Tetap Produktif Walau Sedang Berpuasa

Oleh: Jusuf Irianto, Guru Besar Manajemen SDM Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas AirlanggaPengurus MUI Jawa Timur

Jusuf Irianto, Guru Besar Dep. Adm. Publik FISIP Universitas Airlangga, Pengurus MUI Jawa Timur

Pada awal bulan April 2022 ini, umat Islam di dunia termasuk Indonesia memasuki bulan suci Ramadhan 1443 Hijriah. Sebulan penuh menjalankan ibadah puasa berharap memperoleh ridha Illahi serta menjadi hambaNya yang bertaqwa. Bulan Ramadhan mengandung sejumlah berkah yang dapat dirasakan seluruh umat manusia.

Di antara berkah Ramadhan adalah kesehatan yang didapat bagi yang berpuasa. Menurut ahli kesehatan, puasa terbukti bermanfaat meningkatkan kesehatan baik fisik maupun psikis.

Kesehatan fisik yang diperoleh dengan berpuasa terkait dengan penguatan kerja jantung, penurunan resiko penyakit kanker, menghindari penyakit infeksi, serta menjaga berat badan ideal (lihat: https://www.halodoc.com/artikel/puasa-bermanfaat-bagi-kesehatan-ini-buktinya). Dengan berpuasa menurunkan risiko hingga 58 persen lebih rendah dari serangan penyakit jantung. Jantung lebih sehat dengan menjalankan ibadah puasa. Di samping itu, puasa mengurangi resistensi insulin sehingga mampu mengurangi resiko penyakit diabetes meski masih butuh riset mendalam untuk pembuktiannya.

Sementara itu, penyakit kanker masih merupakan masalah besar di Indonesia. Menurut WHO, tahun 2020 lampau terdapat sekitar 400 ribu kasus baru dan 230 ribu kematian. Dalam situasi ini, puasa bermanfaat menurunkan resiko kanker. Selama berpuasa, diduga laju pembelahan dan pertumbuhan sel dalam tubuh menurun akibat asupan terbatas.

Jika diikuti pola makan sehat, beribadah puasa dapat menghindari penyakit infeksi. Kombinasi puasa wajib di bulan Ramadhan dan puasa sunnah di waktu berbeda membantu perbaikan kondisi radang sendi, usus besar, serta infeksi penyakit kulit.

Orang yang berpuasa dinilai mampu mengatasi tekanan atau stres dan bahkan depresi. Selama beribadah puasa, secara psikis setiap orang pada hakekatnya sedang belajar untuk mengendalikan diri.

Namun demikian, ada berbagai keluhan dari kalangan dunia usaha bahwa puasa dapat menurunkan produktifitas. Keluhan tersebut berdasar fakta karyawan berpuasa dalam kondisi asupan berkurang sehingga mempercepat kelelahan (fatigue) sehingga kurang produktif.

Karena itu perlu dijelaskan bahwa meski berpuasa, produktifitas karyawan tetap terjaga sehingga datangnya bulan Ramadhan tak perlu dikuatirkan.

Produktifitas sebagai Sistem 

Menarik tulisan Daniel Markovitz (2021) berjudul Productivity Is About Your Systems, Not Your People yang dipublikasikan Harvard Business Review.  Bahwa mengejar produktivitas kerja sangat rasional dan bermanfaat yang didorong perbaikan sistem pekerjaan.

Markovitz menekankan pentingnya metode peningkatan produktivitas kerja dan efisiensi dengan melakukan perubahan di tingkat organisasi. Terdapat empat metode untuk menghindari penurunan produktifitas. Melalui metode ini, puasa diharap tak berkorelasi dengan penurunan produktifitas. Justru dengan berpuasa, produktifitas dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.

Metode pertama untuk meningkatkan produktifitas adalah membuat sistem organisasi yang mampu mengakomodasi ekspektasi termasuk berbagai keluhan/masalah karyawan dalam bekerja. Sistem organisasi memberi alternatif solusi terhadap masalah secara berjenjang dari level yang lebih rendah ditingkatkan ke level tanggung jawab berikutnya dengan tepat waktu.

Kedua, organisasi dapat mengembangkan suatu sistem yang secara visual memungkinkan mampu mewakili lokasi pekerjaan sehingga menjadi kolaborator akomodatif atau bersahabat dengan karyawan. Kondisi lingkungan kerja bersahabat dapat menjadi jalan lapang bagi karyawan mengungkapkan berbagai masalahnya.

Metode ketiga adalah menyusun mekanisme untuk memberi ruang bagi karyawan dapat berkomunikasi. Mekanisme yang dibuat juga mampu memilih dan memilah variasi kompleksitas dan urgensi masalah yang dihadapi. Dengan kejelasan mekanisme, semua masalah diharapkan dapat diatasi sesegera mungkin.

Kemudian Markovitz merekomendasikan metode keempat meningkatkan produktifitas melalui sistem yang memastikan semua pihak yang bertanggung jawab dalam penyelesaian tugas juga diberi wewenang membuat keputusan yang diperlukan. Tak hanya tanggung jawab dalam kewajiban melaksanakan tugas, karyawan juga dipercaya membuat keputusan tas masalah yang dihadapi.

Ke-empat metode yang disarankan Markovitz mengatasi penurunan produktifitas itu menegaskan bahwa persoalan bukan terletak pada individu, namun sejauh mana organisasi dapat mengembangkan sistem berfokus pada saluran komunikasi. Karyawan memiliki akses luas memperoleh informasi sekaligus menyampaikan gagasan dan masalah guna mendapat solusi tepat dari pimpinan.

Peran Pimpinan

Pimpinan berperan strategis membangun mental produktif karyawan. Selain sistem organisasi, Daniel Markovitz menambahkan unsur pimpinan (leaders) yang selalu berusaha menjadi acuan bagi peningkatan produktivitas karyawan.

Asa peningkatan produktifitas sering dikaitkan dengan program pelatihan yang butuh anggaran besar. Berbagai perusahaan berupaya menciptakan program sebagai pemicu kenaikan produktivitas. Namun, pelatihan menjadi tak efektif karena karyawan terjebak dalam konsentrasi pekerjaan sehingga tak mampu fokus pada skala prioritas antara pekerjaan dan pelatihan.

Karena itu, pimpinan merupakan faktor dominan mempengaruhi produktifitas didukung sistem organisasi. Dalam konteks peran penting pimpinan, sangat menarik ulasan George Westerman (2021) dalam tulisannya berjudul Rethinking Assumptions About How Employees Work yang dipublikasikan oleh MIT Sloan Management Review.

Westerman menekankan argumentasi adanya 5 (lima) asumsi tentang pekerjaan yang harus dipertimbangkan kembali oleh para pemimpin untuk meningkatkan kualitas kerja dan produktifitas karyawan dalam konteks perubahan sistem kerja.

Asumsi pertama bahwa jika orang tak berada di kantor, maka mereka cenderung tak produktif. Back to office atau kembali bekerja di kantor seharusnya bukan masalah karena  tugas-tugas tertentu dapat dilakukan secara jarak jauh, sementara ada pekerjaan lain harus dilakukan di kantor.

Dalam asumsi yang pertama ini, perhatian diarahkan pada pencapaian hasil atau output. Harus dipahami pula bahwa sejumlah karyawan dengan karakteristik berfikir bebas dan suka outdoor lebih termotivasi jika bekerja di luar dan lebih produktif tanpa ada pengawasan langsung.

Kemudian asumsi kedua bahwa aturan yang sama harus berlaku untuk semua orang tanpa diskriminasi atau pengistimewaan. Pengecualian hanya dapat diberikan untuk keadaan khusus dan kondisional, semisal fleksibelitas jam kerja atau kerja secara jarak jauh.

Sekalipun demikian, aturan yang dibuat dan diputuskan bersama harus menjadi standar bagi sikap dan perilaku semua karyawan berdasar penegasan dari pimpinan. Penegasan tersebut tentang harapan terciptanya keseimbangan antara keadilan dan otonomi bagi semua orang.

Asumsi ketiga adalah perusahaan perlu menemukan lokasi tepat keberadaan karyawan saat bekerja. Jika memungkinkan bekerja dari mana saja, perusahaan tidak memerlukan lokasi fisik bekerja. Karena itu, pimpinan perlu mempertimbangkan skema terbaik untuk kompensasi, penghargaan, atau rekognisi bagi karyawan yang bekerja dari mana saja untuk meningkatkan produktiftas.

Selanjutnya, sumsi keempat bahwa karyawan tak bekerja untuk pihak lain kecuali untuk perusahaan. Pada saat karyawan bekerja jauh dari kantor, sangat sulit untuk mengukur tingkat produktivitas dengan kecenderungan mengalami penurunan. Pimpinan harus menemukan jawaban yang tepat dalam mengukur penurunan produktifitas atau kinerja dan memotivasi karyawan agar bekerja semaksimal mungkin.

Asumsi kelima bahwa karyawan akan setia bekerja sesuai perintah pimpinan. Namun di balik kesetiaan tersebut, acap karyawan mempertanyakan kondisi kerja yang buruk penyebab stress atau tekanan. Pemimpin harus akomodatif terhadap employee’s voice dengan membingkai ulang metode pelaksanaan kerja dan pengaturan ulang sistem kerja yang lebih menyenangkan.

Dengan rekomendasi Daniel Markovitz tentang perbaikan sistem dan pemikiran ulang tentang asumsi karyawan bekerja dari George Westerman, perusahaan tak perlu kuatir produktifitas karyawan yang sedang berpuasa menurun.

Sistem organisasi yang menjamin terbukanya saluran komunikasi dan informasi didukung peran penting pimpinan memandang karyawan bekerja secara positif menjamin produktifitas meningkat.

Karyawan tetap produktif dalam bekerja meskipun sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Referensi:

Daniel Markovitz (January 05, 2021). Productivity Is About Your Systems, Not Your People. Harvard Business Review. Retrieved from: https://hbr.org/2021/01/productivity-is-about-your-systems-not-your-people

George Westerman (October 28, 2021). Rethinking Assumptions About How Employees Work. MIT Sloan Management Review. Retrieved from: https://sloanreview.mit.edu/article/rethinking-assumptions-about-how-employees-work/

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)