Pre-Employment Screening, Ketika Integritas Karyawan adalah Intangible Asset


Oleh Noviyanti Setiyaningsih, MBA, CCPS

(Anti-Fraud & Security Enthusiast, The Certified Crime Prevention Specialist (CCPS) Ambassador Indonesia, and Entrepreneur)

Dalam suatu forum diskusi formal ataupun informal dengan employers di Jakarta, sering saya tanyakan kepada mereka selaku pemilik perusahaan, direktur ataupun praktisi HR mengenai arti penting karyawan bagi mereka. Sejauh ini, belum pernah saya mendapati jawaban bahwa karyawan tidaklah penting bagi pertumbuhan bisnis mereka. Bahkan ada yang menyatakan bahwa karyawan adalah segala-galanya.

Setelah terjadi kesepakatan bahwasanya karyawan memiliki peran penting dalam bisnis mereka, saya pun mencoba mencari tahu sejauh mana mereka mengetahui karakter secara umum karyawan masing-masing? Sebagian dari mereka menjawab mengetahui sebatas informasi yang tersedia di dalam database perusahaan seperti tanggal lahir, keluarga, latar belakang pendidikan, KPI (key performance indicators) dan sebagainya.

Noviyanti Setiyaningsih Noviyanti Setiyaningsih

Pertanyaan selanjutnya adalah sampai sejauh mana mereka mengetahui integritas, kinerja, kecerdasan emosional dan risiko bisnis dari pegawai mereka? Jawabannya pun bermacam-macam. Ada pula yang tidak bisa menjawab, karena banyaknya jumlah karyawan yang dimiliki dan kurangnya media untuk melakukan penilaian dan uji kelayakan terhadap karyawan.

Apa akibatnya jika perusahaaan lalai dalam proses Know Your Employee (KYE) karena terlalu fokus dengan business set up and profit? Bagaimana jika perusahaan merekrut karyawan yang tidak tepat? Jawabannya sederhana, cepat atau lambat, merekan akan berkontribusi (besar atau kecil) terhadap keberlangsungan perusahaan karena ada risiko yang tidak diminimalisir dari awal proses perekrutan. Itulah sebabnya, sering kita baca berita ada salah satu senior manager di suatu perusahaan melakukan tindak kecurangan (fraud), seorang karyawan yang melakukan intimidasi (bullying) terhadap rekan kerjanya dalam lingkungan kerja, seorang karyawan (berikut perusahaannya) dilaporkan atas pelanggaran UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) Tahun 2008 karena memposting berita berbau SARA, dan sebagainya.

Dalam berbagai kesempatan, saya sering berbagi informasi tentang pentingnya pengecekan latar belakang (calon) pegawai atau lebih dikenal dengan istilah Pre-Employment Screening.

Apakah Pre-Employment Screening atau PES itu?

PES adalah proses yang memungkinkan perusahaan atau pemberi kerja untuk memverifikasi informasi seperti latar belakang pendidikan, riwayat pekerjaan, kinerja dan reputasi sebelumnya, serta memvalidasi dokumen-dokumen yang disediakan oleh (calon) karyawan seperti ijazah, sertifikat professional, kartu identitas dan sebagainya.

Kenapa Pre-Employment Screening penting?

PES mampu mengungkapkan informasi penting tentang perilaku, reputasi dan integritas dari (calon) karyawan sehingga perusahaan atau pemberi kerja dapat menilai potensi risiko yang dibawa oleh kandidat seperti penyalahgunaan obat-obatan terlarang, historis kebangkrutan, sejarah kriminal, masalah hukum baik pidana ataupun perdata, perilaku di sosial media dan sebagainya.

Hal apa saja yang pernah diketahui selama melakukan Pre-Employment Screening?

Sejak tahun 2011, ketika saya mulai terjun ke industri manajemen risiko dan keamanan perusahaan, sampai dengan sekarang ada banyak hal menarik yang saya temui, antara lain adanya kinerja yang tidak baik di perusahaan sebelumnya, masa kerja dan posisi yang dipalsukan, ketidaksesuaian jumlah gaji sebelumnya, dan yang paling parah adalah sertifikat dan ijazah palsu. Hal yang terakhir ini masuk dalam kategori tindak pidana.

Dalam berbagai kesempatan, sering saya mengedukasi kawan-kawan muda yang masih duduk di bangku kuliah untuk mulai mempersiapkan diri masuk ke dalam dunia kerja melalui program Fraud Awareness Campaign dan Leadership and Integrity Program yang merupakan CSR Program dari Alpha Integra Indonesia, tempat dimana saya bernaung saat ini.

Jatuh dan bangunnya perusahaan memang tidak terlepas dari peran dan kontribusi dari karyawan. Proses perekrutan yang baik akan menjaring karyawan yang baik pula. Lingkungan kerja yang baik, positif dan memiliki ketaatan terhadap peraturan (regulatory compliance) pun turut berkontribusi terhadap kinerja karyawan sehingga mampu karyawan mampu berkontribusi secara efektif dan efisien. Jadi, ketika memang karyawan merupakan intangible asset perusahaan, akan lebih baik jika kita tahu siapa sesungguhnya karyawan yang bekerja dengan kita.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)