Drummer Wong Aksan Mencicipi Ekspor Gitar

Sjuman Aksa atau yang lebih dikenal Wong Aksan sudah mampu mengekspor gitar ke Jerman dan Korea Selatan sebanyak tiga unit. Pencapaian ini memang belum istimewa karena gitar yang dibesutnya itu diproduksi dalam jumlah terbatas. Menurut Wong Aksan, pemasaran gitarnya ke luar negeri itu hanya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth).

Ia menyebutkan, ekspor gitarnya itu menjadi tes pasar untuk menguji kualitas gitar dan respon konsumen. “Gitar elektonik dan akustik yang terjual di Jerman sudah ditaksir harganya. Harga gitar akustik ditaksir sekitar 2.000-2.500 euro, kalau yang gitar elektrik sekitar 1.500 euro,” kata Wong Aksan. Ia mengatakan, biasanya daya tahan dan kualitas gitar di Eropa akan mendapat pengakuan apabila lolos dari dua musim dingin. “Kalau gitar yang akustik di Jerman sudah lolos dari satu musim dingin, mudah-mudahan bisa bertaham di musim dingin berikutnya,” ungkapnya. 

Lebih lanjut, dia mengatakan pembeli di Jerman mengusulkan agar neck gitarnya didesain lebih besar sesuai tangan orang Eropa. “Ke depan, saya akan mempertimbangkan berbagai hal-hal teknis untuk menyesuaikan standar konsumen di Eropa,” tandasnya. Wong Aksan baru-baru ini mendirikan butik instrumen musik khusus gitar dan piano. Lokasinya berada di kawasan Kemang, Jakarta. Nama butiknya itu Indonesia's Boutique Instruments Shop dengan mengusung label Sjuman Instruments, yang pertamakali beroperasi sejak April 2015. Untuk produksinya, Sjuman membuat gitar dan pianonya di bengkel kerjanya (workshop) di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Dia menegaskan, Sjuman Instruments tidak memproduksi massal. Rata-rata kapasitas produksinya sebanyak satu unit per bulan. Bahkan, ada sebuah gitar diproduksinya dalam setahun. Harganya termasuk kelas premium.”Harganya memang mahal karena produksinya memang begitu,” katanya. Karena, kata Wong Aksan, seluruh produksinya mengandalkan ketrampilan tangan manusia. Kandungan lokalnya sebesar 90%. Misalnya pick up-nya buatan Ganee, knob, dan bridge buatan Aldridge di Malang, Jawa Timur. Komponen itu didesain khusus untuk gitar Sjuman Instruments. “Komponen yang diimpor bagian tuning pack buatan Gotoh,” ucap mantan penabuh drum grup Dewa 19 ini.

Wong Aksan mendirikan butik instrumen musik berlabel Sjuman Instruments. (Foto : Vicky Rachman/SWA) Wong Aksan mendirikan butik instrumen musik berlabel Sjuman Instruments. Gitarnya sudah terjual ke Jerman dan Korea Selatan. (Foto : Vicky Rachman/SWA)

Dia menuturkan, dirinya merancang gambar gitar. Tahapan berikutnya adalah memilih kayu untuk body dan leher (neck) gitar. “Saya membuat gitar dari kayu-kayu dan bahan-bahan pilihan, misalnya kayu kapal yang karam di Bali, atau kayu dari pohon buah yang roboh di Kebun Raya Bogor. Jadi, saya membuat gitar tanpa merusak lingkungan dan tidak menebang pohon,” katanya. Dia memesan kayu ke komunitas atau koleganya apabila menyediakan kayu dari pohon yang roboh atau limbah kayu. Lantaran demikian, Wong Aksan rajin memburu dan menghimpun informasi mengenai kayu-kayu daur ulang berkualitas tinggi.

Ornamen dan unsur alami yang tercipta dari kayu akan menambah nilai jual sebuah gitar. Itulah yang dicari Wong Aksan. “Seperti neck dari kayu kapal yang karam di Bali itu, terlihat nuansa berkarat dan terbakar,” katanya. Atau body dan neck gitar edisi Exotic Fruit dari pohon buah-buahan. Leher gitar itu terbuat dari kayu Bengkirai dan body-nya dari pohon kecapi

Sejauh ini, gitar yang dijualnya terdiri dari dua seri yaitu Sjuman Series dan Sjuman 3rd (third) Generation Series. Harga Sjuman Series berkisar Rp 15 juta-20 juta per unit dan Sjuman 3rd Generation Rp 10 juta-15 juta tiap unit. “Sejak bulan April, gitar yang sudah terjual sekitar 8 unit, termasuk gitar yang dibeli gitaris Nikita Dompas,” ia menambahkan. Gitar Sjuman Series terjual lima unit dan sisanya Sjuman 3rd Generation.

Ke depan, dia akan merilis Sjuman 2nd Generation Series yang harganya di bawah Rp 10 juta. “Banyak konsumen yang berminat dengan gitar ini tapi harganya mau lebih murah, nanti grade kayunya akan berbeda dan harganya sekitar Rp 7,5 juta dan akan diproduksi 10 unit sebagai tes pasar,” ungkapnya. Dia berencana merilisnya pada kuartal I tahun 2016. Wong Aksan juga berencana meningkatkan kapasitas produksinya menjadi dua unit per bulan untuk setiap seri gitarnya.

Ia sangat optimistis konsumen akan merespons positif gitar yang dijualnya. Gitarnya mengedepankan nilai artistik, spesifikasi teknis yang premium, dan proses produksinya ramah lingkungan. Dia mencontohkan sebuah gitar terbuat dari kayu yang unik, seperti gitar berbahan kayu Glodok yang menonjolkan ornamen alamiah dari kayu tersebut.”Konsumennya bukan konsumen yang umum, mereka ini konsumen yang mengapresiasi nilai artistik,” katanya.

Drummer band Potret ini juga memproduksi dan menjual piano. Dia bekerjasama dengan Frankie Lioe, teknisi dan pakar piano bersertifikasi internasional asal Jerman. “Frankie adalah orang Indonesia yang berkewarganegaraan Jeman,” ujar Wong Aksan.Dia mengatakan harga pianonya bervariasi mulai dari Rp 47 juta hingga Rp Rp 560 juta. Pengerjaanya manual dan presisi agar menghasilkan piano yang apik.

Wong Aksan mengatakan ,Sjuman Instruments memiliki unit bisnis lainnya bernama Sjuman School of Music yang menawarkan kelas pendidikan serta pelatihan merestorasi piano (Piano Technology). “Sejauh ini sudah ada tiga alumnus, nah mereka ini diharapkan bisa menjadi bagian dari restorasi. Mereka mendapat sertifikat yang menjamin legalitas mereka sebagai teknisi piano yang profesional,” tegasnya. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)