Tangga Sukses Leadership

Oleh: Jimmy Sudirgo, Head of Kamadjaja Corporate University, Indonesia No.1 Authority in Conversational Intelligence Coaching

Leadership (kepemimpinan) itu ibaratnya seperti menaiki tangga, yang saya sebut sebagai “Tangga Sukses Leadership”. Seorang leader (pemimpin) yang sukses adalah dia yang dapat melewati setiap anak tangga tersebut dengan baik hingga mencapai puncaknya. Sebaliknya, pemimpin yang gagal adalah dia yang terpeleset pada salah satu atau lebih anak tangga tersebut.

Mari kita kupas satu per satu tangga sukses leadership ini, dan semoga bisa menambahkan pada pengetahuan dan keahlian yang telah Anda miliki sebelumnya mengenai kepemimpinan. Semoga tulisan yang sederhana ini bisa memicu ide-ide atau gagasan lain yang membuat kita semua menjadi great leader dan lebih efektif lagi dalam kepemimpinan kita sehari-hari.

Kita mulai dari anak tangga paling atas: yakni visi. Seorang pemimpin menaruh pandangan pada Visi yang ingin diraih. Apapun visi itu, saya percaya umumnya merupakan kondisi di masa depan yang lebih baik. Apalagi bila visi itu begitu besar, bermakna dan mulia, tentu akan semakin sanggup menggerakkan setiap anggota organisasi untuk bersepakat meraihnya.

Dalam kepemimpinan, visi adalah bagian yang paling gampang disetujui oleh semua orang. Ini adalah anak tangga yang paling mudah. Kegagalan seorang leader seringkali disebabkan oleh anak-anak tangga yang ada di bawahnya.

Goal adalah bagian selanjutnya setelah kita menyetujui visi yang ingin dicapai. Disini pemimpin ingin ada sebuah keputusan bersama goal (tujuan) apa yang hendak dicapai, baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Tantangannya adalah bagaimana menggerakkan orang lain supaya seia sekata dan sehati dalam memutuskan goal yang akan diambil.

Apabila pemimpin telah berhasil di anak tangga goal, selanjutnya adalah Strategi. Disini tantangan seorang leader adalah mencapai kesepakatan dalam hal timing atau waktu, strategi apa yang digunakan untuk mencapai goal yang telah ditentukan sebelumnya. Biasanya dalam sebuah strategy summit atau rapat strategis, dibicarakanlah kondisi lingkungan eksternal dengan peluang dan ancaman yang ada, dan dianalisa dengan kondisi lingkungan internal organisasi dengan semua kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Dalam tahap ini diharapkan tercapailah sebuah kesepakatan atas strategi utama yang hendak dipilih.

Anak tangga di bawah strategi adalah inisiatif strategis. Yakni, tindakan-tindakan penting apa saja yang hendak dilakukan untuk mengeksekusi strategi yang telah dipilih. Seringkali tindakan ini dikemas dalam proyek-proyek inisiatif. Tantangan tahap ini adalah mencapai persetujuan dalam hal sumber daya, karena setiap inisiatif itu membutuhkan sumber daya untuk melaksanakannya. Entah dalam hal sarana, prasarana, SDM, teknologi dan lain sebagainya, yang semua itu dituangkan dalam sebuah budget (anggaran) inisiatif strategis. Pemimpin akan mengoordinasikan dan kemudian mengambil keputusan terbaik dalam hal pengalokasian budget sumber daya yang paling optimal.

Terakhir, anak tangga action. Di sini tindakan nyata dilakukan untuk mewujudkan proyek inisiatif strategi demi mencapai goal yang diinginkan. Tantangan seorang pemimpin disini adalah dalam hal akuntabilitas yang jelas, yakni siapa yang melaksanakan action (tindakan) dari setiap inisiatif tersebut. Plus bagaimana orang yang akuntabel ini diukur bahwa kinerjanya sudah baik dan sesuai yang diharapkan. Ada sebuah siklus umpan balik untuk menjamin tindakan yang prima dan terus menerus menjadi lebih baik.

Selanjutnya, bagaimana caranya supaya kita bisa menaiki tangga sukses leadership tersebut, dan dijamin tidak jatuh tergelincir?

Kita membutuhkan apa yang disebut “co-creating conversation”. Dalam conversational intelligence, hal ini berarti mengembangkan suatu percakapan dimana setiap orang di dalamnya bersama-sama dalam keterpaduan untuk mencapai sukses bersama.

Berikut ini adalah sebagian contoh ide-ide yang bisa membantu kita membangun budaya “co-creating” di dalam organisasi:

  • Membangun tujuan bersama dengan kepemimpinan yang kuat dan fokus yang tajam.
  • Klarifikasi rencana strategis (strategic plan) dan mengembangkan action plan yang jelas untuk mencapainya
  • Tetap terhubung (connect) dengan customer, future trend dan menjadi pemimpin di industrinya
  • Mendayagunakan sumberdaya yang ada, talenta, kreativitas dan tanggung-jawab, dan mendorong kerjasama dan sharing antar bagian/fungsi.
  • Menciptakan budaya “kita”, yakni “kita lakukan bersama-sama”, ada respek, keterbukaan dan komunikasi yang efektif.
  • Menciptakan dan menghidupkan “aturan main bersama”, rule of engagement, kesatuan tim, dan proses pengambilan keputusan yang jelas.
  • Fokus pada hal positif, merayakan sukses bersama, belajar dari kesalahan, dan membangun harapan dan semangat akan hari depan yang lebih baik.

Praktek-praktek ini apabila dilakukan akan meningkatkan level conversational intelligence (atau C-IQ) yang ada sehingga budaya berkinerja tinggi itu dapat diwujudkan di area kerja kita.

Bagaimana pendapat Anda?

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!