Chusnunia Chalim, Wagub Milenial yang Soroti Kesehatan dan Pendidikan

Di usianya yang menginjak 37 tahun, Chusnunia Chalim yang akrab disapa Nunik, telah menduduki jabatan sebagai Wakil Gubernur, mendampingi Arinal Djunaidi Gubernur Lampung. Mereka dilantik pada 12 Juni 2019. Tak heran ia kini disorot sebagai Wagub milenial, juga sebagai perempuan pertama yang menjabat posisi tersebut.

Nunik memiliki pengalaman panjang dalam karier politik. Kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini sebelumnya pernah menjabat sebagai Wasekjen PKB, anggota DPR periode 2009-2014 dan 2014-2019, dan Bupati Lampung Timur 2015-2019.

Dalam menjalankan programnya, Nunik kerap menyoroti kesetaraan kaum perempuan, serta pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak. Hal ini yang juga disampaikannya dalam acara Seminar 100 Tahun Indonesia Jilid II bertemakan “Mimpi Tokoh Muda untuk Indonesia 2045” yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), di Jakarta.

Menurutnya, ada dua hal yang harus diperhatikan agar Indonesia bisa menghasilkan generasi emas sebagai pemimpin pada tahun 2045 mendatang, yaitu aspek Kesehatan dan Pendidikan.

“Kalau bicara tahun 2045 berarti kita bicara mengenai masa depan anak cucu. Semua bidang penting, tapi bagi saya khususnya pada kesehatan dan pendidikan. Ini adalah penentu kualitas Indonesia 2045” ujar perempuan kelahiran 12 Juli 1982 tersebut.

Ia mengatakan, di era perubahan yang cepat pada semua bidang karena teknologi, ironisnya masih ada wilayah yang angka kematian ibu dan balitanya tinggi dan kasus stunting. Ia berharap ke depannya agar kualitas kesehatan di semua level baik daerah maupun provinsi bisa merata, sudah tidak ada lagi kasus tersebut.

Terkait pendidikan, Nunik berharap agar isu yang dibicarakan tidak melulu mengenai kurikulum, tetapi menurutnya ada hal lain yang lebih mendesak yaitu infrastruktur sekolah dan akses terhadap pendidikan itu sendiri. Ia menyampaikan, masih banyak desa-desa yang memiliki infrastruktur sekolah yang buruk. Selain sekolah dasar juga keberadaan kampus yang masih ada hanya di perkotaan.

“Saya selalu sampaikan setiap bertemu pihak Kemendikbud. Akses pendidikan harus sampai ke desa. Kalau keduanya (kesehatan dan pendidikan) tidak terpenuhi bagaimana mau menghadapi bonus demografi,” ujar lulusan S3 Universitas Malaya tersebut.

Sejauh ini program yang dilaksanakannya untuk ikut mendukung pendidikan antara lain Smart School yakni mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas dunia pendidikan di Provinsi Lampung. Kemudian pembangunan SMK yang relevan dengan pertanian dan perkebunan karena ekonomi di Lampung paling banyak berasal dari sektor tersebut. Selain itu juga pada program-program beasiswa.

“Motivasi saya menjadi kepala daerah adalah karena dahulu saya juga merasakan betul susah-susahnya hidup di daerah saya, maka saya ingin membangun daerah saya ini,” ujar Ketua ILUNI UI wilayah Lampung tersebut.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)