Ramadan Kedua di Bawah Bayang Corona

Oleh: Noveri Maulana - Dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM

Oleh: Noveri Maulana - Dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM

Ramadan tahun 2021 ini bulan puasa kedua di tengah pandemi COVID-19 di seluruh dunia. Umat muslim mulai beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Mulai dari pembatasan kegiatan ibadah Ramadan berjamaah, mengurangi aktivitas kumpul untuk buka bersama, dan juga menjaga pengeluaran rutin Ramadan sebagai antisipasi dana darurat di tengah krisis yang masih tak menentu ini.

Beragam perubahan ini bukan lagi menjadi sesuatu yang baru bagi umat muslim di berbagai belahan dunia. Karena itu, penyesuaian perilaku ekonomi pun juga semakin bisa dibaca.

Menjelang Ramadan tahun ini, berbagai lembaga riset sudah memaparkan hasil analisis mereka. Mulai dari riset perilaku konsumen dari beberapa konsultan bisnis, hingga pemaparan analisis big data dari beberapa start-up berbasis teknologi di tanah air. Semuanya seakan berlomba mengemukakan hasil analisis dan prediksi terhadap perilaku konsumen di bulan puasa tahun ini.

Misalnya, riset yang dilakukan oleh The Trade Desk mengungkapkan bahwa 6 dari 10 responden penelitian mereka akan melakukan pembelian makanan secara online selama Ramadan tahun ini. Tren belanja makanan secara daring juga semakin meningkat sejak pandemi tahun lalu sehingga orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.

Sejatinya, kebiasaan ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehingga memberi peluang bisnis yang menjanjikan bagi para pelaku usaha.

Bahkan riset yang sama juga mengemukakan data bahwa 63% responden memilih untuk belanja online guna memenuhi kebutuhan mereka selama bulan puasa. Atas dasar itu pula, konsultan periklanan internasional ini juga memprediksi bahwa tren belanja secara online akan semakin meningkat di Ramadan tahun ini.

Gayung bersambut, berbagai platform online pun juga mulai menawarkan berbagai promo edisi khusus Ramadan. Gojek dan Tokopedia misalnya, beberapa hari sebelum Ramadan menjelang, mereka sudah merilis berbagai promo yang akan bisa dinikmati pengguna selama bulan puasa.

Hal senada juga disampaikan oleh riset yang dilakukan oleh Neurosensum, konsultan yang berbasis artificial intelligence dan neuroscience. Dalam paparannya, Neurosensum memprediksi bahwa tren belanja online masih menjadi andalan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya selama Ramadan tahun ini.

Dari 500 responden yang mereka survei, 37% masih menunjukkan keinginan mereka untuk melakukan transasksi secara online, dan bahkan 40% responden juga akan membeli bahan makanan untuk keperluan puasa mereka melalui platform online. Hal ini tentunya akan memberikan angin segar bagi para pelaku bisnis yang telah menggunakan online channel sebagai salah satu media penjualan mereka.

Namun peluang yang cukup potensial ini harus dipersiapkan dengan strategi pemasaran yang baik agar hasil kinerja usaha Anda juga akan memberikan dampak yang optimal. Hasil riset telah menunjukkan tren keinginan konsumen, namun belum tentu bisa menjawab sepenuhnya terkait kebutuhan konsumen yang akan menjadi prioritas.

Keinginan tak akan bisa bertahan jika tak ditopang kebutuhan. Oleh karena itu, para pelaku usaha harus mampu menindaklanjuti riset ini dengan membaca kebutuhan konsumen mereka melalui analisis yang mendalam. Tanyakan konsumen Anda, dengarkan pendapat mereka, tanggapi komentar yang disampaikan. Itulah beberapa cara bagaimana Anda memahami kebutuhan para pelanggan setia.

Kondisi perekonomian yang semakin memburuk menjadi lampu kuning bagi para pengusaha dalam memprediksi daya beli masyarakat dalam bulan Ramadan tahun ini. Selama satu tahun pandemi, gempuran ekonomi cukup dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Tak sedikit orang yang harus kehilangan pekerjaan, dan juga sebagian harus merelakan minimnya pendapatan akibat iklim bisnis yang masih mengkhawatirkan. Atas kondisi ini, tren belanja masyarakat pun masih akan mengalami perubahan.

Berkaca pada Ramadan tahun lalu, geliat industri pakaian dan kebutuhan gaya hidup lainnya masih harus terus berjuang. Perilaku belanja konsumen yang fokus pada kebutuhan pokok akan mengikis anggaran untuk belanja pakaian. Apalagi, lebaran tahun ini masih harus dirayakan tanpa menggelar tradisi ‘mudik’.

Kebijakan ini tentunya juga akan sangat berpengaruh pada angka penjualan produk pakaian dan kebutuhan gaya hidup masyarakat muslim. Namun, karena ini adalah Ramadan dan lebaran kedua yang dijalani di masa pandemi, keinginan masyarakat untuk upgrade baju baru di tahun ini akan mulai terlihat. Karena itu, strategi persaingan harga akan jadi taktik andalan bagi para pelaku usaha.

Lain halnya dengan industri kuliner. Ramadan dan lebaran tahun ini sepertinya akan menjadi momen yang sangat menjanjikan. Adaptasi masyarakat pada perilaku belanja makanan secara online akan menjadi sebuah kebiasaan baru selama bulan puasa ini. Para pengusaha kuliner harus mampu membaca kebutuhan pelanggan mereka.

Inovasi produk harus menjadi andalan, karena perang harga sudah lama terjadi di industri ini. Selain itu, perubahan pembatasan sosial menjadi pembatasan mikro menjadi angin segar bagi pelaku kuliner offline untuk kembali menggelar lapak dagangan mereka. Namun harus diingat, penerapan protokol kesehatan akan menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih lokasi pembelian.

Geliat bisnis di Ramadan tahun ini akan menunjukkan peningkatan yang cukup menjanjikan. Walau masih belum semua industri yang bisa menikmati, akan tetapi roda ekonomi sudah mulai berjalan perlahan. Berbagai potensi harus terus digali, kepiawaian dalam melahirkan inovasi harus tetap menjadi urat nadi.

Namun mitigasi risiko harus tetap dipikirkan agar bencana tak lagi menimpa bisnis Anda. Dunia usaha masih belum berjalan normal seperti semula, tapi menahan diri juga tak bisa menjadi solusi selamanya. Peluang ada di depan mata, bisa jadi bulan Ramadan ini menjadi pintu rezeki bagi Anda dan keluarga.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)