Faisal Halimi, Eselon III yang Berbinis Kerupuk

Menjadi pegawai negeri sipil tidak membuat Faisal Halimi hilang hasrat untuk berbisnis.  Lahir dari keluarga pas-pasan membuat dia terbiasa memutar otak untuk mendapatkan penghasilan. Meski begitu kondisi saat ini berbeda, karena tujuan berbisnisnya tidak lagi sekadar mencukupi hidup, namun lebih kepada aktualisasi diri dan membantu sesama. “Orientasinya tidak selalu soal untung, karena alhamdulilah penghasilan saya sudah di atas cukup,” katanya ketika berbincang dengan SWA Online di Kementerian BUMN (29/7).

Meski jabatannya belum mentereng, atau Eselon III, Faisal mengatakan secara pendapatan, menjadi PNS Kementerian BUMN bisa dikatakan lebih beruntung dari pada PNS di instansi lain. Musababnya, di Kementerian ini, banyak pegawai yang memiliki kesempatan mencicipi jabatan komisaris di perusahaan-perusahaan BUMN. Ia pun kini tercatat sebagai komisaris PT Pupuk Sriwijaya, Palembang  setelah sebelumnya menduduki posisi yang sama di Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) .

Dari berbagai bisnis yang ia memiliki, salah satu bisnis yang saat ini masih berjalan adalah bisnis kerupuk. Ia memiliki pabrik pembuatan kerupuk di wilayah Ciracas, yang ia telah jalankan sejak tahun 2012 lalu. Meski ekspansi bisnisnya bisa dikatakan minim, namun secara keuntungan bisnis ini cukup menggiurkan. Omsetnya kisaran Rp 100 juta per bulan, dengan laba bersih sekitar kisaran Rp 20 Juta.

Faisal HalimiAwal mula menjalankan bisnis ini pun, ia katakan mulus tanpa hambatan berarti. Hal ini tak lain karena bisnis yang ia jalankan, tidak dimulai dari nol melainkan akuisisi pabrik kerupuk yang sebelumnya telah ada. Lewat kawannya bernama Katmin, ia mendapat kabar bahwa ada juragan kerupuk akan menjual pabriknya senila Rp 100 juta. “Itu sudah termasuk alat-alatnya tungku dan sebagainya, kecuali tanahnya,” ujarnya.

Awalnya Faisal enggan, untuk menaruh uang di bisnis tersebut, karena belum mendalami betul bisnis perkerupukan. Namun kemudian ia menjadi tertarik ketika melihat potensi bisnis yang telah dimiliki pabrik tersebut. “Persaingan bisnis kerupuk di sana (Ciracas) longgar, hanya ada satu pabrik. Itu pun konsumen serta pelanggannya sudah terbentuk,” ujarnya.

Pabrik tersebut kini telah memperkerjakan sekitar 30 pegawai dengan total produksi 300.000 kerupuk per bulan. Meski memperoleh laba bersih sekitar Rp20 juta per bulan, ia mengatakan tak seluruh uang hasil bisnis tersebut ia nikmati. Paling hanya 20 persen masuk kantong, karena sisanya ia berikan kepada Katmin, yang ia percayakan mengawasi operasional pabrik.  “Karena tujuan bisnis kerupuk ini salah satunya agar Katmin bisa mandiri secara finansial.”

Katmin sendiri merupakan kawan dekat yang ia kenal sejak 15 tahun. Ia mempercayakan penuh bisnisnya kepada Katmin, yang ia tahu betul berjiwa jujur dan ulet dan gigih. “Pendidikannya tidak terlalu tinggi, tapi kerja apa saja mau, dagang mie ayam pernah juga, apa aja pokoknya ia kerjakan," dia mengisahkan sosok sahabatnya itu.

Berkat bisnis usaha kerupuk itulah  ia mengatakan kesejahteraan keluarga Katmin membaik. Dari yang tidak memiliki apa-apa kini sudah berpenghasilan jauh dari cukup. Ia pun cukup senang bisa melihat Katmin membeli mobil sendiri.

Kini di usianya yang sudah genap 48 tahun Faisal masih punya mimpi untuk melebarkan sayap bisnisnya.  Di otaknya sudah begitu banyak ide-ide berbisnis yang siap direalisasikan ketika sudah memasuki masa pensiun. “Kalau sekarang bisnis, suka tidak fokus. Bisnis kerupuk misalnya, mungkin bisa lebih ekspansif kalau saya fokus terjun langsung. Makanya saya gregetan," ucapnya. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)