Erry Sunarli, Tingkatkan Kompetensi dari Kultur Perusahaan Korea

Menjadi profesional di perusahaan manufaktur bukanlah cita-cita Erry Sunarli. Sejak remaja, pria asal Tembilahan, Riau, ini bermimpi untuk menjadi seorang diplomat. Namun takdir berbicara lain, setelah menyabet gelar Sarjana Hubungan Internasional FISIP di Universitas Gadjah Mada, ia justru tercebur ke industri yang jauh dari keinginannya.

Erry mungkin satu dari ratusan profesional yang berkarier di luar jalur pendidikannya. Karier perdana eksekutif berusia 47 tahun ini dimulai sejak 22 tahun lalu di KMK Group, sebuah perusahaan manufaktur, pemasaran, perdagangan, recycle centre yang berbasis di Tangerang, Banten. Awalnya ia menjabat sebagai staf pemasaran, lalu naik posisinya di divisi informasi teknologi, personalia, dan sejak dua tahun lalu, pria murah senyum ini didapuk sebagai Vice President KMK Group yang membawahi 17.500 karyawan.

“Tadinya saya hanya ingin menimba ilmu setahun saja diperusahaan ini. Tapi lama-kelamaan saya merasakan chemistry dan minat yang cukup besar untuk membesarkan perusahaan ini,” ujar Erry.

Erry Sunarli, Vice President KMK Group Erry Sunarli, Vice President KMK Group

Bersama C.K Song, pendiri sekaligus pemilik perusahaan, Erry berjuang membesarkan KMK yang dulu hanya berawak 7 orang itu. Saat perjuangannya baru dimulai, godaan dari luar pun banyak menghampiri suami dari Dyah Nurhayati ini. Misalnya, tawaran bekerja di perusahaan yang lebih mapan, atau kembali meraih mimpi menjadi seorang diplomat. “Saat itu saya putuskan untuk fokus saja, tidak menengok kanan-kiri, agar tidak tergoda yang lain,” katanya menggambarkan.

Meski tidak menguasai ilmu pemasaran, Erry tidak tinggal diam. Selama tiga bulan ia belajar untuk meningkatkan kemampuan di bidang pemasaran, rantai pasok, ekspor, kualitas, serta negosiasi. Setiap tahun ia rutin mengikuti pelatihan di beberapa negara. Contohnya, tentang Environment, Safety, and Healthy di Tiongkok, Product Design and Product Integrity di Belanda, Creating and Leading a Culture of Innovation di Singapur, Recycle Centre Studies di Korea, dan masih banyak lagi. “Kuncinya jangan pernah berhenti belajar,” ungkap penggemar golf ini.

Kegigihan Erry akhirnya membuahkan hasil. Dalam waktu singkat, perusahaan asal Korea itu mendapat proyek pengerjaan sepatu Converse. Hingga pada tahun 1995 perusahaan ini dipercaya untuk mengerjakan merek sepatu dunia, Nike, untuk pasar ekspor. “Saat ini kami hanya mengerjakan 2 merek yakni Nike dan Converse. Semua produksi untuk pasar internasional, “ ujar Sekretaris Jendral Indo Bogey Golf ini menjelaskan.

Erry menerangkan, saat ini kapasitas produksi mencapai 1 juta pasang per bulan. Bisnis KMK Group pun kian membesar dengan merambah usaha perdagangan produk asal Jepang dan membesarkan merek sepatu Eagle, yang diakusisi beberapa tahun lalu. Ia mengklaim, KMK Group adalah salah satu perusahaan manufaktur terbaik di dunia berdasarkan standarisasi, kecanggihan teknologi, hingga tingkat keamanan dan mutu. Pada tahun 2012 perusahaan ini menyabet gelar Indonesia Best Corporate Transformation dari Majalah SWA.

KMK juga menempati peringkat teratas dalam pelayanan terhadap karyawan perempuan ditingkat nasional oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Kementerian Pemerdayaan Perempuan, dan Penghargaan Efisiensi Energi Nasional 2013 dari Kementerian ESDM. “Kami ingin perusahaan ini terus tumbuh dan sukses bersama karyawan-karyawan. Blue print perusahaan ini adalah tetap eksis 50 hingga 100 tahun ke depan,” harap Erry.

imageLalu, bagaimana gaya kepemimpinannya?.

“Gaya saya adalah role model. Kami selalu menekankan kepada manajemen, baik itu selevel direktur atau manajer bahwa setiap pimpinan itu adalah contoh bagi yang lain. Jadi, sikap dan tingkah laku akan diikuti oleh bawahan. Budaya itulah dijunjung tinggi diperusahaan Korea,” terang ayah dari Dhiandra Verdine Amanda (17) dan Eilena Verdine Nathania (14).

Gaya kepemimpinan itu diklaimnya mampu meningkatkan hubungan antara manajemen dan karyawan. Buktinya, saat banyak buruh perusahaan lain melakukan aksi demo untuk menuntut kenaikan upah dan kesejahteraan, tidak demikian dengan buruh di KMK Group. Menurutnya, keterbukaan komunikasi dapat meredam gejolak tersebut.

Bagi sebagian orang, bekerja dengan orang Korea mungkin menjadi momok yang menakutkan. Namun tidak demikian bagi Erry. Menurutnya, bekerja dengan orang dan perusahaan Korea adalah hal yang menyenangkan. Dari sana, ia banyak meningkatkan kompetensi khususnya etos kerja yang sangat dijunjung tinggi oleh perusahaan asal Negeri Ginseng tersebut.

Erry menjelaskan, bagaimana perusahaan Korea berkembang sangat pesat diseluruh dunia. Kunci kesuksesan perusahaan Korea, tandasnya, dipengaruhi oleh kultur confusion yang kental. Perusahaan Korea umumnya memiliki sistem hirarki yang tinggi dan terdesentralisasi dalam beberapa key people termasuk para manajer yang bisa membuat keputusan. Selain itu, budaya kerja keras, tekun, serta sikap optimis menjadi penentu keberhasilan perusahaan. “Kalau kita mampu mencontoh bagaimana mereka bekerja, saya yakin orang Indonesia akan siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015,” imbuhnya.

Konsistensi Erry untuk terus belajar nampaknya tidak pernah berhenti. Ia berharap, apa yang ia peroleh dapat memberikan inspirasi bagi karyawan dan banyak orang. “Dulu saya bukan siapa-siapa. Saya dari keluarga miskin dan orang tua pun tidak sanggup membiayai kuliah. Keluar dari kampung halaman untuk kuliah di Yogyakarta, lalu ke Jakarta adalah perjuangan hidup yang tidak terlupakan sampai sekarang,” kenang Erry 23 tahun lalu. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)