Edy Mengolah Sampah Berbasis Ekonomi

Berkarya di usia muda seyogyanya dimulai melalui hal yang kecil terlebih dahulu. Salah satunya bisa dimulai dengan lingkungan sekitar. Hal inilah yang dicoba Edy Fajar Prasetyo, mahasiswa Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah, dalam mengelola E-B-I Bag. Usaha ini dimulai karena ia prihatin dengan lingkungan tempat tinggalnya, di mana sampah menjadi pemandangannya sehari-hari.

Ia pun akhirnya berinisatif untuk mengajak warga di lingkungan tempat tinggalnya di Ciledug, Tangerang, untuk mengelola sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai jual. Namun niat baiknya di pengujung 2013 tersebut, rupanya tak mendapat apresiasi yang baik. “Apresiasi masyarakat rendah, mungkin memang mindsetnya yang sulit diubah atau memang pendekatan kami yang salah," keluhnya prihatin.

Edy

Akhirnya ia pun mencoba pendekatan yang berbeda dengan mendekati tokoh masyarakat di daerah Ciputat, daerah tempatnya menimba ilmu. Ia pun juga mulai mencari teman, usaha yang tadinya dimulai sendiri kini mulai berbentuk tim berjumlah 5 orang dengan seorang ibu-ibu sebagai representative warga sekitar.

Menurutnya keterlibatan warga sebagai anggota tim dapat memberikan apreasiasi yang positif dari masyarakat. Pria yang mengambil jurusan Sainstek Teknologi Jurusan Pertanian ini, juga mulai mendekati masyarakat untuk ikut bergabung dalam usahanya. Hingga saat ini sudah ada 12 orang ibu-ibu rumah tangga yang ikut berpartisipasi dalam usahanya ini. Bisnis ini sendiri merupakan bagian dari program Petaka yaitu Pemberdayaan tenaga kreatif, di mana ia dan kawan-kawannya memberikan pemberdayaan soft skill kepada ibu-ibu non-produktif.

Para ibu dilatih untuk membuat berbagai tas, dompet, cluct, tempat botol, tempat tissue, dari sampah plastik. Seorang ibu bisa membuat 3 dompet dalam satu bulan, sehingga kuantitas produksinya cukup memenuhi.

Untuk mendapatkan sampah anorganik, ia bergantung pada tangan-tangan pertama, yaitu dari sampah yang telah dipilah. Pria yang kuliah di tahun 2011 ini lalu membuat program Gerakan GPS yaitu gerakan pilah sampah, sehingga sampah yang datang sudah dipilah terlebih dahulu.

Limbah anorganik ini nantinya akan dipilih dan disesuaikan hanya pada satu kemasan saja, sehingga warna atau motif pada produk kerajinan menjadi homogen. Untuk itu ia dan kawan-kawannya melakukan pemetaan di Jakarta untuk spesialisasi sampah. Missal saja spesialis bungkusan masak di Daerah Tangerang, bungkus kopi daerah Jakarta, dll.

Selain itu ia juga mengembangkan program CLBK yaitu cerdas luar biasa kreatif dimana ia mengintregrasikan antara aspek lingkungan dengan pendidikan. Ia membuka serambi yaitu eras sekolah membaca ebi dimana anak-anak bisa belajar membaca secara informal asalkan mereka menyumbang sampah yang sudah mereka pilah.

Ia bhakan pernah menerima kunjungan dari Summer School Antrewp Belgium University yang tertarik dengan program berbasis lingkungan yang ia buat. “Mereka belajar membuat kerajinan di tempat kami,” ujarnya dengan nada bangga. Hingga saat ini penjualan produknya sendiri masih terbatas di website www.edibag.com, instagram, dan fan page mereka.

Menurut kelahiran tahun 1992 ini pasar yang ia tuju merupakan pasar dengan market yang spesifik sehingga ia harus pintar dalam membuka pasarnya sendiri. “Biasnaya aku bundling, kalau mengisi workshop aku suka buka booth untuk jualan produk,” jelasnya.  Pasar ini cenderung fluktuatif, omsetnya mencapai Rp 3 hingga 5 juta perbulan, meskipun ia pernah menembus angka Rp 12 juta.

Ke depannya, ia ingin membuat marke tplace yang bisa mewadahi kreativitas dari pemanfaatn limbah atau social empowerment. Selain itu ia pun ingin membuka toko virtual, namun hal tersebut masih terkendala dengan investasi. Ia juga ingin mengembangkan manajemen sampah dari hulu ke hilir dan sehingga sampah bisa jadi lebih termanfaatkan (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)