Perusahaan Kurang Gizi

Oleh: Gerald Pasolang, M.M. Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen

Gerad Pasolang, M.M.,– Trainer, Executive Development Program | PPM ManajemenBaru-baru ini cukup kaget juga mendengar cerita dari seorang kawan yang mengatakan, dalam tubuh yang secara fisik terlihat baik-baik saja, boleh jadi ada kekurangan gizi yang efeknya mungkin baru akan muncul di kemudian hari atau pada saat usia senja. Kalimat ini tiba-tiba menginspirasi penulis untuk melihat kejadian yang sama pada perusahaan.

Banyak perusahaan saat ini terlihat baik-baik saja, dalam pengertian tidak ada kendala berarti dalam bisnis prosesnya, karyawannya juga bisa bekerja sama dan menunjukkan kinerja yang tinggi, bahkan profit selalu tercapai, namun bisa saja perusahaan tidak menyadari kalau saat ini sedang terjadi kekurangan gizi atau nutrisi.

Arti gizi atau nutrisi dalam Wikipedia adalah unsur yang diperlukan agar sistem tubuh dapat berfungsi normal, bertumbuh, dan sehat. Kalau dalam konteks perusahaan, dapat disebut sebagai faktor keberhasilan kritis yang harus dipenuhi agar pertumbuhan perusahaan dapat sinambung atau dapat disebut juga sebagai faktor yang menentukan hidup matinya perusahaan.

Seperti halnya juga manusia yang kebutuhan gizinya berbeda-beda, faktor keberhasilan kritis setiap perusahaan bisa sangat berbeda, tergantung dari jenis industri, strategi, visi, misi, karateristik dan kekhususan perusahaan tersebut. Faktor keberhasilan kritis perusahaaan tidak dapat ditentukan begitu saja, membutuhkan riset yang didasarkan pada data dan fakta historikal perusahaan dan melalui proses seleksi dari sekian banyak faktor-faktor sukses perusahaan. Idealnya dalam satu perusahaan hanya terdapat lima sampai delapan faktor keberhasilan kritis.

Menurut Parmenter dalam bukunya “Key Performance Indicator”, salah satu cara menemukan faktor keberhasilan kritis organisasi adalah dengan melihat pengaruh di antara faktor-faktor keberhasilan organisasi, faktor keberhasilan yang paling banyak memengaruhi faktor keberhasilan yang lain adalah faktor keberhasilan kritis organisasi.

Disarankan organisasi membentuk tim penyusun ukuran-ukuran keberhasilan organisasi yang terdiri dari orang-orang yang kompeten dalam menganalisa bisnis organisasi secara komprehensif yang merupakan perwakilan dari masing-masing bagian atau departemen dalam organisasi. Tim ini seperti ahli gizi bagi organisaisi, yang nantinya akan melakukan brainstorming untuk menentukan faktor keberhasilan kritis organisasi dan bagaimana memastikan pemenuhan faktor keberhasilan kritis tersebut.

Berdasarkan isu dan inisiatif strategi yang akan dijalankan oleh organisasi terlebih dahulu, diuraikan faktor-faktor keberhasilan organisasi, dapat menggunakan perspektif Balance Scorecard sebagai alat bantunya, yang sudah dikenal adalah perspektif finansial, fokus pelanggan, proses internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan.

Perspektif lain yang mungkin sudah cukup dikenal juga adalah perspektif lingkungan dan masyarakat serta kepuasan karyawan. Faktor-faktor keberhasilan yang diuraikan di masing-masing perspektif tersebut kemudian dikumpulkan untuk dianalisa faktor keberhasilan mana yang paling banyak memengaruhi faktor keberhasilan lainnya.

Contoh, faktor keberhasilan kritis yang pernah ditemukan oleh tim penyusun ukuran keberhasilan pada salah satu organisasi adalah kebetahan staf inti (core business) pada organisasi. Kebetahan staf inti tersebut berdampak pada kinerja mereka bagi organisasi, sehingga hal ini akan memengaruhi terbentuknya banyak faktor keberhasian lain dalam organisasi, di antaranya ketepatan layanan dan loyalitas pelanggan utama.

Pertanyaan berikutnya adalah, bila faktor keberhasilan kritis organisasi telah diketahui lalu bagaimana membentuk faktor keberhasilan tersebut. Bila dikaitkan dengan contoh gizi, dari mana saja asupan gizi dapat diperoleh. Kembali ke temuan mengenai kebetahan staf inti sebagai salah satu faktor keberhasilan kritis di suatu organisasi, setelah dilakukan analisa lebih lanjut, diketahui bahwa kebetahan staf inti akan muncul bila ada kepuasan kerja, jalur karir, remunerasi yang kompetitif, penghargaan, dan pelatihan bagi staf inti. Sehingga hal-hal tersebut harus dipastikan terpenuhi agar kebetahan staf inti tercapai.

Bila terjadi perubahan dalam organisasi, misalnya perubahan strategi bisnis, perlu dipastikan kembali apakah faktor keberhasilan kritis organisasi juga berubah agar tidak terjadi kelalaian monitoring yang dapat menggerogoti eksistensi organisasi kapan saja. Seperti yang terjadi pada perusahaan-perusahaan besar bahkan sudah ratusan tahun yang akhirnya terguling oleh perubahan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)