Pasar Kaget “Masa Kini”, Angin Segar bagi Produk Lokal

Istilah pasar kaget mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pasar kaget merupakan “Pasar sesaat yg terjadi ketika terdapat sebuah keramaian atau perayaan”. Pasar ini biasanya berlokasi di tempat yang seharusnya bukan difungsikan untuk kegiatan seperti pasar (pinggiran jalan raya atau lapangan olahraga) dan umumnya diisi oleh pedagang kaki lima. Namun beberapa tahun belakangan ini masyarakat Indonesia mulai diperkenalkan dengan sebuah konsep seperti pasar kaget yang dikemas dalam tampilan masa kini: berlokasi di pusat perbelanjaan dan pedagangnya bukan lagi pedagang kecil kaki lima, melainkan pengusaha lokal yang menyasar kelas menengah.

Novi Amelia Novi Amelia

Jika meminjam istilah dari Bahasa Inggris, pasar kaget masa kini ini bisa disebut Pop Up Market. Fenomena Pop Up Market, berdasarkan beberapa studi literatur, dimulai dari tahun 1999 dimana Levi’s muncul di tempat yang tidak biasa dan membuka kedai selama 6 minggu di London. Kepopuleran konsep ini pun mulai naik lagi pada tahun 2003 di Inggris dan menyebar ke Amerika hingga sampai ke Eropa pada tahun 2005 yang diikuti oleh merek-merek besar kenamaan seperti Louis Vuitton, Chanel, Calvin Klein, dll. Tujuannya? Untuk menawarkan pengalaman berbelanja yang berbeda dan menarik bagi konsumen.

Sementara di Indonesia sendiri, Pop Up Market mulai terdengar semenjak diadakan di Jakarta pada tahun 2009 dan setelah itu mulai menyebar ke kota-kota besar lain di Indonesia. Saat sekarang ini, setidaknya setiap bulan terdapat satu pop up market di Indonesia dan masih menarik ribuan bahkan puluhan ribu konsumen dalam hitungan hari. Oleh karena itu, perkembangan pop up market di Indonesia menarik untuk diikuti karena telah menjadi salah satu alternatif konsumen untuk berbelanja produk ritel.

Pop Up Market dan Produk Lokal

Cepatnya perkembangan pop up market di Indonesia dan tingginya animo masyarakat untuk berkunjung, mendorong kami untuk melakukan studi eksplorasi mengenai motivasi konsumen Indonesia yang berkunjung ke pop up market. Studi ini dilaksanakan pada April 2015 dengan menggunakan metode wawancara kepada 20 responden dan diikuti survey secara online ke 299 orang. Dari hasil studi ini ditemukan enam motivasi utama konsumen Indonesia saat mengunjungi pop up market, lima diantaranya tidak jauh berbeda dari hasil studi mengenai motivasi konsumen yang telah ada sebelumya, seperti: motif rekreasi; motif sosial; motif hedonik; motivasi untuk berbelanja; serta efisiensi, dan satu motivasi konsumen yang belum ditemui di studi mengenai motivasi konsumen yang telah ada sebelumnya, yaitu motivasi untuk menghargai produk lokal.

Berbeda dengan pop up market dalam konteks barat, dimana perkembangannya dimulai dari merek-merek kenamaan dunia, pop up market di Indonesia semenjak pertama kali diselenggarakan hingga sekarang, selalu mengusung produk-produk dari pengusaha lokal Indonesia. Hal inilah yang dapat menjadi salah satu penyebab munculnya variabel motivasi untuk menghargai produk lokal oleh konsumen Indonesia. Diwadahinya pengusaha-pengusaha lokal untuk mempromosikan produknya melalui pop up market, membuat konsumen mulai menyadari kualitas produk lokal yang tak kalah mumpuni dari produk luar, sehingga mendorong mereka untuk lebih menghargai dan mengkonsumsi produk-produk lokal Indonesia.

Oleh karena itu, perkembangan pasar kaget masa kini atau yang lebih dikenal dengan pop up market di Indonesia merupakan kesempatan yang harus dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha lokal Indonesia untuk mempromosikan kualitas produknya dengan biaya yang terjangkau.

Penulis: Novi Amelia, Mahasiswa Pascasarjana Sains Manajemen SBM-ITB

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)