Work-Life Blending: Sebuah Seni Mengatur Diri

Oleh: Andina Azmi Zhusifa, M.Psi., PsikologKelompok Keahlian Human Capital Management PPM Manajemen

Andina Azmi Zhusifa, M.Psi.

Istilah work-life blending sebenarnya telah muncul sekitar empat hingga lima tahun yang lalu. Namun sayangnya konsep ini tidak begitu pesat perkembangannya. Work-life blending pada dasarnya merupakan sebuah hasil pengembangan konsep work life balance yang dirasa semakin lama semakin tidak relevan. Digitalisasi telah menyebabkan orang mengalami pergeseran sudut pandang mengenai pekerjaannya. Hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya work-life blending yang dirasa lebih cocok dengan tuntutan era saat ini.

Bermula dari keresahan para ibu bekerja di akhir abad 19, seruan work life balance mulai muncul ke permukaan. Saat itu banyak wanita yang merasa stres ketika harus bekerja hingga 44 jam/minggu dengan tanggung jawab sebagai ibu dan istri yang tidak dapat ditinggalkan. Keinginan adanya keseimbangan inilah yang membawa kita pada istilah work life balance.

Work life balance memandang kehidupan personal dan kehidupan kerja menjadi kedua hal yang berbeda dan patut diseimbangkan guna mencapai kesejahteraan. Ekspektasi yang dibawa dari work-life balance adalah ketika dalam sehari kita memiliki porsi kerja yang seimbang dengan kehidupan personal.

Istilah work-life balance begitu populer hingga saat ini. Banyak orang terpesona dengan ide yang diangkatnya. Namun tidak sedikit pula yang menganggap hal itu sulit dicapai. Bahkan sebagian orang menganggap konsep tersebut sebagai sebuah kemustahilan. Perkembangan teknologi membuat keseimbangan antara dunia kerja dan dunia personal semakin sulit dicapai.

Kini saat bangun pagi kita sudah diganggu dengan notifikasi email, tidak jarang di saat tidur pun kita mendapatkan panggilan untuk urusan pekerjaan. Apalagi sejak adanya penerapan work from home akibat pandemi, terasa mustahil menjalankan tanggung jawab kantor dan rumah di waktu yang bersamaan. Kemudahan di era digital ini membawa kita pada babak baru atas permasalahan keseimbangan hidup.

Namun pengalaman work from home setiap orang tidak selalu berakhir buruk. Tanggapan beragam hadir dari para pekerja, khususnya dari ibu bekerja. Ada yang justru merasa senang bisa bekerja dari rumah karena dapat menghemat waktu dan tenaga yang cukup signifikan.

Mereka merasa dapat lebih fleksibel mengatur waktunya dalam menjalankan setiap tanggung jawabnya. Mereka pun merasa lebih tenang ketika berada dekat dengan anak-anaknya. Di sisi lain, beberapa pekerja lebih senang bekerja dari kantor karena mereka dapat lebih fokus menjalankan pekerjaannya. Belum lagi adanya rasa bosan ketika harus menghabiskan kesehariannya hanya di rumah saja. Sebagian dari mereka juga merasa sulitnya berkomunikasi jarak jauh dengan hambatan-hambatan teknis yang dapat mengakibatkan kesalahpahaman.

Bukan hanya perkara kemustahilan dalam mencapai keseimbangan, nyatanya tidak sedikit orang yang sangat mencintai pekerjaannya dan secara sukarela menghabiskan kesehariannya untuk mengurusi pekerjaan. Hal ini menunjukan bahwa keseimbangan tidak selalu membawa kesejahteraan bagi setiap orang. Perbedaan masing-masing individu memunculkan motif serta cara yang beragam dalam memperoleh kesejahteraan hidup.

Work-life blending menawarkan fleksibilitas dalam bekerja. Jika work-life balance memandang kehidupan kerja dan kehidupan personal menjadi kedua hal yang berbeda, work-life blending memandang kehidupan kerja dan kehidupan personal merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bekerja dari kantor maupun dari rumah bukan menjadi sebuah masalah lagi, tergantung bagaimana kita mengaturnya hingga menemukan ritme kerja yang pas untuk dijalani.

Work-life blending merupakan konsep yang sangat dinamis. Keseimbangan bukanlah tujuannya, tapi kebahagiaan yang menjadi penekanan utamanya. Setiap orang memiliki cara berbeda untuk mencapai kebahagiaan. Oleh karenanya sangat memungkinkan bagi kita untuk mengatur porsi pekerjaan dan aktivitas personal masing-masing. Dapat dikatakan work-life blending mensyaratkan otoritas tinggi bagi kita sebagai karyawan dalam mengatur sebuah pekerjaan. Namun apakah perusahaan mampu memberikannya?

Di masa new normal ke depan bukan hal yang tidak mungkin perusahaan akan terus menerapkan sistem work from home bagi pekerjaan-pekerjaan yang tidak harus dilakukan secara tatap muka. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya?

Berikut upaya-upaya yang dapat dilakukan guna menyukseskan work-life blending:

1. Menerima Kenyataan

Semakin kita berusaha menuju keseimbangan maka semakin besar usaha yang dikeluarkan dengan hasil yang tidak sesuai harapan. Hal ini dapat membawa kita pada kondisi stres. Sehingga hal utama yang perlu kita sadari adalah menerima kenyataan bahwa kehidupan kerja dan kehidupan personal bukanlah yang dapat dipisahkan. Dengan begitu kita dapat menjalani pekerjaan dengan penuh dedikasi.

2. Menyusun Prioritas

Kita perlu mengatur strategi guna menyusun prioritas dalam keseharian kita. Work-life blending memungkinkan kita melakukan pekerjaan beriringan dengan pekerjaan rumah. Misal seperti mendengarkan pelatihan sambil memasak. Terdapat beberapa kegiatan yang dapat digabungkan tanpa mengurangi esensinya masing-masing. Kita perlu memilah kegiatan mana saja yang dapat dilakukan secara bersamaan tanpa saling mengganggu.

3. Temukan Cara Terbaik

Tidak semua orang dapat bekerja secara fleksibel. Banyak di antara kita yang lebih menyukai pekerjaan yang terstruktur dengan batasan yang jelas. Kita bisa mengalokasikan waktu kerja sesuai kebutuhan dan mengisolasi diri disebuah ruangan yang bebas gangguan. Kita juga bisa mencari tempat lain yang lebih mendukung produktivitas.

Setiap minggu sebaiknya kita melakukan evaluasi diri atas setiap aktivitas yang telah kita lakukan. Ketika kita merasa lelah, berarti terdapat sebuah paduan aktivitas yang kurang pas untuk dilakukan secara bersamaan. Kita perlu mencari paduan aktivitas lain sebagai strategi baru ke depannya. Ingat, pada dasarnya yang ditekankan work-life blending adalah kebahagiaan. Sehingga yang perlu diperhatikan bagaimana kita menemukan aktivitas sehari-hari yang membawa kebahagiaan bagi kita.

4. Meregulasi diri

Semua tentu butuh proses. Bukan suatu hal yang mudah untuk mengintegrasikan aktivitas kerja dan personal secara beriringan. Mungkin di awal kita akan merasa kesulitan dalam melakukannya hingga menjadi sebuah kebiasaan baru. Penting bagi kita meregulasi diri dalam menghadapi setiap prosesnya.

5. Memanfaatkan Sumber Daya

Dalam menyusun strategi tentu perlu bagi kita mengetahui sumber daya apa saja yang bisa kita manfaatkan untuk mendukung menyukseskan work-life blending. Contoh saja untuk antar anak ke sekolah, kita bisa minta bantuan tetangga untuk berangkat bersama karena memiliki tujuan yang searah. Kita bisa memanfaatkan jasa antar makanan agar kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk memasak. Kita juga bisa memanfaatkan jasa asisten rumah tangga jika memungkinkan untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah.

Selamat berefleksi!

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)