Empat Sekawan Kantongi Omset Rp1,8 Miliar dari Growbox

Pernah mendapat souvenir berupa kardus berisi bibit jamur ? Atau pernah mencoba menumbuhkan jamur tiram di rumah? Pasti semua akan berpikir, mana mungkin, butuh tempat, modal besar, bibit yang banyak, dan hambatan lainnya. Tetapi empat anak muda dari Bandung ini berhasil membuat semua hambatan tadi “lenyap” dan Anda bisa menumbuhkan jamur tiram di rumah dari dalam sebuah kotak ajaib yang bernama Growbox. Annisa Wibi Ismarlanti (lulusan jurusa Ekonomi, Universitas Padjajaran 2012) dan tiga rekannya dari jurusan Arsitektur ITB 2012, yakni Ronaldiaz Hartantyo, Adi Reza Nugroho dan Robbi Zidna Ilman, berbagi kisah mereka membangun Growbox. Bagaimana bisnis tersebut bisa tumbuh dan berkembang? Berikut wawancara reporter SWA Online, Arie Liliyah dengan Annisa dan Ronaldiaz di Senayan, beberapa waktu lalu.

Bagaimana awalnya bisa membangun bisnis ini ?

Akhir tahun 2012, waktu itu kami baru lulus kuliah, lalu berniat wirausaha dan fokusnya ke agrikultur, jadi cita-cita kami ingin membuat pertanian yang keren, yang diminati anak muda dan bisa diaplikasi dimana saja. Sebelumnya kan secara umum orang-orang menganggap pertanian itu terbelakang dan tidak menarik. Lalu kami mendapat ide, budidaya jamur yang praktis. Kenapa jamur? Sejujurnya karena kalau tanaman lain seperti sayuran, potensi gagal tumbuhnya besar, kami menghindari itu hehe... kalau jamur, tanpa diberikan perawatan khusus pun akan tumbuh, terutama jamur tiram. Kami lalu bikin media tanam yang diberi bibit jamur kemudian dikemas dalam boks karton yang didesain menarik.

Berapa modal awalnya ?

Modal awalnya Rp 2 juta, kami patungan masing-masing Rp 500 ribu. Nah, kebetulan kami sebelumnya punya proyek dan diikutkan dalam sebuah pameran di Singapura, maka saat ikut pameran itu kami bawa produk jamur tiram itu yang diberi nama Growbox. Di sana, cukup laris, kami bawa 10 boks laku semua dengan harga 10 dollar Singapura. Dari sana kami mulai yakin, produk ini prospektif, lalu mulai produksi lagi dan tawarkan lewat online serta pameran. Pokoknya setiap ada pameran di mana saja yang kami boleh ikut, pasti tidak akan kami lewatkan. Tapi ya masih pakai modal patungan, rogoh kantong masing-masing. Akhirnya kami ketemu dengan beberapa perusahaan yang memberi bisnis coaching, salah satunya Shell Live Wire.

Sebelumnya produk Growbox ini kami buat untuk semua kebutuhan, tetapi setelah ikut coaching class, akhirnya kami fokus Growbox ini khusus untuk gift product. Setelah itu, kami melihat setelah empat bulan ternyata si Growbox ini ada limbahnya, yakni bekas media tanam jamur tadi. Kami lalu berpikir, masa sih kami membuat bisnis yang menyumbang limbah? Akhirnya kami riset lagi, apakah limbahnya ini masih bisa dimanfaatkan? Lalu kami temukan bahwa limbah bekas tanam jamur bisa diolah menjadi materi untuk furnitur dan bahan bangunan pengganti batu bata, produk ini kami namakan Mycotech. Nah, lewat kelas bisnis coaching itu produk kedua kami, Mycotech ini kemudian juga dapat sambutan yang baik dari pihak inkubator bisnis, kami diberi tambahan modal untuk memperbesar skalanya. Dari skala laboratorium menjadi skala produksi cukup besar. Sekarang produksinya 1000 m2.

Sekarang untuk offlinen dipasarkan ke mana saja?

Kami sudah pasarkan di Goods Dept, Origin Kitchen, Siete Cafe dan kami juga buka outlet di kantor kami. Tetapi offline itu yang paling banyak adalah pameran. Sampai 2015 lalu kami sudah ikut lebih dari 20 pameran di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Bali dan Singapura.

Kalau pemasaran online sudah mencapai kota dan negara mana saja ?

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)