Brata Rafly Sempurnakan Kesuksesan Bersama Mandala

Setelah lebih dari 16 tahun berkutat di bidang penjualan dan pemasaran perusahaan IT multinasional, kini Brata Rafly memutuskan untuk berkarier di salah satu perusahaan nasional yang sempat dirundung masalah, PT Mandala Airlines. Terhitung sejak September 2012, Mandala Airlines menunjuk pria kelahiran Padang, 22 September 1974 ini memangku jabatan Direktur Komersial.

Brata Rafly, Direktur Komersial Mandala Airlines

Bagi pria bertubuh atletis yang gemar memasak dan membenahi rumah ini, posisi sebagai Director Sales and Chief Representative Intel, Country Sales Director di Yahoo! Indonesia dan bekerja lebih dari empat tahun di Microsoft Corporation dengan jabatan terakhir sebagai Country Manager untuk MSN Indonesia, tak membuatnya benar-benar merasa sukses.

Salah satu indikator kesuksesan bagi lulusan Telekomunikasi di University of Denver, Amerika Serikat ini adalah ketika seseorang mampu berkontribusi terhadap negara. Melalui perusahaan nasional seperti Mandala Airlines inilah Brata berusaha menyempurnakan kesuksesannya.

Berikut petikan wawancara Lila Intana dari SWA Online dengan Brata Rafly:

Anda memiliki latar belakang dan pengalaman di bidang IT dan sekarang memutuskan untuk berkarier di Mandala Airlines, apa ingin mencicipi pengalaman baru?

Buat saya posisi sekarang ini sebagai sebuah tantangan baru dengan industri yang sedang berkembang pesat. Background saya sebenernya di IT sales.  Kebetulan mendapatkan kesempatan dari Microsoft untuk pegang online divisi mereka, MSN Indonesia.  Jadinya saya juga sempat di industry media, online media, seperti MSN dan Yahoo.  Saya pikir sih setiap industry sama dalam arti target customernya sama.  Jadi tinggal memakai strategi yang sama untuk jualan software (Microsoft), atau jualan Laptop (Intel) atau jual media iklan (Yahoo/MSN), begitu pula jualan tiket pesawat.

Maskapai tempat Anda bekerja pernah mengalami masa suram saat dicabut izin terbangnya tahun 2011 silam akibat masalah keuangan, kemudian di 2012 beroperasi kembali. Inovasi apa yang dapat diharapkan dari Mandala Airlines saat ini?

Saat ini kami didukung oleh dua investor kuat. Pertama, Saratoga Capital, sebuah private investment company yang didirikan oleh Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno. Kedua adalah Tiger Airways, salah satu major player yang berbasis di Singapura yang juga merupakan bagian dari Singapore Airlines. Jadi dari sisi keamanan dan ketepatan waktu penerbangan, semua berstandar internasional.

Dengan kondisi seperti yang Anda sebut tadi, artinya Mandala saat ini sudahsehat. Anda melihat ini peluang yang baik bagi karier Anda?

Saya ambil kesempatan ini waktu ditawarkan Mandala karena saya melihat tantanganya, tapi opportunity-nya juga sangat besar. Tantanganya lebih ke arah membangun nama besar Mandala yang sempat berenti, tapi karena nama Mandala sudah establish dan harum di mata masyarakat Indonesia, jadi tidak terlalu menjadi tantangan. Apalagi sekarang dengan management baru dan investor baru yang sangat terkenal di bidangnya masing masing, ditambah armada pesawat yang baru semua.

Target apa yang Anda tetapkan bersama Mandala Airlines?

Menjadikan Mandala Airlines sebagai Airlines terbaik di Asia Pacific. Melayani transportasi untuk masyarakat Indonesia pada umumnya dengan mengutamakan keselamatan yang tinggi dan juga ketepatan waktu sehingga bisa memberikan kenyamanan ke penumpang kami.

Anda pernah mengatakan, tahun ini pangsa pasar Mandala masih di bawah 5%. Apakah Anda optimis ke depannya Mandala mampu menjadi pemain utama? Kira-kira butuh berapa tahun lagi hingga Mandala menjadi sangat besar di bisnis budget airlines ini?

Kalau dibanding dari hanya Mandala Airlines sendiri, kami memang baru dan masih bertumbuh untuk menambah pesawat-pesawat. Tetapi jika digabung dengan sister company kami Tiger, merupakan pemain yang cukup besar di Asia Pacifik dengan persentase yang besar.

Kami akan tumbuh dengan agresif, tapi tetap dengan perhitungan yang baik sehingga kami bisa melayani dan memberikan servis yang konsisten dan terbaik ke customer kami.

Memiliki latar belakang dan pengalaman kerja di perusahaan IT, bagaimana strategi online Mandala di bawah kepemimpinan Anda saat ini?

Perusahaan low cost carrier pada akhirnya sangat bergantung dengan strategi  online. Dari situlah kami dapat mendorong pertumbuhan konsumen. Selain itu, lebih managable. Dari sisi operasional, kami serahkan semua ke Tiger Airways yang memang sudah profesional. Dengan bergabung dengan Tiger, kami punya lebih dari 30 destinasi dan lebih dari 12 negara. Biar tidak pusing, diurus di satu booking engine saja. Namun konsumen tetap bisa melakukan pencarian di situs Mandala.

 

Kami juga punya Fan-page Mandala dan Tiger Airways di Facebook dan akun Twitter Mandala. Kami baru beroperasi kembali pada April lalu, jadi saat ini masih menggodok strategi online ke arah yang lebih baik lagi.

 

Menurut kacamata Anda, seperti apa karakteristik dari pengguna pesawat komersil di Indonesia, apakah lebih menggemari budget airlnes atau justru yang full service airlines?

 

Saya lihat pengguna pesawat sekarang bukan lagi melihat sebagai kebutuhan luxury lagi.  Dengan adanya budget airlines, membuka opportunity untuk melakukan menggunakan transportasi ini lebih sering lagi seperti saat berlibur atau pun bekerja. Selain itu juga membuka opportunity ke masyarkat golongan social economic yang  mid and low untuk menggunakan pesawat. Seperti yang tadinya naek bus atau kereta, dengan penerbangan murah, mereka bisa menggunakan pesawat yang akan menghemat banyak waktu. Meski begitu full service airline masih pasti mempunyai pangsa, especially untuk penerbangan jauh.

 

Bagi kebanyakan orang termasuk juga saya, Anda telah mencapai sukses dalam berkarir. Bagaimana pendapat Anda, apakah Anda sudah merasa meraih sukses? Jika belum, target apa yang belum Anda gapai selama berkarier? 

 

Waduh, terima kasih jika saya dikatakan sukses. Sebenernya saya tidak pernah membuat benchmark untuk sukses saya.  Jadi saya jalanin roda hidup aja.  Alhamdulilah selalu berjalan dengan baik selama ini.

 

Indikasi sukses saya adalah waktu saya lihat sekitar saya sukses setelah saya bekerja di tempat tersebut; tim saya, perusahaan saya, customer saya.  Kalau saya lihat tim saya sukses, happy dan semangat bekerja bersama-sama, atau perusahaan saya sukses dan customer saya happy, dan lebih jauh lagi bisa berkontribusi terhadap bangsa dan membuat keluarga saya bangga, baru saya akan merasa sukses.

Apakah dengan bergabung bersama perusahaan nasional seperti Mandala, menjadi jalan bagi Anda untuk ikut berkontribusi kepada negara dan melengkapi kesuksesan Anda?

 

Ini salah satu reason saya join di Mandala, setelah bekerja lama di perusahaan multinasional.  Saya ikut bergabung dengan perusahaan kebanggaan negara. Melalui sektor transportasi ini, saya ingin ikut berkontribusi memajukan ekonomi negara. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)