Arto Soebiantoro

Pengalaman berkarier di beberapa perusahaan periklanan multinasional seperti BBDO Komunika, JWT dan Chuo-senko membuka mata Arto Soebiantoro bahwa para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) belum banyak disentuh ihwal makna dan fungsi sebuah merek. Umumnya, bisnis jasa konsultasi brand image menyasar kalangan korporasi besar asing dan lokal yang mapan secara merek dan permodalan. "Para pelaku UKM umumnya memandang merek hanya sebuah nama. Padahal, dengan memahami makna merek, bisnis UKM akan lebih bisa berkelanjutan dan berkembang menjadi korporasi," ujar sarjana periklanan dari universitas ternama di San Francisco, AS, ini.

Itulah yang mendasari Arto membangun bisnis jasa konsultasi brand image building dengan nama gambaranbrand, tiga tahun lalu. Kelahiran Jakarta, 17 Juni 1973, ini punya cita-cita membangun merek Indonesia yang bisa eksis di dalam dan luar negeri. Keterbatasan modal untuk investasi membangun merek yang rata-rata dihadapi UKM tak menyurutkan langkahnya untuk menyosialisasi pentingnya merek bagi sebuah bisnis. Dengan metode subsidi silang, UKM yang terbatas modalnya tetap bisa menjadi kliennya tanpa dipungut bayaran. Dana subsidi itu diperoleh dari fee mengembangkan merek UKM yang lebih mampu.

Gado-Gado Boplo, Toko Roti Clairmont, Hotdog Booth, Ranch Market dan Pisang Banana adalah beberapa contoh kliennya. Arto berharap akan semakin banyak lagi merek lokal yang bisa ditata ulang persepsi atau gambaran yang ingin diciptakan, dibentuk dan disampaikan kepada konsumen. Dengan jaringan mitra yang disebarkan ke beberapa kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Denpasar, dia optimistis edukasi pentingnya memahami makna merek di kalangan UKM mudah terealisasi.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)