Hadi Kuncoro, Asyik Urus Logistik

Biaya logistik di Indonesia termasuk yang paling mahal di Asia. Komponen tersebut mencapai 27% dari harga jual produk. Inilah yang membuat profesi di bidang logistik kini menjadi buruan nomor satu, terutama untuk para pemain e-commerce.

“Paradigma masa lalu tentang logistik adalah tukang jaga barang di gudang dan tukang anter barang di delivery. Logistik adalah bidang yang membutuhkan sains karena bisa menjadi competitive advantage dalam bisnis,” kata Hadi Kuncoro, CEO aCommerce.

Menurut dia, logistik merupakan tantangan terbesar di industri e-commerce yang tumbuh pesat seiring tingginya penetrasi smartphone dan akses internet di Indonesia. Sumber daya di bidang ini juga masih terbatas. Sehingga, profesi ini masih menjadi rebutan.

Untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas, lanjut dia, Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mendirikan Sekolah Logistik dan Supply Chain yakni Sembada Pratama. Institusi pendidikan lain yang menawarkan program sejenis antara lain STT Telkom dan Universitas Widyatama.

Hadi Kuncloro, CEO aCommerce Hadi Kuncloro, CEO aCommerce

“Baru 5-10 tahun terakhir, sejak adanya asosiasi logistik yakni ALI, SCI (Supply Chain Indonesia), dan AFLI (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia), kami mulai gencar membangun pendidikan profesi untuk sertifikasi maupun masuk ke formal education,” ujar dia.

Ada sejumlah tantangan yang mesti dihadapi. Pertama, banyak perusahaan yang belum sadar akan pentingnya logistik dan supply chain dalam meningkatkan daya saing. Kedua, infrastruktur logistik dan transportasi di Indonesia terpusat di Pulau Jawa. Sehingga, pengiriman barang di luar Jawa menjadi sangat mahal.

“Karena pesawat atau kapal yang pulang tidak ada muatannya. Desain cetak biru logistik dan transportasi sejak zaman Belanda dan Orba sudah tidak valid. Sekarang, ada Sislognas yang diharapkan bisa menyelesaikan pemerataan distribusi,” kata Hadi yang sudah 18 tahun menggeluti bidang logistik.

Saat ini, pemerintah fokus membangun infrastruktur di daerah untuk mendukung pemerataan distribusi. Tantangan lainnya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang logistik dan transportasi. Selama ini, ilmu tentang logistik itu diberikan secara turun-temurun. Saat ini, sudah ada lembaga pendidikan profesi yang khusus.

“Tantangan terbesar lainnya adalah belum adanya koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah terkait regulasi di bidang logistik dan transportasi. Kesannya, ada mafia di daerah-daerah,” ujar dia.

Untuk menjadi seorang ahli di bidang logistik, lanjut dia, integritas adalah nomor satu mengingat aset inventory di gudang dan transportasi yang nilainya sangat mahal. Mereka juga harus memahami data dan bisa menganalisisnya, bukan hanya melihat dari tren yang terjadi. Jaringan sangat penting mengingat profesi ini membutuhkan sertifikasi khusus yang juga diakui dunia internasional.

“Kami punya program CSLP (Certified Supply Chain & Logistics Professional), CSM, CSLM untuk l evel manager. Kemudian, ada beberapa sertifikasi profesi lain maupun sertifikasi perusahaannya. Orang yang punya sertifikasi ini kariernya akan cepat berkembang,” kata dia. (Reportase: Syukron Ali)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)