Pemimpin, Sang Pengambil Keputusan

Oleh: Arif Rachman – Komunikasi Korporat PPM Manajemen

Arif Rachman – Corporate Marketing PPM ManajemenAda yang mengatakan bahwa, pemimpin atau jiwa kepemimpinan itu adalah anugerah (pemberian) dari  Tuhan, tidak sembarang orang bisa menjadi pemimpin karena tidak punya garis tangan. Tidak salah memang, tidak juga benar. Yang patut kita pahami adalah, karakter pemimpin itu bisa dibentuk, bisa dipupuk sejak dini lalu dilahirkan sebagai pemimpin yang paripurna.

Merujuk dari seminar bertema kepemimpinan dan pengambilan keputusan yang penulis ikuti. Tugas utama seorang pemimpin sejatinya hanya satu, membuat keputusan. Ilmu yang dipakai adalah ilmu kepemimpinan, cara organik mempelajari ilmu ini adalah dengan menerapkannya dalam bekerja atau dalam keseharian, best practices. Namun, menyoal pengambilan keputusan, utamanya karena ada masalah yang terjadi sehingga harus diputuskan sesuatu, pemimpin wajib menjalani proses berpikir yang rasional dan sistematis.

Dalam membuat keputusan, seorang pemimpin haruslah mempertimbangkan banyak hal. Sumber utamanya adalah informasi yang sahih (Fakta dan Bukan Fakta), ditambah dengan pengalaman best practice, sehingga bisa membaca situasi dengan tepat, dan menggunakan “alat” yang tepat untuk proses yang tepat. Lalu bagaimanakah keputusan yang tepat itu? Keputusan yang diambil haruslah optimal, bukan maksimal.

Kata “pemimpin” di artikel ini bisa diartikan sebagai pemimpin bagi diri sendiri, maupun pemimpin bagi orang banyak. Mari kita kembali bicara soal terjangan masalah bagi para pemimpin. Manakala terjadi  masalah, runutannya seyogyanya seperti ini. Pertama, mengidentifikasi masalah. Sensitivitas atau kepekaan seorang pemimpin harus bekerja. Selain itu, rumusan masalahnya juga harus tepat. Itu dapat dilakukan dengan; observasi lapangan; analisis dokumen (SWOT); mencari atau meminta informasi tambahan lain yang relevan. Hasil dari sini adalah, daftar masalah.

Dari daftar masalah yang terhimpun, tahapan selanjutnya adalah menguraikan masalah-masalah kompleks menjadi masalah tunggal. Paling simple adalah dengan memisahkan masalah yang tidak saling berhubungan, dan masalah yang mempunyai sebab-akibat. Proses ini menghasilkan masalah-masalah tunggal.

Sekarang waktunya memprioritaskan masalah. Jika ada lebih dari satu masalah yang ternyata harus ditangani, perlu menentukan masalah prioritas. Kriterianya bisa dilihat melalui kegawatannya, kedaruratannya, dan perkembangannya.  Harapannya proses ini akan menghasilkan masalah tunggal prioritas. Bila sudah mengantongi masalah tunggal prioritas, saatnya melokasi masalah.

Menjalani proses di atas, secara tidak langsung kita sedang menganalisis situasi dan menganalisis persoalan. Biasanya setelah lokasi masalah ditemukan, sebagai pemimpin kita hanya tinggal memilih (memutuskan) respons yang tepat.

Secara harfiah, keputusan yang diambil adalah pilihan/alternatif terbaik menurut si pengambil keputusan pada saat itu. Jadi memang keputusan itu sifatnya adalah subjektif, apapun itu. Hanya saja dalam organisasi hal subjektif tersebut (harus) dibalut dengan manajemen risiko, dengan “merancang” tindakan pencegahan bilamana keputusan yang diambil tidak berjalan lancar, dan tindakan penanggulangan bilamana tujuan dari keputusan tersebut melenceng karena satu dan lain hal.

Bisa dibilang keputusan yang diambil sudah sesuai prosedural, tidak asal tembak. POAC berlaku juga di sini. Planning, mengatur dan mencari cara bagaimana mencapai tujuan. Organizing, menata seluruh sumber daya yang diperlukan untuk keberhasilan rencana yang sudah ditetapkan. Actuating, menjalankan semua sumber daya secara optimal. Controlling, manuver-manuver cantik acapkali diperlukan dalam perjalanan, apalagi di era bisnis yang dinamis sekarang ini.

Penulis juga pernah mendengar, seorang pemimpin yang bijak harus bermain-main dengan logika  dan rasa. Buah pikir hasil pertimbangan dari segenap informasi yang didapat lalu diolah secara rasional menghasilkan logika. Logis, dapat dinyatakan kesahihannya. Menyoal rasa, pasti urusannya dengan hati, ini menjadi kunci juga bagi seorang pemimpin. Malah ada pepatah menyebutkan, “Memimpinlah dengan rasa, eksekusi dengan logika” , menandakan dua hal ini tidak terlepaskan.

Tapi yang jelas, seorang pemimpin haruslah sudah selesai dengan dirinya. Dalam manajemen, kaitannya ada pada manajemen diri, yang menurut Covey (1997) adalah sebagai suatu cara yang dilakukan oleh individu, yaitu: mengorganisasi kehidupannya dengan cara mendahulukan apa yang harus didahulukan. Sebuah proses mencapai kemandirian. Mampu mengendalikan diri dalam ranah pikiran, ucapan, juga perbuatan, alhasil diri bisa terhindar dari hal yang tidak baik, selain itu juga meningkatkan kelakuan yang baik dan benar bagi diri.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)