Aliyah Natasya Juneanto, Menggali Peluang Kartu Kredit via Mobile Apps Banking

Perawakan mungil Aliyah Natasya Juneanto rupanya tak menyurutkan semangatnya untuk menyerap ilmu-ilmu perbankan. Kelahiran Jakarta, 25 Januari 1984 silam ini menelaah pelbagai peluang yang menyebabkan bertumbuhnya consumer banking. Salah satunya dengan aplikasi mobile apps banking yang berbasis electronic payment.

Putri pasangan Kusye Sutojo Juneanto dan Deden Rochmawaty ini tertantang untuk mengeksplorasi dan mengoptimalkan fitur-fitur yang sudah ada di kartu kredit dengan hanya memanfaatkan fungsi salah satu indera kita, jari-jari tangan. Lantas bagaimana totalitas istri dari Syahrialdi Sikar ini membawakan idenya untuk kemajuan dunia perbankan? Berikut penuturan lengkap perempuan cantik berpembawaan tenang ini kepada SWA :

Aliyah Natasya Juneanto, Sales Project Manager HSBC Aliyah Natasya Juneanto, Sales Project Manager HSBC (photo by  Gustyanita Pratiwi)

 

Bagaimana perjalanan karier Anda sejak lulus kuliah hingga sekarang?

Saya lulus S1 Komunikasi dari Universitas Pelita Harapan  tahun 2006. Sebelumnya saya pernah bekerja di L'Oreal Indonesia dan sebuah marketing consultant bernama Access One Indonesia. Setelah itu saya mengambil S2 di University of Birmingham, United Kingdom dengan konsentrasi Competitiveness and Internasional Business (2008-2009). Lulus dari sana, saya kembali ke Jakarta dan mencoba apply-apply namun belum ada jawaban. Lalu saya mencoba bekerja di bagian konstruksi dan properti selama kurang lebih 7-8 bulan. Setelah itu baru saya masuk ke industri perbankan, yaitu sebagai Management Trainee (MT) di HSBC.

Tahun pertama di HSBC, saya ditempatkan di bagian Performance and Development Manager. Tahun ke-2, saya ingin mengenal lebih banyak angka dan report, sehingga saya ditempatkan di Strategic Business Analyst. Lalu di tahun ke-3, saya pindah ke bagian Sales & Distribution sebagai Project Manager. Jadi saya menangani beberapa project yang berkenaan dengan branch HSBC di Indonesia.

Kenapa Anda tertarik berkarir di bank? Apa pandangan Anda saat ini tentang consumer banking?

Ini masih merupakan pasar yang sangat dinamis. Banyak perubahan dan tantangan di industri ini. Sebagai pekerja bank asing, tentunya fleksibilitas yang dimiliki bank kami lebih terbatas dibandingkan dengan bank lokal. Jadi banyak saingan. Marketnya juga makin tipis. Tapi over all, masa depan consumer banking, saya lihat masih cerah karena lebih mengarah ke electronic payment. Di sini saya berpikir bagaimana cara mengedukasi market sebesar Indonesia yang populasinya hampir 250 juta jiwa.

Apa saja cakupan tanggung jawab Anda di posisi sekarang?

Saya bertanggung jawab mengelola project dan mengimplementasikannya. Setelah ide dijalankan, proses monitoring juga kami jalankan. Jadi kami yang membuat semua rencana pengembangan, strategi, pendistribusian komunikasi serta proses training ke para personal banking-nya. Itu semua menjadi tanggung jawab saya dan seorang teman.

Apa terobosan Anda untuk memajukan consumer banking di tempat Anda bekerja?

Idenya berawal dari pengalaman saya sebagai customer serta pandangan saya sebagai pegawai bank. Saya melihat masih adanya peluang untuk menggali kartu kredit ini. Menurut saya, mobile apps banking yang ada di Indonesia saat ini sangat terbatas fiturnya. Jadi saya ingin mengeksplorasi dan mengoptimalkan fitur-fitur yang sudah ada di kartu kredit tersebut melalui aplikasi yang sehari-hari bisa saya bawa hanya dengan memencet jempol dan telunjuk saya. Jadi lebih memudahkan. Karena siapa sih yang sekarang ini ketika bangun tidur tidak pegang HP? Hampir semua orang pegang. Visi saya adalah mendekatkan kebutuhan banking dengan kehidupan sehari-hari kita.

Itu sudah terealisasi?

Belum. Itu memang saya gabungkan dari business case dibeberapainstitusidan sebagian juga dari khayalan saya. Ada 1 bank di Amerika yang sudah menerapkan konsep ini. Kalau di kita, debt calculator-nya lebih mengarah ke mortgage product. Jadi untuk kartu kredit, belum dibuka secara umum ke publik. Kalau yang terealisasi, mungkin lebih mengarah ke wealth management. Menurut saya, sangat sayang kalau wealth management kita hanya memfokuskan ke kalangan atas saja. Padahal masyarakat A-, B, sampai C+ sangat besar potensinya. Dan itu akan lahir dari bank itu sendiri, bagaimana produk yang bisa mengedukasi mereka mencapai nilai kekayaan atau memudahkan tercapainya nilai investasi. Cuma yang lebih penting lagi adalah bagaimana bank itu bisa mengedukasi masyarakat yang lebih besar ini.

Bagaimana cara Anda meningkatkan kompetensi diri?

Untuk leadership, saya dibantu oleh tim dan juga mentor, baik bos saya yang sekarang ataupun bos saya yang terdahulu. Mereka banyak memberi masukan. Yang namanya kerja, memang kadang mengharuskan kita lembur atau masuk Sabtu Minggu. Bukannya harus, tapi kembali lagi ke diri kita masing-masing. Karena dari situ banyak hal yang bisa kita pelajari. Dan segala sesuatu yang dilaksanakan terkait pekerjaan, tentunya merupakan salah satu proses menuju A sampai Z, tanpa kita harus kehilangan proses di tengah-tengahnya.

Nah, leadership yang sangat berpengaruh bagi saya adalah bagaimana menjadi leader yang disayangi timnya. Dia bisa disegani dan direspek karena bisa menjaga kompetensi tim dan melahirkan anak-anak buah yang berkembang sedemikian baik.

Dari perusahaan sendiri, fasilitas apa yang Anda dapatkan untuk pengembangan diri?

Perusahaan sangat mendukung pengembangan diri karyawannya melalui training. Setiap tahunnya, kami boleh memilih training mana saja yang kami perlukan agar kami bisa berkembang. HSBS sendiri punya banyak CSR dengan program-program yang mendekatkan kami pada lingkungan. Jadi terlepas dari pekerjaan, kami masih bisa melihat dunia lain. Di sini juga ada ekstra kurikuler yang mirip-mirip dengan eksul waktu kita sekolah. Jadi society-nya bermacam-macam. Ada HSBC Band segala. Saya sendiri sempat ikut HSBC Basket. Bahkan ada acara tahunan yaitu HSBC Got Talent yang menjadikan tempat ini terasa sekali kekeluargaannya.

Aliyah Natasya Juneanto menelaah pelbagai peluang yang menyebabkan bertumbuhnya consumer banking. Salah satunya dengan aplikasi mobile apps banking yang berbasis electronic payment. Foto : Gustyanita Pratiwi Aliyah Natasya Juneanto menelaah pelbagai peluang yang menyebabkan bertumbuhnya consumer banking. Salah satunya dengan aplikasi mobile apps banking yang berbasis electronic payment. Foto : Gustyanita Pratiwi

Apa hobi Anda?

Baca, browsing, dan inginnya sih jalan-jalan. Tapi karena keterbatasan waktu, kadang-kadang hobi yang terakhir ini tidak sempat dijalankan. Sekarang saya juga sedang semangat-semangatnya belajar saham. Bukan main saham ya, karena orang sering bilang main saham itu identik dengan kegiatan yang berhubungan dengan saham. Tapi buat saya itu lumayan. Bisa nambah-nambahincome :)

Apa obsesi dan target Anda ke depan?

Jujur, saya ingin menjadi wanita karir yang sukses misalnya sebagai Financial Calculator sukses seperti Ibu Ellen May. Ke depannya, saya ingin memaksimalkan potensi dan pengetahuan saya mengenai financial management untuk bangsa Indonesia karena menurut saya itu bisa digali dan dikembangkan.

Merupakan satu kebanggaan tersendiri bila saya bisa berkontribusi untuk banyak orang. Salah satu cita-cita saya memang menjadi guru, hanya mungkin saat ini belum terlaksana. Dan menurut saya jadi guru itu bidangnya bisa apa saja. Subjeknya juga bisa apa saja, tidak harus literally di sekolah. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)