Pentingnya Konsistensi Penerapan Reward dan Punishment

Oleh: Pratiwi, M.M., CAC, ATPKonsultan HR, PPM Manajemen

Pratiwi, M.M., CAC, ATP

Bagi Anda para pengguna Commuterline, pernahkah berpikir mengapa setiap harinya memilih untuk menggunakan kereta api rel listrik tersebut ketika berangkat dan pulang kantor?

Bagi penulis, memilih menggunakan Commuterline jabodetabek dikarenakan alasan tidak tahan dengan kemacetan kota Jakarta dan sekitarnya yang membuat perlu memiliki rasa sabar berjam-jam terjebak dalam mobil, atau membuat penulis harus menahan pegal badan sekaligus terpapar polusi udara karena berjam-jam macet di atas motor. Penulis memilih Commuterline karena yakin bisa menghemat waktu perjalanan dan bisa melihat berbagai variasi interaksi yang terjadi di dalamnya.

Contoh yang lebih sederhana, setiap pagi kita bangun dan berangkat ke kantor pagi-pagi sekali untuk memastikan sampai di kantor tepat waktu. Kita melakukan hal tersebut agar tidak mendapatkan sanksi dari perusahaan karena datang terlambat.

Dari kondisi di atas, penulis ingin menggambarkan bahwa secara alamiah manusia memiliki kecenderungan untuk memilih berperilaku yang akan memberikan dampak positif pada dirinya, serta akan berusaha menjauhi perilaku yang bisa memberikan dampak negatif pada dirinya.

Untuk itu dalam dunia kerja, sudah sejak lama kita kenal istilah reward dan punishment. Pertanyaan selanjutnya adalah, sudahkah perusahaan menetapkan reward dan punishment yang jelas untuk karyawannya? Sehingga dapat dipastikan bahwa setiap perilaku positif yang muncul dari karyawan, akan diganjar dengan hal positif (reward) dan sebaliknya, setiap perilaku negatif yang muncul dari karyawan, diganjar dengan hal negatif (punishment).

Jika perusahaan sudah memiliki ketentuan reward dan punishment yang jelas, selamat! perusahaan tersebut sudah lolos tahap satu. Tahap selanjutnya adalah sudahkah perusahaan atau para pimpinan di perusahaan memastikan konsistensi penerapan reward dan punishment ini? Tentunya konsistensi implementasinya sangat dipengaruhi oleh peran dari masing-masing pimpinan, mulai dari pimpinan teratas sampai dengan pimpinan di unit kerja terkecil.

Bentuk reward yang paling murah dan mudah dilakukan adalah dalam bentuk apresiasi atau pujian. Sudahkan para pimpinan perusahaan terbiasa dalam memberikan apresiasi kepada karyawan yang menunjukan perilaku positif yang diharapkan perusahaan? Sekadar ucapan “Terimakasih atas kerja kerasnya” atau “Good job, saya suka semangat kamu.” perlu dijadikan budaya untuk memastikan ada dampak atau konsekuensi positif yang karyawan rasakan atas perilaku positif yang dimunculkan sehingga perilaku positif itu pun akan diulang dan terpelihara.

Di sisi lain, bentuk punishment yang paling murah dan mudah dilakukan adalah dalam bentuk teguran. Sudahkah para pimpinan perusahaan berani untuk memberikan teguran kepada karyawan yang menunjukan perilaku negatif yang tidak diharapkan perusahaan?

Memberikan teguran biasanya lebih sulit dilakukan karena para pimpinan seringkali merasa “tidak enakan” atau “takut slek” dengan bawahannya. Sehingga teguran ini akhirnya tidak diberikan atau ditunda-tunda sampai akhirnya lupa untuk diberikan, dengan kata lain akhirnya terjadi pembiaran atas perilaku negatif yang ditunjukkan oleh karyawan.

Pembiaran ini terlihat sepele dan seolah tidak memunculkan konflik dalam jangka pendek. Namun jika ditelaah lebih dalam, karena pembiaran ini maka perilaku negatif tadi tidak diganjar dengan konsekuensi negatif bagi pelakunya, malah yang terjadi sebaliknya. Dengan pembiaran atau tanpa teguran tadi, perilaku negatif yang ditunjukan malahan diganjar dengan konsekuensi positif.

Akhirnya perilaku negatif tersebut diulang, terulang, lantas terpelihara, lalu menjadi kebiasaan. Yang lebih gawatnya jika hal tersebut dilihat oleh karyawan lainnya kemudian ditiru maka perilaku negatif tadi menjadi menular dan lama-lama menjadi budaya di unit kerja atau bahkan di perusahaan tersebut.

Untuk lebih mudah memahaminya, misalnya ada karyawan yang selalu menggunakan jam istirahat lebih daripada yang sudah diatur perusahaan, namun pimpinan tidak memberikan teguran kepadanya atau membiarkan saja perilaku tersebut. Maka karyawan tersebut akan merasa baik-baik saja, senang karena tidak ditegur, dan akan mengulangi terus perilakunya tersebut.

Lalu hal ini dilihat oleh karyawan lain “wah enak yah, bisa istirahat lebih lama, saya juga mau.”  Perilaku negatif tadi akhirnya menular dan membudaya. Maka dari itu sangatlah penting bagi perusahaan memiliki ketentuan reward dan punishment yang jelas. Dan yang jauh lebih penting adalah konsistensi implementasinya untuk memastikan terciptanya budaya memelihara perilaku positif dan menghilangkan perilaku negatif di dalam perusahaan.

Mulailah konsisten dari hal yang paling murah dan mudah untuk dilakukan!

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)