Alex Soetjipto, Bantu Indonesia Lewat Pemda Berkarya

Tinggal lama di luar negeri, bahkan telah menjadi warga negara di negara lain, tak berarti loyalitas seorang Alex Soetjipto kepada Indonesia, negara tempat dia lahir, luntur. Dia yang telah tinggal selama 25 tahun di Amerika Serikat ini justru gigih dalam membantu sejumlah daerah di Tanah Air untuk berkembang. Gerakan dia itu kini disebut sebagai “Pemerintah Daerah Berkarya.”

Alex Soetjipto Alex Soetjipto

“Sebetulnya saya sudah mulai usaha seperti ini mulai sekitar tahun 2000. Usaha untuk membantu daerah-daerah, mulai dari bentuk mempertemukan komunitas di Amerika Serikat dengan komunitas di Indonesia. Saya mulai dengan Kota Bogor,” kata Alex kepada SWA Online, di sela-sela acara Kongres Diaspora Indonesia II, di Jakarta, Selasa (20/8/2013).

Inisiatifnya ini muncul dari mana? “Waktu saya datang ke AS, saya sebagai postgraduate student untuk organisasi United Nation di New York, kan pusatnya di sana. Saya diundang ke sana. Pada saat saya di sana, saya dikumpulkan dengan orang-orang dari sekitar 100 negara. Satu hal yang saya pelajari betul-betul dan meresap ke dalam hati saya: Mereka sangat mencintai negara yang mengirim mereka ke sana, dan daerah mereka besar. Dan mereka selalu membicarakan itu, dan saya pikir itu bagus sekali.”

Berawal dari itu, ia pun lantas menerapkan konsep tersebut. “Setelah saya selesai dengan program itu dan dapat kesempatan sekolah di Missouri (AS), saya melihat ternyata kalau setelah saya berbicara dengan orang-orang setempat, setiap saya bicara, saya membawa nama dari daerah di Indonesia. Saya melihat banyak sekali yang mereka (AS) bisa dipelajari dari kita, dan sebaliknya.”

Ia lantas menyebut dirinya sebagai advokat kepada suatu daerah. “Yang saya maksud dengan adopsi itu adalah sebagai advokat. Maksudnya, kalau saya sedang diwawancarai oleh media lokal, atau saya sedang bikin persentasi, atau mengadakan kuliah di sana, saya akan memasukkan di dalam persentasi kuliah saya dan segala macam itu mengenai pemda-pemda yang saya advokasi.”

“Jadi tugas kami hanyalah sebagai promotor saja. Dan saya melakukan ini secara sukarela. Jadi, itu sumbangsih saya sebagai anggota diaspora Indonesia untuk memajukan bangsa dan negara saya, terutama untuk kepentingan orang-orang Indonesianya.”

Sekarang ini, ada tiga daerah yang dia tangani, yaitu Kota Bogor, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Kota Batu (Malang). Tiga daerah itu tak sembarang dipilih dia. Alex yang lahir di Bandung ini, sempat kuliah di Universitas Indonesia dan banyak membuat riset di daerah Bogor. “Saya kenal dengan orang-orang Bogor. Suka makanan di sana. Kalau Sangihe, kebetulan teman dekat saya ajak saya ke sana, saya ikut aktivitas di sana, terus jatuh cinta, dan saya lihat ini tempat memerlukan promosi dan segala macam. Sebagai diaspora Indonesia saya pikir minimal saya berbagi cerita dengan teman-teman di tempat saya bermukim, di Missouri, mengenai kabupaten ini.”

Dan khusus mengenai Kota Bogor, pria yang memiliki usaha di bidang konseling ini telah berhasil menciptakan “St. Louis-Bogor Sister Cities.” Penandatanganan nota kesepahaman antara pemerintah keduanya disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika melawat St. Louis, AS, pada September 2005.

“Sejak tahun 2005 sampai sekarang, sudah banyak sekali kegiatan-kegiatan yang berlangsung antara dua kota itu. Kegiatan yang kami utamakan adalah edukasi dan bisnis. Dukungan dari Pemerintah Kota Bogor dan dari Pemda St. Louis sangat luar biasa. Dan dari Pemerintah Pusat di Indonesia juga sangat luar biasa,” terang dia.

Dia berkeyakinan, langkahnya ini bisa membantu Indonesia dalam meningkatkan pertumbuhan ekonominya. “Kalau bisa terjadi satu diaspora Indonesia mengadopsi satu kabupaten sehingga program-program seperti yang sudah saya bikin itu terjadi. Mungkin bisa dua kali lipat pertumbuhan kita (Indonesia) dua-tiga tahun dari sekarang.”

“Saya melihat diaspora Indonesia yang ada di seluruh dunia, yang jumlahnya secara tidak resmi mungkin mencapai 8 juta orang. Kalau kita ambil satu juta diaspora, di mana satu orang ambil satu daerah, itu bisa jadi satu juta kabupaten. Mereka menjadikannya sebagai kabupaten yang mereka cintai, mereka mau bicarakan, dan mereka mau jadi advokat dari kabupaten itu, terus jadi program-program seperti ini.”

“Dan saya berharap nanti akan banyak sekali seperti ini bukan hanya dari AS, tetapi juga dari diaspora Jepang, dan dari negara-negara lain juga,” tutup dia. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)