Andri Hidayat, Sosok Penting di Operasional Prodia

Prodia telah menguasai pasar Asia Tenggara dengan jaringan 250 laboratorium. Beragam inovasi telah lahir di bawah arahan Direktur Operasional Prodia, Andri Hidayat. Mimpi besarnya adalah membawa Prodia menjadi raja di negeri sendiri era perdagangan bebas ASEAN. “Strateginya, bagaimana memperkuat basis pasar (di Indonesia) sebelum memperkuat di negara lain,” katanya.

Lulusan S-3 Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini adalah salah aktor kunci di balik pertumbuhan pesat Prodia. Bergabung sejak 1997, ia kini dipercaya menjadi Direktur Operasional pada 2014 lalu.

Ia masih ingat saat dirinya diminta membangun sistem di perusahaan saat baru bergabung. Meskipun saat itu masih buta soal programmer, Andri berani mengiyakan. Hasilnya, sistem yang fokus pada efisiensi laporan masih dipergunakan sampai saat ini. “Dari report yang membutuhkan waktu dua pekan lebih untuk realisasi, kini sudah bisa diakses hanya dalam waktu 5 hari kerja,” katanya.

Direktur Operasional Prodia, Andri Hidayat Direktur Operasional Prodia, Andri Hidayat

Terobosan lainnya hadir saat dirinya dimutasi ke Medan. Alumni Farmasi Universitas Padjajaran ini yang menginisiasi kerja sama dengan Universitas di bidang pendidikan dan penelitian. Dari kerja sama ini, Prodia sukses meraih kenaikan pendapatan yang signifikan.

Yang terbaru adalah implementasi sistem informasi dan teknologi di tahun 2012 saat dia merangkap jabatan di divisi IT. Sejak itulah, Prodia memiliki sistem perusahaan yang bagus, seperti ERP dan CRM hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun.

“Prinsip utama saya adalah terus belajar apapun karena belajar adalah dasar dari pertumbuhan. Apalagi, atmosfer di Prodia sangat mendukung untuk terus belajar dan belajar,” katanya.

Sebagai market leader di laboratorium, Prodia tak boleh terlena. Mereka mesti jeli mengintip aksi kompetitor mereka yang tak kalah agresif. Pertumbuhan di sisi pendapatan dan laba mesti dijaga baik. Tak kalah penting adalah menjaga kualitas layanan.

Persaingan tidak hanya di level domestik, tetapi juga di tingkat dunia. Kuncinya adalah menjaga kualitas sumber daya manusia dan menjaga loyalitas mereka. Caranya, dengan fokus pada pendidikan dan pelatihan karyawan. “Karyawan kami banyak diincar di tempat lain,” ujar dia.

Sektor kesehatan cukup tahan di segala situasi ekonomi. Pertumbuhannya kian pesat seiring terselenggaranya Jaminan Kesehatan Nasional oleh Badan Pelaksana Jaminan Sosial sejak 2014 lalu. Rencananya, seluruh masyarakat Indonesia akan tercover pada 2019 mendatang.

Selain itu, upaya pencegahan saat ini lebih banyak dipilih ketimbang mengobati. Upaya deteksi dini penyakit berat seperti kanker, jantung koroner, hipertensi, dan diabetes kini bisa dilakukan dengan mudah lewat pemeriksaan di laboratorium.

“Peluang lain yakni personalized medicine dalam ilmu kedokteran. Prinsipnya, saat ini pengobatan seseorang tidak bisa sama dengan orang lain. Jadi, potensinya sangat besar,” ujarnya. (Reportase: Rizky C. Septania)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)