Ambisi Elia Massa Manik Ciptakan Tim Solid Pertamina

CEO Pertamina, Elia Massa Manik.

Dipercaya memegang jabatan Direktur Utama Pertamina sejak 16 Maret 2017, Elia Massa Manik bertugas menjaga kemandirian energi negara. Peningkatan omset, profit, kemandirian atas perusahaan energi negara ini menjadi tanggung jawabnya ke depan.

Sebagai bos baru di BUMN migas itu, Elia menghadapi tantangan baru. Wajarlah, karena sebelumnya Elia menjadi orang nomor satu di BUMN perkebunan, yakni Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) dan berhasil melakukan transformasi dengan membenahi perusahaan dari berbagai aspek. Di tangannya, PTPN III Holding berhasil memperoleh laba sebesar Rp193 miliar yang bersumber dari laba 8 PTPN dan berhasil melakukan restrukturisasi hutang PTPN Group sejumlah Rp9,9 triliun dari total hutang sejumlah Rp15 triliun di 8 PTPN.

Menurutnya, berbagai tantangan yang ada di Pertamina khususnya dalam mencapai kemandirian energi menjadi hal besar. “Ini adalah program besar Presiden RI dan Pertamina telah memulai proyek strategis membangun dan merevitalisasi kilang minyak,” ungkapnya. Proyek besar ini sangat dinantikan mengingat perusahaan tidak membangun kilangnya selama 25 tahun. Melalui PP Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, Pertamina mengembangkan kilang di Cilacap, Balongan, Dumai, Balikpapan, Tuban, dan Bontan.

Upaya pembangunan kilang minyak baru Pertamina ini disertai dengan peningkatan kehandalan fasilitas pengolahannya. Nilai investasi yang digelontorkan Pertamina untuk proyek kilang ini mencapai US$30 miliar. Proyek akselerasi ini cukup ambisius, mengingat dalam sejarah Pertamina terakhir pembangunan kilang besar di tahun 1997 dengan dana US$2,5 miliar di Balongan.

Tugas Pertamina juga semakin berat lantaran harus memacu agresivitas di sektor hulu (upstream). Hal ini disebabkan lifting minyak bumi perusahaan mencapai 330 ribu barel per hari, sementara kapasitas kilang hanya sebesar 880 ribu barel. Namun, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mencapai 1,7 juta barel sehingga Pertamina harus agresif lagi dalam meningkatkan lifting di hulu.

Sebagai pemimpin baru Pertamina, Elia berusaha membentuk satu komunikasi dan tim yang solid. Menurutnya, itu kunci segalanya, formula tersebut nantinya harus didukung transparansi atau keterbukaan. “Lewat cara itu saya dapat merangkul semua direksi dan bertanggung jawab dalam semua aspek di sendi Pertamina. Itu juga menjadi program 100 hari ke depan,” ungkapnya. Cara ini juga menjadi contoh untuk karyawan lainnnya.

Cita-citanya untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia juga dibangun dari sisi sumber daya manusianya, tidak hanya program saja. Pertamina menjalankan Executive Development Program bagi mereka yang ingin menjadi manajer untuk mempersiapkan segala kompetensi dari dasar hingga terapan. “Program tersebut akan meningkatkan keterampilan seorang pemimpin untuk berinovasi dan menciptakan efisiensi. Cara ini juga untuk menghadapi kondisi persaingan usaha yang semakin ketat. Ketika harga dan pasar tidak bisa dikontrol, pengontrolan biayaah yang diperlukan. Harus menjadi budaya,” ungkapnya.

Keinginan untuk belajar, itulah yang ingin diwujudkan Elia dalam memimpin. Belajar bersama ke arah yang lebih baik dengan semangat yang sama itulah yang dibutuhkan Pertamina. “Keinginan belajar akan menjadikan kita berproses untuk menjadi lebih pandai lagi. Dengan belajar menjadi tahu, dari tahu menjadi expert, dan berinovasi. Karyawan seperti inilah yang akan menjadikan Pertamina menjadi terdepan,” ungkapnya.

Menghadapi era millenial, Pertamina mengakomodir dengan kesiapannya akan teknologi, di mana generasi ini ramah akan teknologi yang sedang berkembang. Kebutuhan akan apresiasi pada generasi millenial diterapkan Pertamina melalui program akselerasi. “Melalui program ini dilakukan penilaian berdasarkan base high performance yang meliputi self assement, soft skill, performance base, personality, proses coaching dan sebagainya. Mereka yang memiliki kompetensi dan kapasitas, tanpa menunggu waktu akan kami promosikan untuk jabatan selanjutnya,” jelasnya.

Berkat kepemimpinannya, dualisme tidak lagi terjadi di Pertamina. Tim yang solid dan integritas, ia bangun tanpa memberikan ruang untuk kepentingan kelompok atau golongan. Masalah yang dialami salah satu divisi di Pertamina, bukan hanya menjadi persoalan bagi satu divisi tersebut, harus diselesaikan bersama antar divisi melalui evaluasi. Transformasi Pertamina dengan perubahan budayanya dilakukan secara perlahan dan pasti. Baginya, perubahan harus dimulai dari pucuk pimpinan. Visinya untuk bangkit kembali menjadi semangat yang sejalan dengan Nawacita yang dicanangkan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

 

Reportase: Akbar Keimas

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)