Elisabeth Listiyani, Eksekutif Wanita Termuda DBS Indonesia 

VP Head of Information Technology Governance PT Bank DBS Indonesia, Elisabeth Listiyani.

Menjadi Vice President (VP) termuda di Bank DBS Indonesia, perempuan 32 tahun ini justru tertantang lebih berprestasi. Dengan posisi VP divisi Teknologi Informasi (TI),  Elisabeth Listiyani bertanggung jawab sebagai VP Head of Information Technology Governance di bank asal Singapura itu. Pun, ia tergolong satu-satunya VP wanita di tim TI DBS Indonesia.

Lulusan TI dari Fontys Hogenscolen, Belanda, tahun 2010, Elisabeth mengawali kariermya di DBS Indonesaia melalui program management trainee. Sempat mengalami rotasi ke beberapa divisi, tahun 2011, ia ditempatkan di divisi TI sebagai IT PMO & Financial Controller.

Kariernya di DBS Indonesia cukup cemerlang. Lihat saja, tahun 2014 ia dipromosikan menjadi Asisten VP (AVP) Technology & Operations Biz Office and Project Management. Tiga tahun kemudian, ia menjadi AVP IT Governance dan akhirnya diangkat menjadi VP IT Governance yang berkecimpung di area risk management, peraturan OJK & BI, dan sisi controlling. “Seringkali IT Governance dianggap sebagai partner tim IT di perbankan, jadi kami yang menjaga agar tim TI masih di dalam koridor aturan-aturan yang berlaku,” jelasnya.

Menurutnya, di era digital bank memiliki banyak tantangan bisnis untuk berkompetisi tidak hanya sesama bank,  tetapi juga dengan financial technology dan perusahaan startup dengan produk keuangan yang beragam. “Menjawab tantangan tersebut, saya melihat dari sisi IT yaitu bagaimana IT menjadi strategic business partner yang bersifat proaktif dalam hal IT Governance, sistem yang agile untuk menjawab kebutuhan bisnis dengan cepat, dan mampu beradaptasi ketika bisnis memerlukan suatu produk dan layanan yang baru,” ungkapnya.

Sebagai pemimpin, tantangan menjalankan tugasnya adalah bagaimana timnya harus paham bisnis proses secara keseluruhan dan mencapai tujuan bisnis. “Tim TI tidak lagi sekadar mengerjakan order dari bisnis untuk suatu proyek sehingga harus tau arah core bisnisnya. Kacamata yang dipakai adalah kacamata bisnis dengan peran TI yang membantu,” jelasnya. Saat ini, ia memiliki anggota tim TI sebanyak 12 orang dan 30 orang berada di bawahnya langsung.

Prestasinya selama di DBS Indonesia adalah proyek integrasi akuisisi ANZ oleh DBS. Dirinya ikut terlibat dalam tim yang harus mengubah 25 cabang ANZ ke dalam sistem DBS dalam waktu tiga hari dua malam. “Peran saya memimpin deployment di bagian TI agar semua berjalan dengan baik,” ujarnya. Ia juga berusaha untuk memberikan delivery program pada timnya secara baik, memahami arah proyek dengan visi dan tujuan yang jelas.

Elisabeth begitu perhatian terhadap pengembangan diri bagi timnya. Ia selalu berharap dapat meraih benefit bagi sumber daya manusia  melalui target perusahaan yang dicapai. Baginya, kini divisi TI harus align dan mendukung bisnis DBS Indonesia. “Saya terus mendorong tim untuk terus belajar melalui training dan sertifikasi sebagai upaya memahami dunia yang lebih besar lagi,” ujarnya berharap.

 

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!