Almira Shinantya, Wanita di Balik DM.ID Group

Almira Shinantya (kiri) bersama Daniel Surya & Peter Shearer Menerima Penghargaan Re-rand 100 & i40.

Almira Shinantya mengaku bukan tipe profesional yang memiliki perjalanan karier panjang atau berpindah-pindah perusahaan terlalu banyak.

Selepas lulus dari Academy of Art San Fransisco Amerika Serikat dengan jurusan Graphic Design, perempuan kelahiran 1983 ini pernah bekerja selama setahun pada perusahaan graphic design di negeri Paman Sam. Passion-nya pada design telah ada sejak lama, terlebih sang ibu yang lulusan Desain Tekstil ITB Seni Rupa memiliki usaha di bidang desain juga.

Wanita berdarah Belanda ini memutuskan pulang ke Indonesia dan menghubungi Daniel Surya yang pernah dikenalnya saat internship di Landor tahun 2005. “Sewaktu Daniel Surya sedang membangun Brand Union. Saya berpikir mau belajar dari Pak Daniel,” ceritanya. Setelah Brand Union berdiri, ia dipercaya menjadi desainer dengan penempatan di Singapura. Tak lama, Almira memutuskan kembali ke Jakarta dan menikah.

Kesempatan lain menghampirinya kembali, ketika Daniel membangun DM.ID. Dirinya ikut bersama Daniel untuk membangun perusahaan branding tersebut. Di DM.ID, ia memulai dari posisi Senior Brand Designer dan kini posisinya menjabat sebagai Managing Director DM.ID Group, salah satu usaha WIR Group yang didirikan Daniel Surya.“Tugas saya saat itu adalah menerjemahkan brief menjadi desain yang strategik dan bagus. Saat mulai terjun ke bisnisnya, Pak Daniel yang mendorongnya secara paksa,” ungkap perempuan yang baru melahirkan putra pertamanya.

Ia bersyukur Daniel banyak memberikan arahan. Kemampuannya mengelola bisnis dipelajarinya dengan super sangat cepat dan otodidak. Menurut Daniel, Almira dikenal sebagai pribadi yang sangat humble dengan banyaknya project yang telah ia dapat. Almira adalah sosok desainer yang memahami arahan strategik bagi bisnis, dapat belajar dengan sangat cepat dan baik di mata Daniel. Oleh karena itu, Daniel percaya Almira bisa memegang tanggung jawab tersebut.

Berbicara mengenai VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), bagi Almira yang paling sulit adalah managing people. “Memimpin 30 orang dengan kepala yang berbeda tidak bisa dipukul rata. Pertama, harus tahu kelebihan dan kekurangan satu per satu. Kedua, cara komunikasi pun disesuaikan satu per satu sesuai dengan tanggung jawabnya dengan pendekatan yang berbeda,” ungkapnya.

Dalam menghadapi era VUCA, peran mentor dan tim terbaik menjadi kunci. VUCA juga mengharuskan dirinya untuk mendapatkan talent terbaik dengan keyakinan yang sama pada bisnis. Menurutnya, numbers of business tetap menjadi perhatian di kala kondisi ekonomi seperti saat ini. jelasnya. Kegelisahan pihaknya minim dalam kondisi VUCA karena baginya perusahaan memang dibangun dengan uncertainty, jadi terbiasa adaptif, bukan tipe rigid.

Keberhasilan DM.ID menjadi keberhasilan tim juga. Baginya keeping our mind open untuk tahu apa tren sekarang dan bagaimana menawarkannya selalu menjawab kebutuhan klien. Ia menuturkan kebutuhan klien setiap tahunnya berbeda, walau sebenarnya ranahnya sama yaitu branding. Dulu branding sangat fokus pada visual driven dan juga strategi, namun brand baru yang diingini klien saat ini harus terlihat secara kasat mata perubahan logo dan tampilannya. “Klien sekarang makin prudent dalam memahami branding dan perubahan logo baru, bukan karena mereka tidak mau visual refreshment,” ujarnya.

Kilen DM.ID Group sudah mulai meluas ke Asia Tenggara. Dalam negeri antaranya ada Astra Life, Indosat Ooredoo, beberapa BUMN, Achilles, Corsa, Batik Semar, Rumah Zakat, dan sebagainya. Almira adalah sosok yang sangat control freak dan detail. Tak heran jika ia mampu dipercaya bertanggung jawab untuk DM.ID oleh Daniel Surya.

 

Reportase: Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)