Eddy Tju Ingin Tingkatkan Value Company Faspay

Faspay memprediksi akan ada lebih banyak entrepreneur independen atau UKM di tahun 2016 yang memulai bisnis online bermodalkan media sosial seperti Instagram, di mana mereka menginginkan fasilitas pembayaran yang mudah dan cepat serta aman untuk mengembangkan bisnis mereka.

Subsidiary dari ASTEL Group yang berdiri sejak tahun 2003 ini juga mengintegrasikan lebih dari 200 toko online di Indonesia dengan berbagai payment channel yang dimiliki oleh Faspay. Saat ini sudah mencapai lebih dari 1 juta transaksi dengan total lebih dari Rp1 triliun per tahun.

“Tahun ini kami akan ekspansi. Yaitu menyediakan platfrorm, di mana penjual dapat memasukkan item, sehingga foto produk di sosial media bisa di klik dan diproses untuk kemudian customer mereka dapat melakukan pembelian dan pembayaran,” ungkap Eddy Tju, Head of Business Development Faspay.

Fastpay

Dengan berbekal pengalaman teknis dan bisnis selama 3 tahun, ia ditugaskan untuk bergabung di PT Media Indonusa (Faspay). Tugas awal yang dijalankan adalah melanjutkan dan meningkatkan efisiensi operasional untuk platform transaksi mobile banking serta meningkatkan relationship dengan main partners perusahaan. Setelah goal sebelumnya tercapai, ia mulai diberikan tugas menciptakan company value baru dengan jabatan Head of Business Development.

“Sebagai Head of Business Development, tanggung jawab utama saya adalah meningkatkan value company dengan cara antara lain meng-create business baru atau service /product baru serta melakukan improvement atas existing businesses,” ungkap pria lulusan University of Technology Sydney, jurusan International Business.

Semenjak menyelesaikan pendidikan dari Australia pada 2003, ia pulang ke Indonesia dan meniti karier di Jakarta. Banyaknya ruang untuk dikembangkan di Indonesialah yang menjadi alasan kuat untuk tidak menetap di luar negeri. Pekerjaan awalnya di Jakarta dimulai dengan Operation Manager dengan tugas utama penerapan komputerisasi pada sebuah perusahaan retail kacamata dengan jaringan nasional, mulai dari pengembangan sistem di kantor pusat hingga outlet di berbagai lokasi. Disana ia berhadapan dengan kondisi computer literacy organisasi yang sangat minim, bahkan masih ada yang belum mengerti cara menggunakan komputer.

Memasuki tahun 2005, ia memutuskan bergabung di perusahaan distributor pulsa nasional sebagai Sales & Marketing Manager. Pada awal karier, dia terlibat dengan proses konversi pulsa fisik menjadi pulsa elektronik bersama beberapa operator selular. Implementasi pulsa elektronik merubah banyak hal, mulai dari edukasi pengguna selular hingga pada bisnis proses distributor, termasuk cara berjualan.

Menurutnya,  pulsa elektronik mendorong perubahan cara berjualan yang konvensional menjadi cara yang digital, borderless dan realtime transaction. Ia dan tim mengembangkan sistem penjualan elektronik dan memulai rekrutment agen penjual secara online dari nol hingga mencapai lebih dari 200 ribu agen seluruh Indonesia.

Menjalani pekerjaan sebagai seorang business development baginya memiliki tantangan sendiri. Ia harus menyakinkan semua pihak atas ide baru yang dimiliki. Ide baru ini masih berbentuk mimpi yang harus dituangkan secara tertulis ke dalam konsep bisnis. Sering kali ide ini selalu di challenge dari berbagai pihak, namun positifnya adalah bila ide ini bisa melewati challenges tersebut maka semakin tinggi optimisme bahwa ide ini akan bisa dijalankan dengan sukses.

Sehingga penting baginya untuk selalu mengasah kemampuan dan kompetensi yang ia miliki, yaitu melalui learning dan networking. “Learning is a lifetime process. Secara formal, saya sering mengikuti event/seminar untuk mendapatkan industry insight atau trend. Namun informal learning juga sangat membantu, ini yang banyak saya dapatkan dari networking dengan rekan-rekan bisnis. Ibaratnya jika mengikuti seminar kita dapat teori, maka networking kita dapat pelajaran praktek yang kita dengar dari orang-orang yang telah melakukannya,” tuturnya.

Beberapa pencapaian seperti efisiensi operasional, peningkatan relationship dengan partners dan merchants serta beberapa new payment services pun sudah ia dapatkan. Ke depannya ia juga berusaha agar hasil kerja ini juga dapat memiliki impact kepada masyarakat. Ia mengatakan, untuk mencapai target harus memulainya dengan mendengar, melihat kondisi atau fakta yang ada agar dapat mengetahui kesulitan apa yang dihadapi. Berdasarkan fakta tersebut, baru di-carikan solusi untuk kesulitan tersebut. “Tentunya sebelum di launching, solusi tersebut harus melewati proses market research, perhitungan potensi business, pengembangan business proses hingga quality control,” tutupnya lugas.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)