Powerhouse BUMN Pariwisata | SWA.co.id

Powerhouse BUMN Pariwisata

Oleh: I Dewa Gde Satrya,  Dosen Hotel & Tourism Business, School of Tourism, Universitas Ciputra Surabaya

I Dewa Gde Satrya

Holding BUMN Pariwisata telah dibentuk dengan induk PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) dengan nama popular Injourney. Total aset seluruh perusahaan di bawah holding ini pada tahun 2024 diprediksi sebesar Rp 260 triliun, mengelola industri pariwisata dari hulu sampai hilir, termasuk 122 hotel milik BUMN. Presiden Jokowi menyatakan, holding ini akan menjadi titik balik transformasi ekosistem pariwisata Indonesia (Bisnis Indonesia, 14/1).

Pernyataan Presiden menjadi impian warga bangsa, terutama menghadirkan nilai lebih di industri pariwisata. Cita rasa kebangsaan kita semakin terdongkrak dengan hadirnya perusahaan-perusahaan besar yang iconic berasal dari Indonesia. Sebut saja, Pertamina, PLN, Telkom, dan banyak lagi. Penulis buku ”Mutasi DNA Powerhouse” (2008), Rhenald Kasali, menyebut dunia baru sebagai dunia powerhouse, yaitu dunia ekonomi yang serba besar dan iconic.

Dalam pendahuluan buku tersebut (hal. xviii-xix) ditulis, Indonesia sangat berkepentingan membangun ekonominya dengan kekuatan powerhouse. Powerhouse bukan sekadar menciptakan lapangan pekerjaan dalam jumlah besar dan menyumbang pajak yang besar, melainkan juga mengkonversi nilai tambah. Seperti Pertamina, menciptakan ”value” dari sesuatu yang statik di perut bumi menjadi manfaat yang besar. Ia juga menjadi ”icon” yang mengangkat citra baik suatu bangsa. Petronas identik dengan Malaysia, Aramco dengan Saudi Arabia, Daewoo dengan Korea, Exxon, Coca Cola, IBM, General Motors, Ford, Boeing, Xerox, Microsoft, Freeport dengan Amerika Serikat, Mercedez, BMW, Siemens dengan Jerman, dan banyak lagi.

Secara terminologi, powerhouse berarti sebuah rumah besar berbentuk badan usaha yang mengayomi puluhan hingga ratusan ribu orang, baik sebagai karyawan (langsung), maupun sebagai pemasok dan mata rantai bisnis. Dampaknya bagi perekonomian sangat besar. Namun membangun sesuatu yang besar tentu saja tidak mudah. Selain kendala-kendala internal seputar masalah manusia (kualitas SDM, karakter, dan lain sebagainya), kendala yang besar juga datang dari luar. Dalam konteks powerhouse seperti Pertamina, sosoknya yang besar seringkali disambut dengan perasaan-perasaan negatif oleh masyarakat. Dia juga kerap menjadi incaran anggota dewan. Di luar negeri, powerhouse kita kerap dijadikan sasaran akuisisi, atau dipecah menjadi lebih kecil-kecil, oleh lembaga-lembaga internasional seperti World Bank dan IMF.

Gambaran serupa dengan gagasan powerhouse dalam arti yang sebenarnya, perlahan-lahan namun pasti membangkitkan sektor pariwisatanya. Jika perusahaan powerhouse bangkit dari kondisinya selama ini karena mengalami keterpurukan dan mengalami resiko kebangkrutan, maka membangkitkan sektor pariwisata sebagai powerhouse melalui holding BUMN karena tumbuhnya kesadaran pentingnya sektor pariwisata bagi bangsa.

Sebagaimana definisi powerhouse di atas, di mana sektor usaha raksasa itu juga menjadi tumpuan banyak orang selain karyawan dan institusi negara atau daerah, sektor usaha kecil menengah sangat bergantung kepada eksistensi powerhouse. Cita-cita pariwisata sebagai powerhouse rupanya tidak jauh berbeda dengan keberadaan perusahaan powerhouse yang memberi berkah kepada banyak orang.

Namun membangun sesuatu yang besar tentu saja tidak mudah. Selain kendala-kendala internal seperti SDM dan finansial, powerhouse juga mengalami kendala-kendala eksternal. Sosoknya yang besar seringkali disambut dengan perasaan-perasaan negatif oleh masyarakat berupa penolakan-penolakan. Besar sering ditafsirkan sebagai arogan, berbahaya, bahkan selalu dianggap berperilaku menekan yang lemah dan rakus.

Government Entrepreneurship

Melalui holding BUMN Injourney, government entrepreneurship dapat diimplementasikan melalui kemampuan menyatukan dan menggerakkan segenap potensi perusahaan dalam mata rantai pariwisata yang tersebar di berbagai industri. Koordinasi, integrasi, sinergi dan sinkronisasi merupakan perwujudan government entrepreneurship yang sangat penting. Selain kompetisi setiap sub-holding industri pariwisata milik BUMN, yang sama pentingnya adalah semangat kooperasi untuk memperkuat holding.

Kinerja pemerintahan yang mencerminkan semangat entrepreneurship dapat dimonitor lewat dinamikan ’koopetisi’ yang ujung-ujungnya akan memajukan kepariwisataan dalam holding Injourney. Lebih-lebih guna mewujudkan impian pembangunan pariwisata berkelanjutan Indonesia yang bertumpu pada empat pilar strategis atau triple track strategy plus, yakni pro-pertumbuhan ekonomi, pro- penciptaan lapangan kerja, pro-pengentasan kemiskinan, dan pro- lingkungan hidup, government entrepreneurship teramat penting. Sektor kepariwisataan dapat menjadi salah satu medan riil pembuktiannya melalui holding Injourney.

Government entrepreneurship menemukan relevansinya pada perubahan pola perjalanan pariwisata pasca covid-19 yang mengandaikan pengembangan faktor manusia dalam ranah pariwisata yang membutuhkan sentuhan-sentuhan khas dan program pendekatan yang kreatif. Merangkum seluruh upaya pengembangan manusia, dapatlah diidentikkan dengan apa yang disebut Rhenald Kasali (2010) sebagai upaya pengembangan myelin atau muscle memory seluruh elemen masyarakat, warga bangsa, menyambut dunia baru pasca covid-19. Gesture, kecepatan, spontanitas, sikap action oriented, inisiatif, respon, disiplin, intrapreneuring, knowledge management, dan sebagainya, menjadi kunci bagi daya saing pariwisata Indonesia menyambut perubahan peradaban pasca covid-19. Holding Injourney diharapkan mampu membangun sinergi dan kolaborasi BUMN bidang pariwisata untuk menjadikan pariwisata sebagai powerhouse baru di Indonesia. Dengan demikian, akan tumbuh kesejahteraan sosial, kelestarian lingkungan dan perlindungan budaya lokal.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)