Elsophia Sarumaha, Terus Belajar Untuk Raih Prestasi Puncak

Menekuni pekerjaan sesuai dengan minat dan latar belakang pendidikan adalah impian semua orang. Namun, pada kenyataannya tidak semua orang mendapatkan itu. Dalam dunia nyata, banyak orang yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan. Misalnya, seorang sarjana pertanian justru bekerja di bidang pemasaran. Seperti Elsophia Sarumaha yang sudah mengabdikan hidupnya selama 10 tahun untuk PT Pupuk Kujang. Lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini tak putus asa ketika ditempatkan di Divisi Marketing. Ia juga dipindah-pindah ke divisi lain selama periode tersebut. Ia justru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menimba ilmu. “Saya lulusan pertanian, tapi juga harus belajar tentang dunia pemasaran di posisi saat ini. Meskipun begitu, saya merasa senang mendapat kesempatan hingga mendapat ilmunya,” ujarnya.

Elsophia yang menghabiskan masa kecilnya di Nias sampai tahun 2000 itu lulus dari Jurusan Pertanian, IPB pada tahun 2005. Ia diterima sebagai Fertilizer Product Research Supervisor di Divisi Riset Produk, di PT Pupuk Kujang. Pada tahun 2009, ia dipindah ke Divisi Marketing sebagai Promotion and Market Research Supervisor. Setahun kemudian, ia dipromosikan sebagai Promotion and Customer Services Superintendent, masih di divisi yang sama hingga tahun 2012.

Elsophia Sarumaha, Team Leader of Researcher of Crop Manager Project at Irrigated Land, PT Pupuk Kujang Elsophia Sarumaha, Team Leader of Researcher of Crop Manager Project at Irrigated Land, PT Pupuk Kujang

Wanita kelahiran Nias, Sumatera Utara itu kemudian dipindahkan ke Marketing Planning Superintendent sampai tahun 2014. Kemudian, dipercaya menjadi Marketing Planning and Promotion Manager masih di tahun yang sama. Saat ini, ia menempati dua posisi, yaitu Team Leader of Researcher of Crop Manager Project at Irrigated Land dan Deputy of Business Development General Manager. “Saya mendapat amanah mengerjakan proyek untuk membuat distributor kami tak hanya membeli pupuk. Tetapi, juga melatih mereka mengembangkan bisnisnya sendiri agar terus maju,” ujarnya.

Meski begitu, ia menghadapi banyak tantangan. Seperti, pengembangan SDM yang belum in line dengan visi perusahaan. Budaya kerja karyawan di perusahaan juga masih lambat, termasuk birokasi yang panjang. Biaya produksi yang tinggi juga menjadi tantangan. Belum adanya bisnis lain selain bisnis urea dan ammonia juga menjadi hambatan tersendiri. Saat ini bisnis pupuk bersubsidi sudah tidak menarik lagi. “Cita-cita saya, ingin menjadikan PT Pupuk Kujang dari produsen pupuk menjadi perusahaan yang mengintegrasikan bisnis agrokimia dengan trading dalam skala nasional dan internasional dalam waktu lima tahun,” ujarnya.

Untuk mengatasi sederet tantangan tersebut, Elsophia mengaku pantang menyerah dan selalu mencari jalan terbaik sebagai solusi. Dengan berbekal kreativitas dan keinginannya untuk terus belajar, ia bisa bangkit dari keterpurukan untuk kembali berprestasi dan memberi kontribusi terbaik untuk Pupuk Kujang. “Mungkin karena saya perempuan, sementara di manufaktur didominasi pria. Saya harus struggle untuk bersaing dengan mereka. Karena saya masih muda, kadang dianggap senior belum siap. Butuh tenaga ekstra untuk meyakinkan mereka bahwa saya mampu,” katanya. (Reportase: Lia Amelia Martin )

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)