Pengembangan Keunggulan Produk Kearifan Lokal untuk Pemulihan Ekonomi

Oleh: DR. Herbert Siagian, M.Sc., Pemerhati Ekonomi dan Kelembagaan Lokal

DR. Herbert Siagian

Kemiskinan masih menjadi masalah utama di Indonesia. Banyak faktor yang menyebakan masih tingginya angka kemiskinan ini, antara lain: masih minimnya kapasitas mayarakat dalam melakukan kegiatan produktif. Selain itu penyediaan pelayanan publik khususnya yang mendasar masih minim dan ketersediaan sarana dan prasarana infrastruktur masih kurang, terutama di luar Pulau Jawa dan di Indonesia Timur. Untuk itu, negara dan pemerintah terus memberikan perhatian yang besar dalam mengatasi kemiskinan, baik dalam bentuk program dan bantuan yang generik maupun yang afirmatif. Hasilnya, pada September 2019 Indonesia mencapai angka kemiskinan sebesar 1 digit yaitu sebesar 9,22% (BPS/Biro Pusat Statistik). Ini diklaim sebagai capaian angka kemiskinan terendah sejak Indonesia merdeka. Dengan demikian, Indonesia sudah tidak lagi dikategorikan sebagai negara miskin, yang dicerminkan dengan bantuan dan pinjaman luar negri yang tidak lagi diperuntukan bagi program-program pengentasan kemiskinan.

Namun demikian, sejak awal tahun 2020, Indonesia dan dunia mengalami disrupsi global berupa pandemi Covid-19. Pandemi ini sudah berlangsung lebih dari 1,5 tahun. Salah satu dampak ekonomi yang sangat dirasakan adalah semakin meningkatnya angka kemiskinan menjadi sebesar 10,19% atau sekitar 27,55 Juta jiwa pada akhir 2020 (BPS). Selain itu tenaga kerja yang terdampak akibat pandemik Covid-19 sebasar 14,28% atau sebesar 29,12 Juta pada akhir 2020 (BPS). Menghadapi pandemik Covid-19 ini, pemerintah menerapkan tiga kebijakan besar, yaitu: pemulihan kesehatan, perlindungan sosial dan pemulihan ekonomi.

Program vaksinasi merupakan bagian penting dari kebijakan pemulihan kesehatan. Tampak program vaksinasi berjalan lancar, terukur dan dapat dikendalikan dengan baik. Ini berbeda dengan pemulihan ekonomi, dimana tidak mudah untuk dikendalikan dan diprediksi kapan dan bagaimana penyelesaiannya. Kalau vaksinasi diskenariokan dapat diselesaikan (mencapai herd immunity) sekitar 1,5 tahun kedepan, maka berbagai sumber mengatakan bahwa pemulihan ekonomi memerlukan waktu 3 tahun bahkan lebih. Namun yang pasti, pemerintah berkomitmen untuk terus berupaya menangani dampak ekonomi di masa dan paska pandemi Covid-19. Intervensi pemerintah yang diberikan antara lain berupa skema bantuan sosial, permodalan usaha dan lainnya.

Pemulihan ekonomi di masa dan paska pandemi Covid-19 terutama diperhadapkan pada banyaknya masyarakat yang terdampak akibat berhenti bekerja ataupun menurun skala ataupun kapasitas usahanya. Untuk memulai kembali bekerja ataupun berusaha, masyarakat perlu memulainya dari mengupayakan jenis usaha yang sederhana dan dengan skala mikro, kecil atau menengah sesuai dengan situasi pandemi yang masih mewajibkan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Dengan kata lain jenis usaha yang dilakukan haruslah usaha-usaha yang berbasis pada produk kearifan lokal.

Kearifan lokal intinya dapat berupa sesuatu yang berwujud (tangible) maupun yang tak berwujud (intangible). Demikian pula dalam mendukung pengembangan kearifan lokal diperlukan dukungan kelembagaan seperti koperasi, UMKM, dan lembaga-lembaga ekonomi lokal lainnya, termasuk bumdes. Bentuk lembaga yang menerapkan pendekatan monopolistik dan konglomerasi sudah tidak sesuai lagi, karena dampaknya bilamana terjadi disrupsi seperti pandemi, akan sangat cepat menurunkan dan mendestruksi kinerja perekonomian secara nasional.

Di masa pandemi Covid-19 kebutuhan pokok memiliki peminatan yang tinggi. Salah satu kebutuhan pokok adalah komoditi pangan dan komoditi pertanian lainnya yang bersifat edible. Di satu sisi, pemenuhan komoditi pangan dapat diperoleh melalui impor. Akan tetapi perdagangan ekspor impor saat ini mengalami gangguan, dimana banyak negara produsen pangan menahan produknya untuk kebutuhan domestik. Di sisi lain, komoditi pangan juga dipenuhi dari dalam negeri sendiri. Komoditi pangan dalam negeri dapat dikategorikan sebagai komoditi berbasis kearifan lokal yaitu yang diupayakan sebagai mata pencaharian utama dan turun temurun serta menjadi komoditi andalan khususnya di desa dan kawasan perdesaan. Disamping komoditi pangan, masih banyak pula komoditi berbasis kearifan lokal lainnya yang dikembangkan di desa dan kawasan perdesaan, serta dapat diandalkan untuk menggantikan pemenuhannya yang selama ini melalui rantai pasok konvensional atau diimpor.

Dengan demikian, pandemi Covid-19 menjadi suatu peluang (blessing in disguise) bagi Indonesia untuk mengandalkan berbagai produk kearifan lokal. Tentunya kita ingin produk kearifan lokal dapat tetap kita andalkan bahkan setelah pandemi Covid-19 ini selesai atau terkendali atau berubah statusnya menjadi endemi. Untuk dapat tetap diandalkan, perlu upaya segera untuk mengunggulkan produk kearifan lokal, paling tidak sebelum perdagangan dan rantai pasok konvensional kembali normal. Untuk itu desa dan kawasan perdesaan sebagai basis spasial pengembangan produk kearifan lokal yang selama sewindu terakhir ini sudah berhasil membangun infrastruktur desa, harus dikoneksikan dengan infrastruktur skala kawasan dan wilayah seperti berbagai jalan tol, dermaga, bandara dalam mendukung ketersediaan komoditi pokok bagi perkotaan atau kawasan urban. Intinya, perlu dibentuk rantai pasok baru yang lebih bisa mengutamakan produk kearifan lokal untuk dapat dijual dan disitribusikan keluar desa dan kawasan perdesaan secara efisien.

Akhirnya, strategi utama pemulihan ekonomi dengan pengembangan keunggulan kearifan lokal secara efisien dan cepat yaitu dengan menggunakan pendekatan resource based view (Barney, 2001) dan market orientation (Jaworski & Kohli, 1993 dan Narver & Slater, 1990). Kombinasi kedua pendekatan ini bertumpu pada kearifan lokal (intangible/tangible) dan berdasarkan apa yang dimiliki (intrinsic). Pendekatan ini menegaskan bahwa tidak semua produk dapat dikembangkan, namun setiap produk tersebut dapat diunggulkan dengan 4 tahap. Pertama yaitu tahap adaptif. Pada tahap ini ada 3 muatan yang harus dilakukan yaitu muatan informasi dan publikasi, muatan jejaring dan aliansi dan muatan kerjasama. Kedua yaitu tahap kreatif. Pada tahap ini ada 2 muatan yang harus dilakukan yaitu muatan apresiasi dan muatan prospek. Ketiga yaitu tahap kehandalan. Pada tahap ini ada 2 muatan yang harus dilakukan yaitu pengembangan kapasitas, riset dan pengujian dan strategi pengembangan pasar. Keempat yaitu tahap lestari. Pada tahap ini ada 2 muatan yang harus dilakukan yaitu diseminasi dan pendampingan.

Daftar Pustaka:

  • Barney, J. B. 2001. Is the Resource-Based “View” a Useful Perspective for Strategic

Management Research? Yes. Academy of Management Review, 26(1): 41–56.

  • BPS, 2021. Beranda Infografis. www.bps.go.id
  • Jaworski, B. J., & A. K. Kohli. 1993. Market Orientation: Antecedents and Consequences. Journal of Marketing, Jul., 57(3): 53-71
  • Narver, J. C., & S.F. Slater. 1990. The Effect of a Market Orientation on Business Profitability. Journal of Marketing, Oct., 54(4): 20-36

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)