Gaya Dian S. Munaf Kelola Marketing BlitzMegaplex

Dia terinspirasi kisah sukses salah satu pelatih NBA, Patrick Riley. Bagaimana Riley mampu mengatur, mengarahkan, memotivasi timnya dan mengalahkan ego demi tercapainya tujuan tim.

“Dari buku biografi Riley itulah, saya belajar banyak bagaimana memimpin Divisi Marketing & Sales BlitzMegaplex,” ujar Dian Sunardi Munaf.

Dian merupakan lulusan FISIP Universitas Indonesia (UI) tahun 1998. Setelah lulus, perempuan kelahiran 6 Juli 1975 ini rajin mengambil kursus singkat di beberapa universitas, salah satunya kursus bisnis di University of California, Berkeley.

Di tahun 2001, ibu dari dua orang putri ini mendapat beasiswa dari Kedutaan Belanda untuk mengambil gelar Master of Art di Universitas Van Amsterdam, jurusan Studi Komunikasi.

Selepas lulus kuliah, Dian mengawali kariernya sebagai account officer di Ogilvy, salah satu perusahaan periklanan di Indonesia. Dia sukses menangani klien-klien besar seperti Nestle, Unilever, Telkomsel, dll.

Setelah dua tahun bersama Ogilvy, di tahun 2006 Dian ditawari menjabat posisi marketing manager di BlitzMegaPlex. Blitz sendiri saat itu belum buka. Baru di 2007, tepatnya bulan November, bioskop ini buka untuk pertama kalinya di Paris Van Java, Bandung. “Tugas awal saya waktu itu sangat menantang karena Blitz baru buka,” ujar atlet juara Woman Championship Wakeboarding ini.

Menantang karena Dian harus memperkenalkan BlitzMegaplex ke calon customer dan calon patner. Kepada calon customer dia dituntut untuk menjual Blitz ini ke masyarakat. “Supaya mereka yang sudah terbiasa nonton di tempat lain, mau mencoba Blitz dan pada akhirnya loyal nonton di Blitz. Selain itu, tugas saya memperkenalkan Blitz ke partner seperti bank, perusahaan-perusahaan telco, dan perusahan lain yang menjalin kerjasama dengan kami.”

Dianggap sukses menjalani tugasnya sebagai marketing manager, Dian kemudian dipercaya menjadi senior marketing manager, yang juga menangani sales. “Jadi tidak hanya bertanggungjawab terhadap promosi, tapi juga revenue. Sampai akhirnya tahun 2012 lalu saya diangkat menjadi Direktur Marketing,” ucapnya.

Selama berkarier di BlitzMegaplex, ada dua tantangan terberat yang harus ditaklukkan Dian. Pertama adalah bagaimana memperbesar jumlah penonton atau market share, kemudian tantangan kedua adalah memperbesar Blitz, bagaimana bioskop ini mampu melakukan ekspansi lokasi.

“Sebab tanpa ekspansi, maka penontonnya terbatas kapasitas yang ada saat ini saja. Jadi tantangannya adalah bagaimana membesarkan Blitz dari segi jumlah layar, jumlah penonton, market share, dari segi teknologi dan tentunya konten film-film yang ditayangkan,” jelasnya.

Saat ini BlitzMegaplex baru ada di sembilan lokasi, di Jakarta, Bandung, Surabaya, Tangerang, Bekasi, Batam dan Balikpapan. “Di 2013 kami berencana membuka dua lokasi lagi di Batam (Harbour Bay) dan Bekasi (Galaksi Mall).”

Menurut Dian, keuntungan yang dimiliki Blitzmegaplex adalah memiliki jumlah layar yang lebih banyak. Contohnya, di Grand Indonesia Blitz hadir dengan 11 layar. Dengan jumlah layar yang banyak tersebut memungkinkan untuk menampilkan lebih banyak konten, tidak hanya konten Hollywood, tapi juga konten-konten dari Asia, seperti film Mandarin, Thailand, Korea.

“Bahkan kami juga selalu bekerjasama dengan pusat kebudayaan dari negara-negara seperti Perancis, Turki, China, Jerman, dan Korea, untuk secara reguler menampilkan film-film negara mereka. Jadi lebih variatif,” jelas Dian.

Pangsa pasar film-film di luar Hollywood itu memang belum besar. Menurutnya, film Hollywood banyak diminati karena memang promosinya besar-besaran, sudah sangat populer, jadi biasanya responnya bagus. Kalau film-film di luar Hollywood penontonya memang kurang. Untuk Dian bertekad untuk mempromosikan film-film tersebut, terutama film nasional.

Bersama timnya, saat ini Dian terus berupaya menghadirkan BlitzMegaplex di lokasi-lokasi baru. Meski untuk mewujudkan hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Selama ini konsep Blitz adalah beyond movies, jadi tak hanya menampilkan tontonan tapi juga menyediakan pengalaman berbeda bagi customer, salah satu caranya adalah menyediakan one stop entertainment center.

Sebagai konsekuensinya Blitz harus menyediakan ruang yang lebih besar, terutama dalam konsep megaplex maka layar yang digunakan lebih banyak dan lebih besar.

“Meski begitu kami tidak menutup kemungkinan bila ada demand atau potensi di satu lokasi yang tidak punya ruang besar, contohnya di Pacific Place, Jakarta. Di sana size-nya lebih kecil, hanya delapan layar dan secara kapasitas tempat duduk lebih sedikit. Kami tetap buka di sana karena kami ingin menyediakan sarana cinema di bisnis area. Contoh lain di Batam dan Balikpapan, kami hanya punya 4 sampai 6 layar. Populasi di sana juga tidak terlalu besar.

Blitz juga tidak menutup kemungkinan untuk head to head dengan kompetitor dalam satu mal. “Asal pengelola mall nya mau terbuka, kenapa tidak?” tegas Dian. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)