Dian N. Abubakar Garap Bisnis PR untuk Startup

Mulai merintis karier di dunia Public Relation (PR)  sejak tahun 1998 membuat Dian Noeh Abubakar semakin mantap dengan bisnis yang ia jalani saat ini. Kennedy Voice & Berliner Public Relation adalah bendera bisnis yang ia kibarkan sejak 23 November 2011 lalu. “PR kita memiliki beberapa practice group yaitu Voice of Start Ups, Voice of FinTech, Digital Voice dan Socio Voice,” cerita Dian, Founder dan CEO Kennedy, Voice & Berliner (KVB).

“Saat ini, 80% client kami berasal dari big company. Dan 20% nya berasal dari start up dan venture capital firm juga ada,” sambungnya. Pergeseran client ini dinilai oleh wanita kelahiran tahun 1972. Sebab, menurutnya saat ini start up sedang dalam kondisi yang terus tumbuh dengan ekosistem yang juga semakin membaik.

IMG-20160405-WA0010Salah satu hal yang membedakan KVB dengan PR lainnya adalah adanya  Voice of Startups yaitu PR untuk start up, Voice of Fintech untuk teknologi dan Socio Voice  untuk Socio Enterpreneurship. “Fokus utama kami memang di corporate yaitu 80%. Tapi kami melihat potensi yag besar untuk bisnis start up yang terus naik karena market yang besar,” kata dia.

Voice of Startups sudah mulai dikembangkan sejak 2012 silam. Untuk program start up dan melayani client start up juga sudah dimulai sejak tahun  2012. Namun baru-baru ini tepatnya sejak Desember 2015, Dian tengah mempersiapkan forum www.voiceofstartups.org yang dikembangkan sebagai wadah untuk meletakkan artikel atau sebagai sarana untuk melakukan komunikasi dua arah  yang diperuntukkan bagi client KVB, student, start up dan beberapa company yang ingin melakukan sharing. “Sebenarnya forum itu sudah dapat digunakan dan sudah ada juga yang join, tapi saat ini masih ada beberapa hal yang ingin kami perbaiki,” jelasnya.

Dalam merintis bisnis tentunya tidak terlepas dari tantangan dan hambatan. Namun yang membedakan setiap bisnis adalah bagaimana sang owner menyikapi segala tantangan yang dihadapi. Menyerahkah? atau justru semakin semangat untuk menaklukan tantangan yang ada. Yang terjadi pada Dian adalah ia menganggap setiap tantangan menjadi hal yang ia sukai. “Saya suka dunia PR karena tantangannya kita berhadapan dengan manusia yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Tapi dari situ saya menjadi sangat suka karena saya harus terus belajar untuk bagaimana berkomunikasi yang baik, bagaimana untuk berbicara yang baik, dan bagiamana pula caranya agar PR benar-benar memahami perkembangan teknologi,” ceritanya.

Wanita yang gemar membaca buku-buku sastra lama dan berenang ini mengakui bahwa terdapat perbedaan antara client yang berasal dari big company dengan start up. “Kalau start up itu tidak semudah perusahaan besar. Karena kalau perusahaan besar kita sudah mengetahui bisnisnya seperti apa. Tapi kalau start up tidak jarang kita belum memahami bisnis mereka. Entah dari teknologinya atau bahkan ownernya sekalipun,”  katanya.

Namun hal tersebut tidak menjadi masalah baginya. Pasalnya bagi Dian setiap perusahaan baik itu besar atau masih start up sekalipun kunci utamanya adalah pada founder yang memiliki visi dan misi yang kuat. Di sisi lain bisnis yang dijalani juga harus memiliki impact yang kuat, tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk orang lain.  “Yang kami lihat dari start up biasanya adalah inovasi dan impact yang mereka buat,” tutupnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)