revenue RIM pada 2017 hanya USD 2.16 juta.

Keputusan-keputusan seperti ini terjadi selain disebabkan oleh kesombongan pengambil keputusan, juga disebabkan oleh kekhawatiran adanya replacement effect, yaitu turunnya kinerja (revenue maupun profit) dari produk yang existing karena digerogoti produk baru yang diproduksi oleh perusahaan yang sama, sehingga akhirnya pengambil keputusan lebih memilih mempertahankam model bisnis atau produk lama atau dengan kata lain, "He would do anything for his love of existing product or business model"

First Love Never Dies

"What business are we in" ini adalah pertanyaan yang biasanya digunakan perusahaan dalam menyusun misi. Pernyataan misi ini penting karena apabila dikomunikasikan dengan benar kepada pengambil keputusan dapat mempengaruhi keputusan mengenai alokasi sumber daya dan prioritas aktititas. Dalam artikel artikel di Harvard Business Review, berjudul Marketing Myopia, Theodore Levitt mengangkat cerita kegagalan sebuah bisnis kereta karena mereka mendefinisikan bisnisnya sebagai "railroad business", disebutkan bahwa kegagalan perusahan kereta ternyata disebabkan oleh pelanggan yang memilih moda transportasi lain. Seandainya perusahaan kereta tersebut mempunyai strategic frame yang lebih luas atau mendefiniskan bisnis mereka secara lebih luas, bukan tidak mungkin mereka akan melakukan diversifikasi ke bisnis moda transportasi yang lain.

Contoh perusahaan dengan pernyataan visi yang baik (meski belum dapat disebut sebagai pernyataan visi yang ideal) adalah Disney. Didirikan pada tahun 1923 oleh Walter Elias Disney dan saudaranya Roy Oliver Disney, Disney berkembang dari produsen film kartun pendek menjadi perusahaan dengan portfolio yang beragam seperti produsen film panjang, theme park, dan televisi. Misi Disney adalah "To be one of the world's leading producers and providers of entertainment and information. Using our portfolio of brands to differentiate our content, services, and consumer products, we seek to develop the most creative, innovative and profitable entertainment experiences and related products in the world." Pernyataan misi Walt Disney ini cukup luas tetapi tetap memberikan arahan tentang bisnis apa yang menjadi bidangnya.

Contoh sukses lain adalah Nokia, di tengah badai disrupsi oleh Android, Nokia berhasil mengalihkan fokus bisnisnya ke hal lain. Pada saat bisnis telepon genggam menurun drastis, Nokia membiarkan unit bisnis telepon genggam diakuisisi oleh Microsoft, dan Nokia mengalihkan fokus ke network infrastructure. Kontribusi Nokia Network mencapai 90% dari seluruh business portfolio-nya. Saat ini Nokia network infrastructure menjadi salah satu market leader. Nokia merupakan contoh yang sangat bagus supaya kita tidak terjerat pada "First Love", karena sebelumnya, Nokia adalah produsen kayu dan hasil hutan, karet dan ban mobil, kemudian melakukan diversifikasi sampai memproduksi telepon genggam dan kemudian penyedia peralatan terkait network infrastructure.

Till Death Do Us Part

Dalam pasar yang sangat kompetitif, kedekatan sebuah perusahaan baik dengan pemasok maupun distributor atau retailer dapat menjadikan sebuah perusahaan memiliki competitive edge terhadap kompetitornya. Kepastian pasokan suplai bahan mentah atau barang setengah jadi dengan harga terjangkau membuat banyak perushaan menjalin "hubungan asmara" yang kuat dengan pemasoknya. Di satu sisi, konsep ini baik, tetapi di sisi lain hubungan yang terlalu dekat dengan pemasok dan stakeholder (pemangku kepentingan) lain dapat menjadi penghambat ketika perusahaan hendak berubah. Pemasok atau stakeholder lain seperti distributor yang tidak siap diajak berubah, dapat menghambat perubahan atau transformasi yang dilakukan perusahaan.

Ketika stakeholder, baik pemasok maupun pelanggan tidak bisa diajak berubah, perusahaan harus berani mengambil sikap untuk mencari pemasok baru atau perusahaan harus mempunyai alternative solusi di mana penggunaan komponen atau part dari pemasok tersebut tidak perlu digunakan. Posisi tawar pemasok tinggi apabila ketergantungan terhadap pemasok tinggi. Apple menghindari hal tersebut dengan menyiapkan rencana mitigasi yang cukup bagus, yaitu membuat produk dengan arsitektur baru yang tidak membutuhkan komponen dari supplier tertentu. Hal ini terjadi ketika terjadi dispute antara Apple dan Qualcomm dan Qualcomm mundur, produsen snapdragon processor untuk produk Apple. Produsen lain seperti produsen mobil dan motor mengantisipasi dengan membuat policy atau kebijakan bahwa untuk setiap komponen atau part, minimal harus ada tiga pemasok.

Di Jepang, dikenal konsep Japanese Keiretsu, di mana sebuah perusahaan, katakanlah Toyota, mempunyai andil atau saham di perusahaan-perusahaan dalam rantai pasoknya, baik pemasok maupun distributor atau retailer, sehingga Toyota bisa men-drive mereka sesuai kebutuhan. Dalam konsep business strategy, ini disebut vertical integration. Dalam melakukan perubahan atau inovasi, perusahaan harus mengajak serta pemasok dan distributor serta retailer-nya. Putus adalah kata yang tepat ketika mereka, yaitu pemasok dan distributor tidak bisa diajak berubah, jangan sampai menjadikan "Till death do us part" sebagai pegangan dalam membina hubungan.

Jadi dalam menahkodai sebuah entitas bisnis, para eksekutif atau pengambil keputusan diharapkan selalu mempertimbangkan pengarugh perubahan di pasar terhadap bisnis yang dipimpin, sekecil apapun perubahannya. Sudah seharusnya para pimpinan perusahaan selalu menjadi pemimpin dalam proses perubahan atau tranformasi di dalam perusahaan untuk menyesuaikan perubahan di luar. Kecintaan yang berlebih terhadap cara atau metode lama, sistem lama, produk lama, dan jaringan lama serta model bisnis lama dapat menjadikan perusahaan terpuruk atau bahkan ambruk. Too much love will kill you.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)