Erwin Setiawan, Ingin Jadi Regional Head Huawei

Dengan background pendidikan Teknik Industri dari Universitas Veteran Surabaya, Erwin Setiawan mantap memulai kariernya di bidang after sales service. Setelah selesai menamatkan pendidikannya di tahun 2001, Erwin  bergabung bersama PT Panggung Electric Corporation sebagai Kepala Sparepart. Selama dua tahun di sana, ia mendapatkan tugas untuk memastikan order sparepart untuk pemenuhan after sales service.

Setelah itu, ia pindah kerja di PT Cosmos Indonesia untuk produk home appliance sebagai Service Manager. Setelah 3 tahun, ia tiadk betah ddan mencari peruntungan lainnya. Pilihan jatuh ke ke Nokia Mobile sebagai Regional Service Manager. Di Nokia ia menghabiskan waktu cukup lama selama 10 tahun. Salah satu pencapaiannya selama berada di Nokia adalah mengembangkan jumlah service center yang dimiliki Nokia. “Pada saat saya masuk Nokia masih memiliki 80 service center. Dan selama 10 tahun saya d isana jumlah service center Nokia mencapai 120 service center,” ungkapnya.

erwin

Dunia after sales service diakui olehnya sangat menarik. Walaupun ia merintis kariernya di bidang yang saling berkaitan, disadari olehnya bukan berarti ia bisa berpuas diri dengan pengetahuan dan kemampuan yang ia miliki. “Pastinya saya learning by doing. Setiap saya berada di perusahaan yang berbeda, saya dibekali dengan beragam training seperti mengenai leadership dan vendor management karena setiap perusahaan pasti memiliki culture dan nilai yang berbeda,” cerita Erwin.

Kini pria kelahiran tahun 1978 ini, meneruskan perjalanan karierrnya di Huawei sebagai Service Director Business Device Department sejak tahun 2015. “Di sini tugas dan tanggung jawab saya berkaitan dengan semua kegiatan yang berhubungan dengan after sales, paling utama menjaga after sales agar tetap improve dan selalu berinovasi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Huawei masih tergolong brand yang masih muda di Indonesia. “Sejak tahun 2011 kami masih stagnan dan mulai berkembang di tahun 2015 lalu. Jadi tugas saya juga memastikan ketersediaan sparepart, management vendor atau supplier kami terjaga agar tetap sesuai dengan kualitas dan standar yang kami harapkan,” ujarnya.

Saat ini jumlah service center Huawei di Indonesia berjumlah 27, dengan 5 service center di antaranya adalah service center ekslusif yang hanya dikhususkan untuk produk Huawei. Meskipun sudah bekerja lebih dari 10 tahun di bidang ini, namun tantangan dari luar diri sendiri tidak dapat dielakkan. Terlebih di tengah kondisi perekonomian yang sempat memburuk. “Di awal tahun 2015 tantangan yang saya dan Huawei rasakan adalah dalam hal membangun service center yang membangun kepercayaan konsumen,” paparnya.

Di tahun 2016 ini tantangan tersebut mulai teratasi dengan cara mencari partner dan teknisi yang berkualias. Tujuannya  untuk membangun brand image Huawei. Cara lainnya, dengan membuat service center Huawei menjadi lebih 'terlihat' dan memindahkan lokasi yang tidak strategis ke lokasi yang lebih strategis.

Meskipun sudah mulai teratasi, di tahun 2016 tantangan lain juga harus dihadapi oleh Huawei. “Tantangannya di tahun ini adalah bagaiamana agar kami bisa memenuhi janji yang sudah diberikan kepada para kastumer. Kalau menurut saya, musuh terbesar kami bukanlah brand lain, melainkan janji kami sendiri kepada konsumen,” lanjutnya.

Bapak dengan satu orang putra dan satu orang putri ini mengaku impian ke depannya adalah bisa menjadi seorang Regional Head. Di tengah kesibukan pekerjaan yang sangat padat, ia tidak pernah melupakan hobinya untuk bermain basket dan tenis. “Selain karena saya suka olahraga, tapi itu juga harus tetap dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh,” ujarnya mengakhiri pembicaraan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)